Dzanur Roin, ilustrasi oleh RDS/ PIJARNews.ID.

PIJARNews.ID – Rumah adalah salah satu bangunan yang dijadikan sebagai tempat tinggal, sedangkan tangga adalah sebuah kontruksi yang dirancang untuk menghubungkan dua tingkat vertikal yang memiliki jarak satu dengan yang lain. Dua insan yang di satukan dalam ikatan suci, yang berlandaskan agama demi menggapai ridho-Nya. Mereka itulah yang sedang membangun rumah tangga.

Rumah adalah kumpulan dari sekian partikel-partikel kecil. Mulai dari pasir, semen, kayu, batu dan lain-lain yang dicampur dengan air kemudian disatukan. Terdiri dari berbagai ragam perbedaan, sifat, karakter dan tabiat tetapi menjadi kuat saling melengkapi satu dengan yang lain.

Tangga, apapun itu bentuknya, besi, baja, kayu, ataupun beton. Semua melalui proses, dipotong, digergaji, dan dilas. Dari yang berserakan dibentuk, disatukan, dimodel, sehingga bisa dipakai untuk naik dari anak tangga satu ke anak tangga tangga yang lainnya. Sehingga kita bisa mencapai tempat yang lebih tinggi dengan selamat.

Begitulah dalam hal berumah tangga, kita tidak bisa memaksakan kehendak, berjalan seiring, seiya, dan sekata. Banyak lika-liku yang harus kita lalui, tidak selamanya berjalan dengan baik dan lurus. Adalakalanya kerikil tajam, lubang yang menganga yang perlu kita hindari untuk berbelok mencari jalan yang datar. Tak selamanya jalanan itu menanjak terus juga tak selamanya perjalanan dalam rumah tangga itu menurun lurus sehingga kita terbuai dan terlena oleh angin yang sepoi-sepoi.

BACA JUGA :  Melirik Tagar JSR

Laksana sebuah sandal ataupun sepatu tidak sama persis bentuknya, dalam berjalanpun tidak berbarengan saling bergantian kanan dan kiri. Tidak ada yang saling mendahului apalagi bersama untuk sampai di tempat tujuan. Mereka saling berbagi, kapan waktunya kekanan dan kapan waktunya kekiri, mereka bersama-sama berbagi dan memberi untuk sampai ditempat tujuan yang diharapkan dan dicita-citakan.

Dua orang dalam rumah tangga akan banyak menemui kendala, tak usah memaksakan kehendak, kita memang dari pribadi yang berbeda, sampai kapanpun tak akan bisa, justru dari perbedaan itulah akan jadi indah. Laksana pelangi yang begitu indah dengan warna warninya, yang bisa kita lakukan adalah saling menghargai, saling mengerti satu dengan yang lainnya sebatas bukan prinsip ngapain dipersoalkan. Segera lupakan tak usah dikenang apalagi dipermasalahkan.

Sabar dan syukur, mungkin itulah rumus dalam rumah tangga. Sabar dalam menghadapi segala persoalan dan bersyukur dalam menghadapi kekurangan. Baik kekurangan pribadi masing-masing ataupun kekurangan dalam bentuk yang lain. Sabar dan syukur laksana dua keping uang yang sama-sama penting dan mendukung, tidak bisa dipisahkan agar menjadi benda yang berharga. Dimana ada sabar disitulah ada syukur, syukur dan sabar akan mengiringi dan menuntun rumah tangga menuju sakinah, mawaddah, warahma, dan juga berkah. Ammin!.

(Penulis adalah Pengajar di SDM Dubes, dan Alumni Perguruan Muhammadiyah Pantenan, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here