Abdus Salam saat menyampaikan materi stadium general. (Wiwis/ PIJARNews.ID).

LAMONGAN, PIJARNews.ID – Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Babat, mengadakan Musyawarah Cabang (Musycab) ke-VIII, bertempat di SMP Muhammadiyah 26 Patihan Babat, Kabupaten Lamongan, Sabtu (25/01/2020) dimulai pada pukul 07.00 WIB.

Ketua PCPM Babat, Fastabiqul Khoirot mengucapkan banyak terima kasih pada seluruh tamu undangan dan para peserta yang telah hadir, “Terimakasih serta salam hormat kami kepada seluruh peserta dan tamu undangan yang telah hadir pada Musycab ini, semoga apa yang kita lakukan senantiasa mendapatkan ridha Allah swt.,” ucapnya dalam sesi sambutan.

Pembukaan acara dihadiri sekitar 100 peserta dengan undangan yang meliputi PDM Lamongan, Camat Babat, Kapolsek sekaligus Danramil, PDPM Lamongan, Nasyiatul ‘Aisyiyah, ‘Aisyiyah serta GP Ansor Kabupaten Lamongan.

Sebelum menginjak inti acara, terdapat sesi staduim general yang diisi oleh Abdus Salam, selaku Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) Jawa Timur yang memulai dengan membahas tema acara, yaitu ”Peran Dakwah Pemuda Muhammadiyah Dipusaran Politik Transaksional”.

Abdus Salam yang juga merupakan Dosen FISIP di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut, menjelaskan dengan membenarkan pilihan tema yang diusung panitia, “Memang benar jika kita mengutip buku karya Firmansyah yang berjudul Marketing Politik, dalam pemilu para calon DPR bukan ditanya akan melakukan apa saat mereka menjabat, tetapi berapa banyak uang yang mereka punya dan dibagikan pada masyarakat,” paparnya.

Fenomena itu disebutnya dengan istilah adanya ‘pembangkangan masyarakat’, hal tersebut juga akibat sifat partai politik yang seperti mobil mogok, “Artinya partai politik hanya mendekati pemilih saat membutuhkan dukungan atau dorongan sesaat dalam pemilu,” jelasanya.

BACA JUGA :  Kalangan Pelajar di Lamongan Bergerak Membuka Donasi hingga Bagikan Masker

“Sehingga parta politik sudah tidak berfungsi secara normal sejak dari rekrutmen,” ungkapnya lebih lanjut. Ia juga mencontohkan dengan melihat bagaimana profil ‘artis’ dalam partai politik yang lebih menjual daripada anggota partai militan yang berproses dari tingkat bawah.

Selain masalah pada partai politik, Ia mengatakan dalam masyarakat juga menyimpan penyakit politik, “Dimana masyarakat masyoritas juga masih mempertimbangkan uang daripada profil dan program calon anggota dewan, terbukti dari pengalaman survey yang pernah saya lakukan, banyak menemukan fenomena pindah pilihan hanya berdasarkan jumlah pemberian uang,” ungkapnya yang juga pernah bergabung di CSIS.

Baginya, Muhammadiyah yang membawa tagline Islam Berkemajuan, seharusnya bisa selaras dengan sikap politik yang dilakukan, baik secara organisasi maupun individu, yang bisa mencerminkan masyarakat dengan karekter “melek literasi” atau penuh kajian data dalam menentukan sikap politik.

Dengan begitu, akan berdapak pada kondisi yang disebut dengan melek politik, “Ongkos politik akan murah jika kesadaran melek politik itu tumbuh dan menjadi pilihan politik. Politik transaksiaonal tidak bisa dihindari, tapi bisa dirubah dari bentuk uang kedalam kontrak politik,” pungkasnya.

Reporter: Fahrul Wiwis
Penulis: Fahrul Wiwis
Editor: Suhartatok

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here