Ilustrasi Silvia Virda Susanti, M.Pd.I. (RDS/PIJARNews.ID)

PIJARNews.ID – Sejak Penilaian Akhir Semester (PAS) berakhir, itu menjadi satu pintu pertama menuju kebebasan waktu selain belajar untuk anak-anak. Sepekan setelahnya adalah masa santai menurutku, dimana anak-anak tinggal menunggu pengumuman mengulang penilaian atau remedi untuk mata pelajaran tertentu. Tentu ini menyenangkan bagi mereka yang terbebas dari tagihan.

Sepekan hampir usai, pintu semakin terbuka untuk libur. Hari yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak semakin mendekat. Di hari terakhir efektif masuk, kegiatan anak-anak hanya sebentar di Sekolah, Sholat Dhuha berjamaah, Muraja’ah Ayat Kursi dilanjut dengan bersih-bersih lingkungan sekolah. Wakti itu, saya berkesempatan membagi pos-pos yang dibersihkan oleh anak-anak. Anak-anak kelas 9 tidak berkegiatan yang sama, mereka ada Try Out untuk persiapan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di tahun 2020 mendatang. Jadi, saya harus membagi anak-anak ke seluruh kelas agar bersih untuk kegiatan esok hari dan menjelang liburan.

Sekolah kami ada 4 tingkat, tingkat pertama kantor guru dan administrasi, Tingkat dua karena kebetulan kelas anak IX, saya meminta anak kelas VIII putri tanpa membagi siapa yang di kelas A atau B. Tanpa perintah mereka membagi sendiri siapa yang di kelas A dan B. Tersapu bersih dan kursi sudah diatas meja. Tingkat tiga saya khususkan untuk mereka yang laki-laki, sengaja tidak saya campur laki-laki dan perempuan membersihkan satu tempat. Saya takut anak laki-laki membebankan atau menyerahkan kepada anak perempuan untuk membersihkan.

BACA JUGA :  Dua Tempat

Ketika saya berkeliling, anak perempuan memang lebih bisa dipercaya masalah bersih-bersih tanpa harus bilang A, B, atau C. Ternyata anak laki-laki juga mau bekerjasama dengan temannya untuk bergantian menyapu dan mengepel kelasnya tanpa ada perempuan. Anak-anak yang biasanya tidak pernah mau piket kelas pun mau bergantian menyapu dan mengepel, entah karena iming-iming pulang cepat atau tulus bekerja. Tapi ini menjadi penting ketika mengenalkan penyamaan peran antara laki-laki dan perempuan tanpa harus membebankan salah satu pihak. Lamongan, 27 Desember 2019.

(Penulis adalah Guru SMP Muhammadiyah 17 Surabaya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here