Fathan Faris Saputro. (Dok. PIJARNews.ID)

Oleh: Fathan Faris Saputro*

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rizkinya datang kepadaya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl: 112).

PIJARNews.ID – Ayat Al Qur’an yang dikutip di awal, telah bercerita kepada kita atas sebuah perumpamaan yang Allah berikan tentang negeri yang aman, tentram, makmur, damai dan sejahtera. Rakyatnya hidup dalam kebahagiaan. Namun berlangsung dari waktu ke waktu hingga suatu masa, Allah membalikkan keadaan tersebut. Allah menggantinya dengan kondisi kelaparan dan ketakutan yang merajalela. Suatu kondisi yang berlawanan 180 derajat dari keadaan semula.

Bukan tanpa alasan Allah memberikan itu semua, yang menjadi sebab musababnya adalah kekufuran penduduk negeri tersebut. Mereka mengingkari nikmat-nikmat yang Allah berikan. Kemudian, apa korelasi pembahasan ayat ini dengan kita, bangsa Indonesia?

Dalam tafsirul jalalain, Syaikh Jalaludin as-Suyuthi dan Syaikh Jalaluddin al-Mahalli menjelaskan bahwa negeri yang dimaksud adalah kota Makkah. Penduduknya yang ingkar terhadap risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW adalah penyebab terjadinya bencana kelaparan dan ketakutan tersebut. Walahu a’alam bishhawab.

Akan tetapi kita patut untuk bercermin dan intropeksi terhadap diri kita sendiri. Bukan tanpa alasan jika hal itu layak untuk kita lakukan. Pada hakikatnya, setiap hamba di mana dan kapan pun ia berada, selama masih berkutat dengan ruang dan waktu, maka wajib baginya untuk merenungi kehidupan ini. Tujuannya adalah untuk mensyukuri nikmat-nikmat Allah dan untuk kembali memotivasi diri agar selalu memperbaiki kualitas iman hidup.

Ini berlaku untuk semua hamba, tidak hanya kita rakyat Indonesia. Perbedaan yang menjadikan kita terdorong semakin kuat untuk mau mengkritisi hidup kita ini adalah karena kita merupakan bangsa Indonesia. Ya, karena kita Indonesai. Negeri ini mempunyai ciri-ciri yang disuratkan dalam ayat yang saya kutip diawal.

Begitu melimpah ruah kekayaan alam yang kita miliki. Seakan-akan tidak akan habis untuk kita manfaatkan. Sebut saja, produksi minyak kelapa sawit yang menduduki rangking pertama di dunia, produksi karet menjadi terbanyak kedua di dunia, produksi terbesar ketiga untuk kakao dan lain sebagainya. Ini merupakan nikmat yang besar sekali, yang sudah tentu wajib untuk kita syukuri.

Akan tetapi, di sisi lain, kita patut cemas dan mawas diri. Karena jika kita menilik ayat ke 112 dari surat an-Nahl tersebut, ternyata negeri ini tidak hanya mendapatkan kenikmatan yang melimpah tadi. Selain mendapat kenikmatan, negeri ini juga mendapatkan bencana, seperti apa yang dijelaskan dalam bagian terakhir ayat tersebut. Beberapa tahun terakhir ini kita terlampau sering mendengar dan mendapatkan kabar yang menyedihkan perihal bencana-bencana yang banyak terjadi di berbagai wilayah negeri ini.

BACA JUGA :  Tingkatkan Kualitas Kader, PCNA Purwoharjo Adakan Kajian Rutin

Gelombang air laut yang disebut tsunami, gempa bumi, kompleksitas penyakit, adalah beberapa contoh yang memaksa kita untuk bisa dengan lebih bijak dalam menjalani hidup ini. Allah dengan segala kekuasannya, bisa berbuat apa saja kepada kita, bangsa Indonesia. Jika berkehendak, terlalu mudah bagi Allah untuk memorak-pondakan negeri ini.

Memang, kita tidak tahu menahu apakah kejadian-kejadian yang menimpa negeri tercinta ini merupakan ujian dan cobaan? Atau bahkan hukuman?, yang harus kita sadari adalah, ini semua merupakan peringatan bagi kita, untuk membenahi diri kita sendiri, bangsa Indonesia pada umumnya.

Jika memang ini adalah ujian dan cobaan, maka ini adalah kesempatan kita untuk meraih derajat yang tinggi di hadapan Allah. Dan jika merujuk kepada hadis Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam. “Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memberinya cobaan”, maka kita akan masuk ke dalam golongan yang dicintai-Nya.

Namun jika yang terjadi adalah sebaliknya, bahwa ini semua merupakan hukuman Allah kepada kita, maka kita harus segera bertaubat dan memohon ampun kepada-Nya. Karena, saat Allah memberikan hukuman kepada suatu kaum tentu mempuyai alasan. Runtutan sebab dari turunnya hukuman itu sendiri. Jika yang dihukum itu adalah kita, na’udzu billah, dengan segala kejujuran, kita harus mengakui bahwa itu juga karena perbuatan kita sendiri.

Terlalu banyak untuk disebutkan satu per satu, perbuatan-perbuatan kita yang dapat mengundang hukuman Allah. Jadi, semua hukuman ini, jika memang benar ini hukuman, maka ini karena salah kita sendiri dan dari itu kita harus memperbaiki diri.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (ar-Ruum: 41). Apakah sejarah negeri ini adalah wujud real selanjutnya, selain kota Makkah, dari permisalan Allah tadi. Na’udzu billah tsumaa na’udzu billah.

“Ya Allah, Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa hamba-Mu ini dan juga dosa-dosa seluruh penduduk negeri ini! Jadikan dan masukkan kami ke dalam golongan hamba-hamba yang pandai mensyukuri nikmat-nikmat-Mu. Berilah kebaikan kepada kami, Bangsa Indonesia. Jadikan negeri ini sebagai baldatun thaiyyibatun wa rabbun ghafur. Aamiin…”.

*) Founder Rumah Baca Api Literasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here