Hendra Hari Wahyudi (RDS/PIJARNews.ID)

PIJARNews.ID – Ikhlas, sebuah kata yang mudah secara pengucapan namun terasa sulit saat diterapkan. Berbagai kejadian dan masalah yang terjadi dalam kehidupan manusia membutuhkan keikhlasan. Sebelum mencapai kata ikhlas, manusia melewati rasa sabar yang kadang terlewat karena emosi yang mencuat.

Ikhlas adalah penerapan yang sangat sulit di zaman now, dimana sifat riya’ (pamer) demi menunjukan eksistensi sangat fulgar dipertonton oleh manusia di era digital ini. Mulai dari makan di restoran, saldo rekening yang banyak, sampai hal privat pun di perlihatkan di media sosial. Pada dasarnya, ikhlas sendiri sebagai landasan setiap insan dalam berinteraksi baik dengan sesama, maupun dengan Tuhan. Semua dilakukan atas tujuan ridho Allah swt, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah Allah dengan penuh keikhlasan kepada-Nya dalam menjalankan agama’.” (Q.S Az-Zumar: 11).

Jadi, hamba Allah swt yang beribadah selain niat, juga harus dibarengi dengan rasa keikhlasan didalamnya. Namun, sekarang terkadang sulit dilakukan, lebih sering kita update di media sosial seakan kita menunjukan bahwa telah atau sedang beribadah daripada mengutamakan keikhlasan tersebut. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak mau menerima amal kecuali amal yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah dan mencari keridlaan-Nya.” (HR. Nasai 6: 25).

Menengok dunia sepakbola, beberapa elemen suporter bola baik di Indonesia maupun luar negeri. Fans dari suatu klub sepakbola mendukung tim kesayangannya dengan rela melakukan apapun. Aliran suporter yang beragam, dari mania, holigan, hingga ultras, memberikan dukungannya tanpa adanya imbalan meski punya tujuan, yakni kemenangan bagi tim kebanggaannya, salah satunya suporter yang beraliran ultras. Ultras merupakan kata yang berasal dari bahasa latin yang bermakna ‘di luar kebiasaan’. Ultras bukanlah sekadar kumpulan suporter (tifosi) biasa melainkan kelompok suporter fanatik nan militan yang mengidentifikasikan secara sungguh-sungguh dengan segenap hasrat dan melibatkan sisi emosionalnya pada klub yang mereka dukung.

Ultras juga mempelopori suporter yang amat terorganisir (highly organized) dengan gaya dukung ‘teatrikal’ yang kemudian menjalar ke negara-negara lain, termasuk Indonesia. Di tribun, mereka menampilkan pertunjukan-pertunjukan spektakuler meliputi kostum yang terkoordinir, kibaran aneka bendera, spanduk dan panji raksasa, pertunjukan bom asap warna-warni, nyala kembang api (flares) dan koreografi. Kemenangan tim menjadi tujuan utamanya, dukungan yang tiada henti selama 90 menit mereka lakukan dengan berbagai cara dengan suka rela, tanpa imbalan. Mereka merogoh kocek dari sakunya sendiri, dari untuk membeli tiket sampai membuat kreasi yang lebih mainstrem disebut koreo. Mereka lakukan dengan ikhlas tanpa memikirkan banyaknya biaya, atau untuk mendapatkan imbalan dari klub tercintanya. Semua sama, dari apapun profesi dan derajat sosialnya, membaur diatas tribun tempat mereka berdiri. Namun terkadang, ‘ritual’ mereka kerap dilarang oleh FIFA dan PSSI, penggunaan flares dan smoke bomb dianggap mengganggu pertandingan dan juga keselamatan.

Tidak hanya di kandang, namun mereka rela mengeluarkan dana untuk tandang ke rumah tim lawan, mereka menyebutnya dengan “awaydays“. Tak peduli berapa lama waktu di perjalanan, berapa jarak, dan berapa rupiah mereka keluarkan. Di Indonesia sendiri, suporter yang beraliran Ultras ada hampir di seluruh klub Liga Indonesia, salah satunya suporter Ultras yang sudah terkenal adalah Brigata Curva Sud PSS Sleman, Curva Boys 1967 Persela Lamongan, dan lain-lainnya. Para fans ini seakan saling berlomba menunjukan kreativitas mereka di stadion. Sejatinya kompetisi mengajarkan kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan “fastabiqul khairat“. Terlepas dari masalah yang ada didunia persepakbolaan nasional, ada mereka yang selalu ada dan loyal, serta rela berkorban apapun dari biaya hingga nyawa demi klub kesayangannya. Rasanya semua itu akan sulit dilakukan kalau suporter bola tidak mempunyai rasa loyalitas dan juga keikhlasan.

BACA JUGA :  Khazanah Islam, Rasulullah Pun Berpeluh Sakit Saat Sakaratul Maut

Mengutip quote dari Bill Shankly yang mengatakan “Sepakbola bukan hanya tentang hidup dan mati, tapi lebih daripada itu semua”, kita bisa melihat, mereka dengan suka rela dan ikhlas mendukung tim kesayangannya dengan berbagai cara. Karena mungkin juga, dalam sepakbola hanya suporter yang rela melakukan apapun tanpa mendapatkan apapun, disaat pemain, managemen dan lainnya mendapatkan gaji lewat sepakbola. Hobi, cinta, dan dedikasilah yang membuat apa yang mereka lakukan dan berikan untuk klub kebanggaan semuanya dengan ikhlas.

Dari beberapa uraian tersebut, mungkin kita bisa mengaplikasikannya dalam keorganisasian dan kehidupan kita. Dimana Ultras mempunyai rasa keikhlasan yang tinggi, rasa semangat juang demi klub kebanggaannya, kreatifitas, kekompakan serta solidaritas yang tinggi. Ikhlas adalah dasar segala amal manusia di dunia, dan dengan ikhlas juga, pintu rahmat dan pertolongan Allah swt akan terbuka. Akankah kita bisa belajar dari Ultras? Seberapa loyal dan ikhlas kita dalam menjalani kehidupan baik dalam beribadah ataupun yang lainnya?. Bukan berarti saya mengatakan orang di Persyarikatan atau di organisasi tidak mempunyai keikhlasan, namun rasa ikhlas itu memang terasa teramat sulit didapat. Terhindar dari rasa ingin dipuji orang lain, merasa lebih baik dari orang lain, bahkan sampai menunjukan amalnya dihadapan orang lain memang sulit. Kembali kita berpegang pada niat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. …” (HR. Bukhari).

Maka niat dan ridho Allah itu sangat tergantung dari keikhlasan. Terkadang ada saja manusia yang mempunyai tujuan lain selain dari ridho Allah swt. Memang kita bisa belajar ikhlas dari segi atau hal apapun, namun kali ini mari kita coba belajar dari hal yang sederhana yang memberi dampak luar biasa, yakni suporter bola. Karena terkadang, sepakbola terutama pada pendukungnya dipandang sebelah mata bahkan cenderung negatif. Namun, sejatinya didalamnya terkandung banyak sekali pelajaran kehidupan. Ukhuwah, kebersamaan, solidaritas, loyalitas, bahkan sampai ilmu ikhlas.

(Penulis adalah Guru MIM 6 Tebluru Solokuro Lamongan).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here