Gambar ilustrasi oleh RDS, (Instagram: @ehriki_ - PIJARNews.ID).

PIJARNews.IDBatu, adalah kota yang mungkin bisa dikagumi banyak orang, kota ini terletak kurang lebih 871 meter di atas permukaan laut, di dalamnya terdapat banyak keindahan, kenyamanan dan kesejukan. Batu bukan daerah biasa, sudah sejak lama ia menjadi primadona bagi wisatawan lokal hingga mancanegara. Orang-orang Belanda menjulukinya “De Kleine Zwitserland” atau Swiss kecil.

Jika anda belum pernah mengunjungi Kota Batu, hanya sekadar untuk menikmati beragam bunga yang tumbuh dan bermekaran sepanjang musim, mendaki gunung, atau sekadar refreshing bersama kawan atau keluarga. Maka cobalah sesekali mengunjunginya, boleh jadi anda akan menemukan keindahan yang ada didalamnya: kesejukan, kenyamanan dan keindahan alamnya.

Seperti dikutip dari tirto.id. Pada 6 Maret 1993, Batu ditetapkan menjadi kota administratif, dan sejak tanggal 17 Oktober 2001, wilayah ini resmi berstatus kota otonom yang terpisah dari Kabupaten Malang. Ini bermula pada tahun 1993, dimana Kecamatan Batu mulai ditingkatkan statusnya menjadi Kota Administratif (Kotatif) pada 27 April 1993. Sering waktu, Kotatif Batu terus menunjukan peningkatan tiap tahunnya dan menunjukan layaknya daerah perkotaan. Terlebih Kotatif Batu juga ditunjang sarana dan prasarana perkotaan seperti jalan raya, bank, vila, pasar ataupun swalayan, sarana kesehatan, fasilitas pendidikan, PLN, PDAM dan sarana penunjang lainnya.

Batu memang memiliki keistimewaan dan barangkali itulah yang membuat Batu menjadi kota administratif tersendiri. Salah satu keistimewaannya yakni memiliki tipografi yang sebagian besar didominasi oleh kawasan dataran tinggi dan perbukitan yang berlembah-lembah, terletak di lereng dua pegunungan besar, yakni Arjuno-Welirang dan Butak-Kawi-Panderman. Gunung Panderman inilah merupakan bagian sejarah peradaban Kota Batu berawal. Dan bahkan, kota ini memiliki hamparan hutan lindung di utara pusat kota, bernama Taman Hutan Raya Raden Suerjo.

Muasal Peradaban Kota Batu

Selain Panderman, ada dua gunung lainnya yakni Gunung Butak dan Kawi. Jika kita perhatikan secara detail, kita akan menemukan ketiga gunung ini membentuk siluet putri tidur. Dimana Butak membentuk kepala, Kawi menggambarkan dada atau tangan, sedangkan Panderman mengilustrasikan bentuk kaki.

Seperti dikutip dari penelitian Handinoto, bertajuk “Perkembangan Kota Malang pada Zaman Kolonial (1914-1940)”, dalam jurnal dimensi (September 1996) terbitan Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Kristen Petra Surabaya, Memunculkan nama Karsten yang merupakan penasihat perencanaan Kota Malang pada 1929 hingga 1935.

Karsten melihat siluet putri tidur yang sangat indah dan menarik, yang terangkai dari tiga gunung di Batu. Ia kemudian membangun perumahan dan jalan di Kota Malang, yang kala itu diperuntukkan khusus bagi orang Belanda dengan latar belakang siluet putri tidur tersebut.

Lalu jika kita melihat peta Kecamatan Bumiaji di google map, kita akan mendapati Jl. A Ghonaim dan di sana kita akan menemui makam Mbah Batu. Kedua hal tersebut sangat berkaitan erat. Sebab, nama jalan itu (Abu Ghonaim) adalah Mbah Wastu atau Mbah Batu–yang kemudian disingkat Mbah Tu, dan sangat boleh jadi, penamaan daerah diambil dari namanya, Batu.

BACA JUGA :  Diduga Menyebar Hoax, Pejabat Pemkot Batu Laporkan Akun FB "May Munah"

Mbah Batu merupakan pejuang yang pernah dimiliki Indonesia, konon beliau adalah salah satu pengikut setia Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830). Beliau melakukan perang gerilya melawan pasukan Belanda, strategi gerilya inilah yang mengharuskan beliau dan pasukannya berlindung di Gunung Panderman. Dan disanalah beliau mbabat alas dan membangun peradaban, maka jadilah Kota Batu.

Agrowisata sebagai Sumber Perekonomian Masyarakat Batu

Jenis tanah yang berada di Kota Batu sebagian besar merupakan andosol, selanjutnya secara berurutan adalah kambisol, latosol dan aluvial. Tanahnya berupa tanah mekanis yang banyak mengandung mineral yang berasal dari ledakan gunung. Oleh karenanya, sifat tanah semacam ini mempunyai tingkat kesuburan yang tinggi.

Dengan melihat potensi sumber daya alam yang ada, Pemerintah Kota (Pemkot) Batu mengupayakan agar potensi yang ada tersebut dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya, maka dari itu Pemkot Batu melakukan pemberdayaan masyarakat di bidang hortikultura. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat dapat meningkatkan taraf hidupnya sendiri dengan menggunakan dan mengakses sumber daya setempat dengan sebaik mungkin. Proses tersebut menempatkan masyarakat sebagai pihak utama atau pusat pengembangan (people or community centered development).

Saat ini, budidaya tanaman hias dan bunga menjadi salah satu komoditas andalan pertanian Batu. Mawar Batu adalah salah satu produk terbaik yang laku keras di Surabaya, Bali, Jakarta dan Semarang. Selain itu bunga jenis krisan, anturium dan anggrek juga turut menyumbang perekonomian warganya yang mayoritas berprofesi sebagai petani dan pekerja kebun.

Berdasarkan sumber yang dihimpun dari Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota batu, ada 4 desa yang memproduksi tanaman hias, diantaranya Desa Bumiaji, Punten, Sidomulyo dan Tugurejo. Serta berdasarkan data Badan Pusat Statistik menunjukan pada tahun 2015, produksi bunga mawar mencapai 95.698.371 juta potong, disusul bunga krisan sebesar 32.976.893 potong. Selanjutnya ada anggrek dengan 1.426.664 potong dan anturium sebanyak 545.688 potong. Produksi bunga mawar meroket dibanding tahun-tahun sebelumnya yang hanya menghasilkan 29.654.690 potong pada 2014 dan 84.006.810 di tahun 2013.

Contohnya saat saya mengunjungi Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, saya mendapati banyak hamparan perkebunan bunga mawar beraneka warna seperti merah, putih, pink hingga oranye. Ternyata desa ini memang terkenal sebagai pusat penghasil bunga mawar, yang sejak lama telah memasok kebutuhan pasar bunga nasional.

(Penulis adalah Wartawan PIJARNews.ID, dan mentor jurnalistik di Ponpes Karangasem Paciran)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here