Akhmad Sholikin, ilustrasi oleh RDS/ PIJARNews.ID.

PIJARNews.ID – Abdul Wachid, begitulah namanya sederhana tapi memiliki karya yang monumental. Sosok manusia sederhana, yang selalu menggunakan baju kemeja putih, dan bercelana coklat, kadang berpeci hitam. Segudang prestasi dan penghargaan telah ia peroleh, tetapi tidak pernah membuatnya berhenti untuk menggerakkan roda perkaderan di Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah (PAYM) Bojonegoro.

Meski rambutnya sudah memutih, tetapi tidak mengendurkan semangatnya untuk terus berpikir keras demi masa depan anak-anak bangsa yang diasuhnya di PAYM Bojonegoro. Meski pernah berkali-kali jatuh terbaring sakit, tetapi tidak pernah sekalipun ia menyesali apa yang telah ia lakukan untuk anak asuhnya. Meski berkali-kali merasa dikecewakan oleh anak-anak didiknya, tetapi tidak pernah membuatnya patah arang untuk selalu berkarya untuk anak-anak bangsa ini.

Foto Ir. Abdul Wachid. (Dok. Pribadi/ PIJARNews.ID).

Dalam bahasa Hannah Arendt, beliau merupakan manusia dalam strata tertinggi. Yaitu, manusia yang senantiasa gelisah melihat sekitar, dan dari kegelisan itu ia mampu untuk menggerakkan segala potensi yang dimilikinya. Bertindak adalah manifestasi dari keimanan dan semua yang telah tercipta di muka bumi ini tidak pernah sia-sia. Selain itu bertindak juga bisa ditafsirkan sebagai manifestasi dari ungkapan syukur manusia atas anugerah Tuhan untuk selalu berusaha bermanfaat bagi orang lain.

Konsep “bertindak” “man of action” “kerja…kerja…kerja…” adalah konsep yang coba diterapkan oleh beliau dalam mendidik karakter dan kepribadian anak asuh di PAYM Bojonegoro. Manifestasi dari pemikiran dan tindakan Abdul Wachid adalah menyantuni anak yatim (kaum marginal) dan menjadikannya para kader Muhammadiyah yang mampu bertindak seperti konsep Hannah Arendt. Pemikiran dan tidakan Abdul wachid telah terlembagakan dengan sangat baik di PAYM Bojonegoro yang terletak di Jalan Basuki Rahmad Gg. Aspol 89 A untuk asrama Putra, dan di Jalan Sunan Kali Jaga, Desa Sukorejo untuk asrama putri.

PAYM Bojonegoro sebagai karya integral, fenomenal dan monumental Abdul Wachid

Muhammadiyah merupakan organisasi Islam yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan pada tahun 1912 di Kota Yogyakarta, yang saat ini telah memiliki tempat dihati masyarakat diseluruh Indonesia. Hal ini disebabkan karena kepeloporannya dalam membangun institusi pendidikan dan amal–amal usaha, sosial kemasyarakatan yang terbilang modern yang benar–benar dapat memajukan dan memenuhi hajat hidup masyarakat. Kepeloporan dan Amaliah yang konkret inilah yang menjadi ciri khas dari gerakan Islam ini.

Muhammadiyah menjadi Penting dan strategis karena telah menghadirkan Islam yang bercorak pembaharu dan berorientasi pada aspek Amaliah. Muhammadiyah saat ini telah memiliki 318 Panti Asuhan yang tersebar di seluruh Indonesia raya, aspek inilah yang dapat dinilai sebagai bentuk pembelaan Muhammadiyah terhadap anak Yatim dan kurang mampu (kaum marginal).

Tetapi jika kita bandingkan dengan amal usaha Muhammadiyah yang bergerak di bidang pendidikan dan kesehatan akan kelihatan sangat timpang, kerena jumlah mereka sudah mencapai ribuan sedangkan panti asuhan masih berjumlah ratusan. Selain itu Panti Asuhan milik Muhammadiyah belum mampu untuk menciptakan kader yang berpotensi untuk bisa berkontestasi dalam ranah kepemimpinan Muhammadiyah.

Ada kisah “Cak Nanto” yang saat ini menjadi Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah yang berasal dari panti asuhan, tetapi itu satu dari sekian banyak potensi pimpinan di Muhammadiyah saat ini. Jumlahnya sedikit sekali alumni Panti Asuhan yang mampu menjadi Pimpinan Muhammadiyah mulai dari level ranting, cabang, wilayah ataupun di pusat. Fenomena ini menunjukkan bahwa panti asuhan masih menjadi objek, belum bisa menjadi subjek dalam Muhammadiyah.

Realitas inilah yang membuat Abdul Wachid (Ketua Umum Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah Bojenegoro) gelisah, dan akhirnya membuat sesuatu yang berbeda dengan PAYM Bojonegoro dibandingkan dengan panti asuhan milik Muhammadiyah lainnya. Dengan latar belakang kemiskinan yang ada di Bojonegoro, Abdul Wachid mulai menanamkan sebuah ideologi pembebasan kepada setiap anak asuh yang baru masuk menjadi santrinya.

Hal itu terangkum dalam sembilan landasan ideologis yang diajarkan oleh Abdul Wachid kepada semua santri-santri di PAYM Bojonegoro;

  1. Dalam hidup ini hindari pemujaan terhadap materi. Sebab ia akan menghilangkan hati nurani, memupuk sikap iri, dengki, dan menjauhkan kita dari ridlo Ilahi.
  2. Bahwa hidup ini sangat singkat karena itu harus memanfaatkan waktu dengan cermat. Usahakan melaksanakan yang paling wajib dan setelah itu laksanakan yang sunah.
  3. Harta abadi untuk bekal akhirat ialah harta yang di-infaq-kan kepada keluarga dan juga masyarakat. Hidup sederhana dalam realita.
  4. Pikiran, tenaga dan fasilitas yang kita miliki dapat bermakna bekal hari akhir, apabila semaksimal mungkin digunakan untuk kepentingan umum, walau demikian tetap tidak meninggalkan hal pribadi dan keluarga.
  5. Tenaga serta energi hanya satu, tidak semua tenaga terpakai. Kesenangan, kenikmatan, boleh kita nikmati, tetapi dengan amat dibatasi. Dan hal ini sangat berat.
  6. Lahirnya perubahan dimulai dari : sikap, prilaku, kebiasaan “tidak normal”, selalu penuh dengan cemoohan, cacian, butuh pengorbanan segalanya, waktu tiada henti dan istiqomah.
  7. Beraktivitas dengan kecepatan tinggi layaknya Matahari. Tidak ada waktu tersisa. Besok mati.
  8. Kader militan, pejuang, atau pahlawan adalah orang yang mampu melampaui dirinya. Ia telah selesai dengan dirinya.
  9. Tutuplah kehidupan ini dengan karya integral, fenomenal, serta monumental. (Presentasi  Landasan Ideologis “Integritas Moral sebagai Landasan Pokok Anak Jaman”)
BACA JUGA :  Kelompok Mahasiswa Ini Salurkan Bantuan Kepada Puluhan Veteran di Bojonegoro

Sembilan landasan ideologis inilah yang membuat PAYM Bojonegoro memiliki sebuah karakteristik yang tidak dimiliki oleh panti asuhan lain. Konteks Bojonegoro yang diceritakan oleh Indonesianis DR. C.L.M. Penders dalam buku “Bojonegoro 1900-1942 ‘A Story of Endemic Poverty in North-East Java-Indonesia” menunjukkan bahwa Bojonegoro memiliki sejarah kemiskinan yang luar biasa.

Kondisi seperti inilah yang membuat Abdul Wachid selalu mengatakan kepada para santrinya bahwa kemiskinan itu merupakan musuh bersama. Dan beliau memiliki keyakinan yang kuat bahwa itu semua bisa dikalahkan dengan pendidikan dan kewirausahaan yang ada di PAYM Bojonegoro.

PAYM Bojonegoro selain menyekolahkan anak asuhnya kedalam sekolah formal, juga memberikan pendidikan yang bersifat dialogikal antara pendidik dan terdidik. Sejalan dengan pendidikan yang membebaskan ala Paulo Fairre, Abdul Wachid memberikan kebebasan setiap anak asuhnya untuk berdialog dengan bidang-bidang Amal Usaha yang dimiliki panti ini.

Konsep ini mampu memberikan suntikan semangat para santri-santri di PAYM untuk menuntut ilmu sesuai dengan bidang yang dia minati hingga ke level yang lebih-tinggi. Terbukti banyak alumni dari PAYM yang bisa kuliah di Universitas Brawijaya (Ali Fahmi Dimyatih, Eko Sentiko, Subandi) Universitas Airlangga (Penulis, Nyuharto E.P, Devi Ersa, Johan A.L, Gunawan, Supriono, Arif B.P., Rudi, Zaenuri, Winarti, Ali Alamsyah, Taufiqurrahman, dkk.).

Poltek Negeri Malang (Mukhlisin dan Jarwoto) UMM (Khusnul Khuluq, Sanut, Rinanto dan Rubiyati, dkk) Universitas Trunojoyo (Eko.P) bahkan ada 4 anak asuh yang pernah dikirim ke Jepang (Luluk, Mahmud, Senja, Yuli) dan hingga saat ini sudah puluhan santri yang sedang lanjut kuliah di kampus prestisius di Indonesia. Dan hingga saat ini telah puluhan santri yang mendapatkan berbagai beasiswa masuk Perguruan Tinggi baik Negeri maupun milik Muhammadiyah.

Keberhasilan dari sistem pendidikan yang dibangun di PAYM ini mampu memunculkan kesadaran transformatif dalam diri anak asuhnya. Kesadaran yang dibangun ketika mereka masih berada dipanti akan terbukti keberhasilannya ketika, kebanyakan anak-anak ini mampu untuk survive dengan berbagai dinamika kampus dan mereka kebanyakan adalah penerima beasiswa.

Anak-anak ini telah menjadi sebuah contoh dari keberhasilan sebuah sistem yang dibangun di Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah Bojonegoro. Ketika para anak-anak ini mampu mendapatkan selayaknya apa yang harus mereka dapatkan (pendidikan yang memanusiakan manusia), mereka mampu untuk berbicara banyak, baik dalam level kepemimpinan di persyarikatan dan hingga menjadi pemimpin bangsa ini.

Belajar dari Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah Bojonegoro ini, maka Muhammadiyah di umurnya yang sudah seabad lebih akan banyak sekali mendapatkan ilmu dan konsep di PAYM ini dapat dijadikan sebagai role models bagi konsep pendidikan dalam mendidik kader Muhammadiyah. Realitas selama ini dikalangan Muhammadiyah selalu menampilkan bahwa Panti Asuhan Muhammadiyah merupakan sebuah lembaga yang hanya menjadi objek, dan dipandang sebelah mata dalam sistem pengkaderan.

Maka dengan adanya PAYM Bojonegoro dengan konsep pendidikan pembebasannya bisa menjadi contoh bahwa Panti Asuhan punya potensi yang besar bagi pengkaderan Muhammadiyah. Khususnya bagi Panti asuhan di seluruh Indonesia, akan menegaskan bahwa ketika panti itu menjadikan anak asuhnya sebagai pelaku (bukan sebagai objek) maka mereka akan tumbuh menjadi manusia-manusia yang terbebas dari kemiskinan yang selama ini menjadi problem utama bangsa ini.

Abdul Wachid seorang Pahlawan yang telah selesai dengan dirinya

Tafsir sosial yang dilakukan oleh Abdul Wahid melalui PAYM Bojonegoro dalam menjawab berbagai problematisasi yang ada di Bojonegoro di era abad 20 ini adalah sangat lugas. Penerjemahan teks-teks Al-Qur’an ke dalam praksis sosial dilakukan oleh Abdul Wahid dengan sangat praksis.

Realitas ini bisa jadi karena Abdul Wachid tidak banyak berteori, sehingga dapat kita katakan bahwa Abdul Wachid merupakan man of action seperti yang dilakukan oleh Ahmad Dahlan pada eranya yang bukan hanya menjadi man of thought. Sampai batas-batas tertentu, ungkapan ini tentu benar. Tetapi secara lebih mendasar apa yang dilakukan oleh Abdul Wahid bukan berarti tanpa refleksi kritis dan mendalam terhadap kondisi yang dihadapi.

Refleksi kritis terhadap realitas sosial yang terjadi dan kemudian mencarikan solusi yang tepat untuk mengentaskannya inilah yang harus bisa menjadi sebuah semangat baru dalam pengentasan kemiskinan di Indonesia secara mendasar. Akan tetapi disamping berbagai pencapaian dan prestasi PAYM Bojonegoro ini masih benyak memiliki kekurangan-kekurangan yang harus di benahi dan di kritisi.

Bersikap kritis merupakan cara yang efektif agar gerakan sosial Muhammadiyah ini berjalan dengan lebih baik, karena pada hakikatnya yang membuat bangsa ini maju adalah adanya konflik bukan karena adanya konsensus. Dengan adanya berbagai refleksi dan kajian secara terus menerus maka organisasi Muhammadiyah menjadi lebih besar dan lebih sempurna dalam mengamalkan ajaran-ajaran yang telah di sampaikan oleh Nabi Muhammad SAW dan sesuai dengan apa yang dituliskan oleh Allah SWT didalam Al-Qur’an-Nya.

(Penulis adalah Anak Asuh di Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah Bojonegoro tahun 2006 – Sekarang. Wakil Ketua Bidang Hikmah dan Riset. Hubungan Antar Lembaga PDPM Bojonegoro).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here