Fathan Faris Saputro. (Dok. PIJARNews.ID)

PIJARNews.ID – Syukur merupakan ungkapan yang berasal dari seorang hamba kepada Tuhannya, Allah subhanahuwa ta’ ala, yang telah memberikan banyak kenikmatan. Pemberian Allah memang bermacam-macam dan berbeda dari satu hamba ke hamba lainnya. Hal ini merupakan kebijakan dan hak preogatif Allah sebagai dzat yang maha memberi. Yang menjadi kewajiban bagi pihak hamba hanyalah mensyukurinya dengan sebenar-benarnya syukur, dalam hatinya, ucapannya, dan perbuatannya.

Namun yang sering menjadi permasalahan adalah bagaimana respon yang ditimbulkan dari perbedaan pemberian ini, yang banyak menjadi ukuran adalah harta dan benda sebagai simbol kekayaan. Bagi orang yang merasa kurang, dalam arti miskin, mereka akan menuduh Allah tidak ahli dengan tidak memberinya kelebihan harta, yang ada hanya kekurangan dan kesempitan hidup saja.

Bagi yang diberi kelebihan harta pun juga tetap mengeluh. Karena pada dasarnya manusia itu senang berlebih-lebihan dan selalu merasa kurang, bagi mereka yang telah menerima sesuatu yang lebih dari yang lainnya pun tetap meminta kelebihan. Dia merasa apa yang diterimanya belum ideal. Masih banyak kekurangan.

Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadits, yang mana hadits ini bisa kita jadikan petunjuk dalam menghadapi kerumitan masalah ini. Berkata kepada kami Abu Kuraib, bekata kepada kami Abu Mu’awiyah dan Waki’ dari A’masy dari Abi Shalih dari Abi Hurairah berkata, Rasulullah shallahuaalaihi wasallam bersabda, “Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu karena hal itu lebih patut agar engkau sekalian tidak menganggap rendah nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu”. (HR. Turmudzi).

Rasulullah saw memerintahkan umatnya untuk senantiasa menundukkan pandangan, dalam arti melihat orang-orang yang ada di bawahnya. Bawah di sini bisa diartikan sebagai orang yang lebih sedikit kepunyaan mereka atas harta benda, sebuah ukuran yang lebih banyak menjadi sebab musabab (dari pada sebab-sebab yang lainnya) ketika seseorang bertindak kufur akan nikmat-nikmat Allah.

Akan tetapi, jangan sampai juga dengan melihat ke bawah, lantas seseorang mengesampingkan pentingnya harta benda. Ajaran Islam sebagai pedoman hidup yang komprehensip tidak menafikan kedudukan harta dalam kehidupan. Islam sadar betul akan arti penting harta. Segala kebutuhan hidup sehingga seseorang itu bisa disebut hidup layak tentu membutuhkan harta.

Oleh karena itu, Islam sangat menganjurkan umatnya untuk bekerja keras guna memperoleh harta sehingga bisa mencapai taraf hidup yang layak. Bahkan, Islam juga memperbolehkan umatnya untuk mencapai tingkatan yang lebih tinggi dari pada hanya sekedar hidup layak saja. Jadi, sah-sah saja seorang muslim itu kaya raya.

Dalam kesempatan lain, Rasulullah saw juga bersabda, “Tiada kehasudan yang dibolehkan melainkan dalam dua macam perkara, yaitu: seseorang yang dikaruniai oleh Allah akan harta, kemudian ia mempergunakan harta tersebut dengan menafkahkannya untuk kebaikan dan seseorang yang dikaruniai oleh Allah akan ilmu pengetahuan, kemudian ia memberikan keputusan dengan ilmunya itu antara dua orang atau dua golongan yang berselisih serta mengajarkannya pula”. (HR. Bukhari).

BACA JUGA :  Sholikhul Huda: Indonesia Harus Waspada Terhadap Isu Konflik Hindu dan Islam di India

Hadits ini menjadi salah satu bukti bahwa Islam tidak melarang umatnya untuk mencapai kekayaan. Bahkan, golongan tersebut perkecualian bagi muslim lainnya yang ingin menaruh “Iri hati” kepada si kaya tersebut, selain satu golongan lagi yaitu orang-orang berilmu yang mengajarkan dan mengamalkan ilmunya, Iri hati di sini adalah iri hati yang positif, yang memberikan motivasi untuk bekerja lebih giat dan lebih baik.

Akan tetapi, ada hal yang harus digaris bawahi untuk selalu diingat dan diancam baik-baik. Orang kaya yang termasuk golongan yang telah disebutkan di atas adalah orang kaya yang mau mempergunakan hartanya di jalan kebaikan, selain juga memperolehnya juga dengan cara-cara yang baik dan halal. Catatan ini merupakan syarat yang tidak boleh ditinggalkan sehingga si kaya tadi masuk dalam satu dari dua kategori yang disebutkan oleh Nabi di atas.

Lantas, bagaimana dengan hadits Nabi yang memerintahkan umatnya untuk senantiasa melihat ke bawah, seperti yang telah diutarakan di atas? Hadis di atas menerangkan juga apa alasan seseorang itu disuruh untuk menundukkan pandangan ke bawah, tidak ke atas, yaitu supaya orang tersebut lebih bisa bersukur atas segala karunia yang telah Allah berikan kepada dirinya.

Jadi, pandangan ke bawah tersebut bukan merupakan sikap yang negatif, dalam arti bermalas-malasan dalam bekerja dan berlomba-lomba untuk menjadi dan meraih predikat sebagai orang yang paling miskin. Kita tetap harus bekerja untuk mencari harta, yang mana harta itu adalah modal kita untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup kita, dan lebih baik lagi jika kita dapat membantu orang-orang di sekeliling kita yang kekurangan.

Beriringan dengan kita berusaha dan bekerja, kita juga harus selalu menundukkan pandangan kita. Harus kita ingat bahwa di bawah kita masih banyak orang-orang yang membutuhkan bantuan kita. Secara otomatis, dapat dipahami bahwa kita sudah mendapat kelebihan, dari apa yang Allah berikan kepada kita daripada yang Allah berikan kepada mereka yang ada di bawah kita. Dengan begitu, diharapkan kita akan lebih mudah untuk bersyukur, tidak sebaliknya, kita menjadi kufur akan nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Semoga Allah memasukkan kita ke dalam salah satu atau dua golongan tadi sekaligus. Aamiin.

(Penulis adalah Founder Rumah Baca Api Literasi).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here