Nobar dan Diskusi Film Dokumenter The Bajau di WarkOpini Surabaya. (Angga/ PIJARNews.ID)

SURABAYA, PIJARNews.ID – Nonton Bareng (Nobar) film dokumenter “the bajau” dengan diiringi diskusi ringan, dilakukan oleh para penggiat dan pengunjung WarkOpini. Acara ini dimulai pukul 20.00 WIB yang bertempat di Jl. Sutorejo No. 89a Kota Surabaya, Kamis (16/1/2020).

Riki Dwi AS, Panitia Nobar menjelaskan, jika film dokumenter yang disutradarai oleh Dandhy Dwi Laksono ini, sudah diputar diberbagai tempat termasuk Kota Surabaya. “Ada beberapa tempat yang melakukan pemutaran film, salah satunya di WarkOpini. Usai sholat Isya’, para pengunjung sudah terlihat ramai datang untuk Nobar, mereka dari para pekerja, warga sekitar dan mahasiswa,” jelasnya.

The Bajau adalah film yang menceritakan tentang kehidupan Suku Bajo pada saat ini. “Suku Bajo sendiri, merupakan masyarakat yang mempunyai kehidupan di atas laut, laut menjadi tempat hidup, beraktifitas dan tinggal di atas perahu. Kehidupan mereka sejatinya sering berpindah-pindah mengikuti seiring berjalannya arus air laut,” terang Riki Dwi.

Lebih lanjut ia menjelaskan, selain itu juga ada beberapa kelompok Suku Bajo yang hidup di daratan, namun tidak jauh dari laut. Pada film tersebut, juga diperlihatkan bahwa beberapa tahun lalu, pemerintah Indonesia telah membuat kebijakan untuk memindah para orang Bajo.

“Yang pada awalnya hidup dilaut kemudian disuruh untuk hidup menetap di darat. Dengan alasan agar diberikan identitas, akses pendidikan dan beberapa jaminan yang lainnya. Jika dilihat lebih jeli, bahwa kebijakan itu justru akan menggeser ruang hidup dan budaya orang Bajo yang sudah lakukan bertahun-tahun,” ungkapnya.

BACA JUGA :  Menolak Rasisme, Sholikhul Huda: Ajak Bersatu Di Rumah Besar Indonesia

“Hal tersebut belum seberapa, jika dilihat pada kejadian penangkapan Suku Bajo. Terdapat sekitar 500 warga Suku Bajo di Kalimantan Timur ditangkap oleh aparat. Suku Bajo dianggap penduduk ilegal sebab tidak memiliki identitas yang jelas,” katanya.

Memang diperlihatkan pada film tersebut, bahwasannya kebijakan yang memindahkan Suku Bajo ke daratan tidak juga berdampak baik pada kehidupan mereka. Ketika, wilayah mereka mulai didatangi oleh para penambang. Aktivitas yang mereka lakukan di darat maupun di laut mulai terganggu dengan aktivitas para penambang. Air laut yang awalnya jernih kemudian menjadi keruh, bak air bercampur lumpur. Kemudian berdampak pada ikan laut yang hidup di sekitar, ikan-ikan itu mulai meninggalkan perairan mata pencaharian mereka.

Pada sesi akhir diskusi film, dapat diambil pelajaran bahwa manusia seharusnya sadar dan mulai berfikir tentang pengelolaan, bukan hanya konsumsi Sumber Daya Alam (SDA). Seperti Suku Bajo yang telah memperlihatkan bahwa mereka mengambil apa yang dimiliki alam secara secukupnya. Sesuai dengan kebutuhan untuk memenuhi hidup mereka, sebab itu akan menjaga sebuah keseimbangan manusia dengan alam.

Riki menambahkan, kedepan acara Nobar dan Diskusi di WarkOpini, bisa digelar pada bulan-bulan berikutnya. Hal ini juga digunakan untuk media silahturrahim antar kelompok muda, khususnya di lingkungan WarkOpini yang ada di Dukuh Sutorejo Surabaya.

Reporter: Angga | Editor: Suhartatok

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here