Ilustrasi Silvia Virda Susanti, M.Pd.I. (RDS/PIJARNews.ID)

Oleh: Silvia Virda Susanti*

PIJARNews.ID – Adakah manusia yang tidak pernah marah dalam hidupnya?, mungkin itu barisan para Nabi yang sudah teruji kesabarannya, seperti Nabi Yakub yang tidak tahu kabar anaknya – Yusuf – selama beberapa tahun, atau Nabi Muhammad SAW yang sangat banyak halangan ketika berdakwah.

Sebagai manusia biasa pasti pernah marah, akan tetapi cara pengendaliannya akan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Seperti seorang laki-laki yang sering diam atau memilih menjauh ketika marah, dan perempuan yang lebih banyak meluapkan marahnya dengan kata-kata setingkat Beta.

Ujian munculnya marah tentu bermacam-macam, seperti seorang guru ketika menghadapi kenakalan anak didik, guru bisa sabar dan adakalanya sepontan menjadi marah dengan kelakuan atau ucapan mereka. Sebagai guru saya juga pernah mendengar, generasi semakin kesini justru semakin lemah. Saya menyadari ucapan itu, bagaimana menurut kawan-kawan?. Akan tetapi tugas manusia tidak boleh meninggalkan generasi yang lemah.

Obyek pelampiasan marah kebanyakan adalah sesama manusia, jika ada kesempatan marah kepada benda mungkin seketika. Namun ijinkan saya berbagi, ada pelajaran yang saya dapat dari kajian psikologi manusia terkait pola pengasuhan Tuhan kepada manusia. Sumbernya adalah surat Al-Qur’an yang paling banyak kita baca sehari-hari, Al-fatihah.

Tiga ayat dimuka, terdapat tiga dimensi dalam kehidupan yang menerangkan bahwa Allah SWT adalah Tuhan Penguasa Alam, Maha Pengasih Penyayang dan Penguasa hari Pembalasan. Dimensi pertama adalah Kognitif, tentang keyakinan akan sifat Allah. Dimensi kedua adalah perilaku, yaitu kewajiban manusia untuk menyembah Allah dan dimensi ketiga adalah komunikasi, yaitu hak manusia untuk memohon pertolongan kepada Allah.

BACA JUGA :  Semakin Terjalnya Perjuangan Buruh

Akhirnya dari ketiga dimensi itu, manusia harus mengarah kepada permohonan jalan yang lurus. Jika manusia sudah pada jalan yang lurus maka akan mempunyai semangat kebaikan dan tidak mudah terpancing amarah.

Yakin, sembah dan mohonlah pertolongan, supaya kita ditempatkan pada jalan yang lurus. Dengan begitu, kita telah berupaya untuk tidak menjadi diri yang mudah marah dan sedih yang berlebihan. Dirasa-rasa marah akan membuang banyak energi dan menimbulkan penyesalan.

*) Guru SMP Muhammadiyah 17 Surabaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here