Dzanur Roin, ilustrasi oleh RDS/ PIJARNews.ID.

PIJARNews.ID – Ali bin Abi Thalib, seorang sabahat, sepupu, sekaligus menantu Rasulullah SAW, ketika ditanya tentang jumlah teman. Beliau menjawab, “tunggu sampai saya terkena musibah”. Jawaban itu tidak ada hubungan langsung dengan pertanyaan yang diajukan. Akan tetapi, jika kita mau memikirkan lebih jauh dan mendalam, maka itu adalah jawaban yang sangat cerdas.

Dalam pikiran kita, itu pertanyaan sangat mudah untuk dijawab. Kita tinggal menyebutkan jumlah dari sahabat, teman, rekan, dan karib yang saban hari bertemu dan berkawan dengan kita. Bisa satu, sepuluh, dua puluh, lima puluh, seratus, bahkan mungkin hingga ribuan. Akan tetapi jawaban dari salah satu Khulafur Rasyidin tersebut adalah jawaban yang mengandung pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Setidaknya membuat kita berfikir, apa beliau tidak punya teman sehingga tidak bisa menyebutkan?, atau barang kali, karena terlalu banyak sahabat yang dimiliki sehingga tidak bisa menyebutkannya satu persatu?.

Dalam hidup ini, sungguh teramat banyak teman yang kita miliki. Mulai dari teman bermain, teman sebaya, teman sekolah, teman kerja, teman kantor, teman ngopi, teman curhat, teman seperjuangan, teman tapi mesra, bahkan sampai kepada teman hidup. Ketika kita sukses dan berada pada puncak karir, teman-teman kita akan datang penuh dengan sanjung dan puji, bahwa kau adalah teman sejati. Kau adalah teman saat suka dan duka. Tapi, apabila kita tidak bisa menunjukkan siapa kita?, jadi apa kita?, sebagai apa kita?, menjadi pejabat atau rakyat jelata?. Maka, saat-saat semacam itulah kau akan tahu, mana teman dekat dan mana teman jauh. Mana teman sejati dan mana teman sehati, mana teman semeja dan mana teman sekejap.

Maka, benarlah apa yang disampaikan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Ketika ditanya tentang berapa jumlah temanmu. Ali tidak menyebutkan jumlah. Akan tetapi justru dijawab. “Tungguhlah sampai saya terkena musibah”.

Teman yang hadir saat kita bahagia adalah teman yang fana. Teman yang ada saat kita bahagia adalah teman yang pura-pura. Teman yang sejati adalah teman yang mengingatkan kita akan kesalahan yang telah kita perbuat dan membantu kita untuk memperbaiki dan melakukan yang terbaik lagi bermanfaat.

Kawan, ketika anda sukses dan menjadi pejabat, banyak kawan dan teman yang datang memberikan selamat. Mulai dari kawan dekat sampai kawan yang nan jauh di mata. Dari mulai kawan yang kenal di jalan sampai kawan yang berjuang di jalan yang sama. Tempat di mana kamu menempuh pendidikan juga akan senang dan bangga kepadamu. Karena bisa melahirkan generasi yang hebat semacam pejabat dan orang ningkrat. Mereka dengan bangga akan mengakuimu sebagai alumni. Mulai dari pendidikan yang paling dasar sampai yang paling tinggi. Mereka akan berebut untuk mendatangkan kamu, untuk memberi ceramah dan motivasi supaya menjadi orang yang terpandang. Ketika saat-saat semacam itu melingkupi dirimu. Maka, bersyukurlah, pandanglah ini sebagai nikmat yang diberikan Allah. Bersabarlah dalam menjalaninya, karena bisa jadi ini ujian berupa kenikmatan yang suatu saat akan diambil kembali.

Tetaplah rendah hati tanpa memandang orang sebelah mata. Ingatlah, “satu tangan yang menyambutmu saat terluka lebih baik daripada seribu tangan yang menyambutmu saat bahagia”. Ribuan tepuk tangan hanya kebahagiaan sementara, yang hanya berlalu sekejap saja. Hadapi dengan tenang tanpa merasa bangga, bahwa ini adalah hasil dari jerih payahmu tetapi ini semua berkah dan rahmat dari yang Maha Kuasa. Dari Allah SWT, yang kita tak akan berdaya tanpa pertolongan-Nya.

BACA JUGA :  Bijak dalam Bermedsos

Tapi, sebaliknya jika keadaan kita dalam kondisi yang paling buruk, posisi kita berada dalam titik terendah. Dalam keadaan susah, payah dan nelangsa. Maka saat itulah kita tahu yang sesungguhnya siapa kawan yang sebenarnya. Kau akan merasakan siapa kawan, teman dan sahabat yang selalu menolong kita dan siapa yang hanya berpura-pura. Tidak ada yang mengaku mengenal kita, atupun bangga berkawan dengan kita. Semua akan menjauh, tak peduli dengan keadaan yang sedang kita rasakan. Jika keadaan semacam ini menimpahmu. Maka, tak usa bersedih, tak perlu berduka, apalagi berkeluh kesah kepada semua orang. Cukup jalani, nikmati dan syukuri. Dan jangan lupa berdo’a kepada Allah.

Ceritakan keluh kesahmu kepada Sang Khaliq, agar keadaan semacam ini cepat berlalu dan berganti dengan keadaan yang lebih baik lagi. Ingat jangan pernah putus asa. Nikmat Allah sangat dan teramat banyak yang sudah kita terima. Sabar dan syukur adalah kunci dan rumus menjalani kehidupan semacam ini. Jangan bersedih hati karena sesungguhnya kau tak sendiri. Allah selalu bersama kita.

Teman, kawan, sahabat, bukan dihitung dari jumlah banyak dan tidaknya. Bukan dari kuantitas persahabatan yang terjalin. Teman, kawan dan sahabat bukan orang yang selalu mendukung dan berada dibelakang kita saat kita salah. Tetapi, teman yang bisa mengajak kita kepada jalan kebenaran dan tidak sungkan ketika mengingatkan kita saat keliru. Bisa menasehati kita saat salah dan berucap dan berkata serta bertingkah. Kalau kita berteman dengan penjual minyak wangi, setidaknya kita akan ikut wangi karena berada di sekelilingnya. Tapi, jikalau kita berteman dengan tukang pandai besi, kita akan merasakan panasnya bara api.

Anda boleh berteman dengan siapapun dan di manapun asal bisa menjaga diri dan tentunya bisa memberikan manfaat, serta bisa menanamkan kebaikan. Kebaikan yang berguna di kehidupan dunia, terlebih lagi di akhirat. Anda juga boleh memilah dan memilih teman, itu semua tergantung dari pribadi masing-masing karena semuanya juga akan bertanggung jawab terhadap pilihanya sendiri. Baik dan buruknya anda dalam sebuah persahabatan, anda sendirilah yang akan merasakan. Jangan bersedih hati ketika temanmu sedikit, juga jangan congkak dan sombong ketika temanmu sangat banyak dan ada dimana-mana. Karena teman sejati ketika kita mati hanya amal ibadah kita.

Ngomong-ngomong soal teman, jadi ingat salah satu judul lagunya Bang Haji Rhoma Irama. Mungkinkah Bang Haji juga terisnpirasi dari ungkapan Ali bin Abi Tholib itu. Inilah Syair dari lagu tersebut;

Sahabat

Mencari teman memang mudah
Pabila untuk teman suka
Mencari teman tidak mudah
Pabila untuk teman duka

Banyak teman di meja makan
Teman waktu kita jaya
Tetapi dipintu penjara
Di sana teman tiada

Mencari teman memang mudah
Pabila untuk teman suka
Mencari teman tidak mudah
Pabila untuk teman duka

Sesungguhnya nilai teman yang saling setia lebih dari saudara
Itu hanya mungkin bila di antara kita seiman seagama
Seumpama tubuh ada yang terluka
Sakitlah semuanya

Itulah teman dalam taqwa
Satu irama selamanya
Itulah teman yang setia
Dari dunia sampai surga

Bila teman untuk dunia
Itu hanya sementara
Tapi teman dunia akhirat
Itu barulah sahabat.

(Penulis adalah Guru SD Muhammadiyah 12 Surabaya/SDM Dubes)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here