Amalia Utami, ilustrasi oleh RDS/ PIJARNews.ID).

PIJARNews.ID – Mudahnya akses media sosial (medsos) bisa menjadi keberuntungan bagi banyak orang. Namun disisi yang lain, ada beberapa perilaku yang justru secara tak sadar menjadi kebiasaan buruk saat kita bermedsos.

Kebiasaan apa itu?, dengan memposting segala persoalan apapun dalam hidup kita, bagi sebagian orang mungkin berpendapat sah-sah saja, selama itu tidak merugikan orang lain. Namun tahukan kita, terkadang ada hati yang banyak kita jaga. Jika dalam interaksi langsung dengan sesama manusia, ada etika yang harus kita perhatikan, nah begitu juga seharusnya dalam bermedsos.

Pernahkah kita berfikir, ada seseorang yang belum memiliki apa yang kita punya dan sedang mengusahakan, tapi kita justru dengan bangga dan mudahnya memamerkan semua hal yang kita punya tersebut. Entah itu persoalan uang, pekerjaan, kesuksesan, atau persoalan kehidupan yang lainnya.

Setidaknya kita harus banyak belajar tentang etika bersosial media. Karena tidak semua persoalan pribadi patut menjadi konsumsi publik. Marilah kita refleksikan bersama, apakah selama ini sesuatu yang kita bagikan ke sosmed, adalah hal yang bermanfaat bagi banyak orang?, atau justru akan mengundang perasaan iri dan dengki orang lain terhadap beberapa postingan kita.

Bukankah lebih baik berbagi tips menjadi pengusaha yang sukses, daripada berbagi foto banyaknya uang hasil jerih payah kita?. Bukankah lebih baik berbagi tips makanan yang sehat, daripada hanya sekedar berbagi foto makanan mewah yang sedang kita makan?.

Bukankah lebih baik berbagi tips rumah tangga yang baik, daripada berbagi foto mesra dengan pasangan kita?. Bukankah lebih baik berbagi tips menjadi pekerja yang baik, daripada berkeluh setiap hari atas pekerjaan yang kita lakukan?.

BACA JUGA :  My Time

Bukankah lebih baik berbagi cara menjadi pelajar yang berhasil, daripada menggerutu atas susahnya menjadi seorang pelajar?. Bukankah lebih baik berbagi ilmu tentang tuntunan ibadah, daripada berbagi foto saat beribadah?.

Deretan pertanyaan itu, apakah selalu terbesit dalam pikiran kita, disaat akan memposting sesuatu?. Bukankah berbagi energi positif pada orang lain lebih menyenangkan, daripada berbagi energi negatif?.

Bisa jadi tidak semua orang sepakat dengan hal ini, dan mengatakan “jika semua tergantung pada niatnya”, “tidak usah berkomentar”, “hak akun medianya sendiri”. Memang benar, semua tergantung niatnya, tetapi alangkah baiknya kita saling berhati-hati. Berani bersosial media, artinya kita juga telah memutuskan untuk berhubungan dengan banyak orang melalui dunia maya.

Meski dunia maya tak memungkinkan kontak fisik secara langsung, namun kita tetap berada pada lingkungan virtual dimana masyarakat itu berada. Saya kira aturan moral tetaplah berlaku, dan etika harus tetap dijaga, layaknya saat kita ditengah masyarakat nyata.

Disini penulis juga perlu sangat hati-hati, berharap jangan ada yang merasa digurui, lain tidak, maksudnya hanya saling belajar, tambal sulam dan berbagi kebaikan. Teringat ada seorang ulama yang mengatakan, penasehat yang selalu menginginkan kebaikan pada orang yang dinasehatinya, ibarat usaha memperbaiki pakaian robek, bukankah pakaian itu akan menjadi baik kembali?. Kedepan semoga kita bisa saling belajar dalam kebaikan, dan menjadi pengguna media sosial yang bijak.

(Penulis adalah Lulusan Pascasarjana Program Studi Agama Islam UINSA Surabaya).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here