Hendra Hari Wahyudi (RDS/PIJARNews.ID)

PIJARNews.ID – Setiap keluarga pastinya membutuhkan kelengkapan anggotanya, dimana ada seorang bapak, ibu dan anak. Seorang suami dan istri sering kali ditanyakan tentang kehadiran seorang anak disaat usia pernikahannya sudah memasuki 1 tahunan, namun kadang pertanyaan tersebut justru menyakiti suami istri tadi. Kehadiran seorang anak memang menjadi dambaan setiap pasangan suami istri (pasutri). Anak menjadi perhiasan bahkan juga sebagai ujian bagi orang tua. Allah SWT berfirman:

“Dijadikan indah pada pandangan (manusia) kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali Imran: 14).

Anak merupakan titipan (amanah) dari Allah kepada orang tua. Ia merupakan pelengkap keluarga yang kelak akan menuntun kita ke surga. Allah SWT juga berfirman: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalah adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik menjadi harapan.” (Al Kahfi: 46).

Harapan orang tua adalah ingin anaknya menjadi lebih baik darinya, sehingga anak menjadi aset yang paling berharga bagi setiap orang tua. Ada ungkapan “Banyak anak banyak rejeki”, namun ada juga yang merasa “Banyak anak banyak tanggungan” dimana beban dan biaya hidup yang semakin banyak, apalagi dengan penghasilan yang pas-pasan.

Namun tugas orang tua adalah menjaga, mendidik anak kedalam kebaikan. Tidak ada orang tua yang menyuruh anaknya pada kebathilan, kecuali hati orang tua yang sudah tertutup dari rahmat Allah SWT. Sehingga senantiasa mengharap ridho Allah SWT adalah perkara yang wajib atas setiap orang tua yang beriman.

BACA JUGA :  Menjadi Pribadi yang Menunduk

Selain untuk aset masa depan kehidupan dunia, anak juga aset kehidupan akhirat. Dimana anak yang sholeh dan sholehah merupakan tabungan orang tua, anak yang baik akan menjadi penolong orang tua kelak. Dari Abu Hurairah berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jika manusia meninggal, maka terputuslah amalannya, kecuali tiga perkara; shadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shalih yang mendo’akannya”.

Sehingga kita sebagai orang tua harus waspada dalam mendidik dan mengarahkan anak, apalagi di era digital seperti sekarang ini. Dimana dunia sekarang ada dalam genggaman, anak tidak asing lagi dengan gadget dan internet yang bisa saja membuat mereka lupa akan kewajiban. Orang tua harus bisa menjadi kontrol, jangan sampai melalui sikap anak, Allah menjadi marah dengan kita. Sebagai orang tua harus bisa mengendalikan anak dan membimbingnya kepada ridho Allah.

Selain mendidik, orang tua juga harus memberikan teladan kepada anak, agar pepatah “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” menjadi realita, dimana jika orang tua berbuat baik, maka anak pun akan mengikutinya. Jika semuanya sudah kita lakukan demi anak, tinggal kita serahkan kepada Sang Maha Berkehendak, kita sempurnakan ikhtiar kita dengan berdoa, sebagaimana do’a dalam Al-Qur’an:

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Qs.al-Furqon: 74).

Semoga kita bisa menjadi sahabat, teman, orangtua dan guru yang baik bagi anak-anak kita. Sehingga anak kita bukan hanya menjadi aset kita dihari tua, namun juga sebagai aset dan tabungan kita dikehidupan akhirat. Aamiin.

(Penulis adalah Guru MIM 6 Tebluru, Solokuro Lamongan).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here