R. Fauzi Fuadi. (RDS/PIJARNews.ID)

PIJARNews.ID – Agama sudah seharusnya menjadi fondasi dan jalan hidup bagi pemeluknya, untuk selalu mengamalkan seluruh ajarannya. Seperti ajaran saling mengasihi, menghormati, dan bertoleransi yang ada didalam setiap agama.

Indonesia memiliki berbagai macam suku, ras, dan agama, sehingga kesadaran multikultural harus ditanamkan pada setiap warga negara. Seperti yang dikatakan Bernard Adeney-Risakotta dalam buku Mengelola Keberagaman di Indonesia (2015), kita harus menyadari realitas yang tak terhindarkan pada masyarakat prulalistik Indonesia. Suka atau tidak, kita musti menghadapinya, berdamai, dan menyesuaikan diri dengan realitas dunia yang beragam.

Melihat realita keberagaman yang ada, terkadang masih ada diskriminasi yang kita jumpai, namun di sisi lain, rasa toleransi juga masih tetap terjalin. Seperti beberapa kisah yang akan saya tulis.

Kisah Pertama

Saat masih duduk di bangku SD, saya berteman baik dengan kawan yang beragama Hindu, mereka kakak beradik. Saat jam istirahat tiba, mereka sering mengajak saya untuk pergi ke kantin. Tak jarang sang kakak mentraktir saya sarapan atau sekadar beli jajan. Dari sana saya heran, mengapa mereka bersikap begitu mengasihi dan selalu baik hati, padahal mereka tak seiman dengan saya?. Akhirnya keresahan itu saya tanyakan kepada mereka berdua.

Sang adik menjawab dengan singkat namun cukup mendalam, “Sejak kecil, ayah dan ibu kami selalu menanamkan jiwa saling tolong menolong dan menghargai sesama, walaupun berbeda keyakinan dengan kami, dua hal itulah yang kini kami pegang teguh”.

Walaupun merasa minoritas, mereka bisa merangkul seluruh kawan-kawannya yang mayoritas muslim. Maka tak heran jika mereka memang banyak teman.

Kisah Kedua

Kisah ini saya saksikan sendiri saat menjelang sholat jum’at, jadi sebelum Khatib naik mimbar dan jamaah masih sedikit, ada seorang bapak berumur sekitar 47 tahun menghampiri pak tua, ia berbicara dengan nada yang sangat pelan dan penuh sopan santun. Beberapa saat kemudian, justru pak tua itu merespon dengan kurang manusiawi.

Entah ada kata-kata yang menyingung, tanpa tedeng aling-aling telah mengusir seorang bapak itu. “Pergi,” ujar pak tua sembari menunjuk keluar masjid, tanpa basa-basi dan perlawanan, bapak yang diusir itu keluar. Dari keluarnya bapak itu, kita bisa menebak ia pasti mencari masjid lain, yang lebih ramah dan mungkin tak akan kembali ke masjid itu lagi.

Kisah Ketiga

Ini datang dari sebuah berita yang sempat ramai diberitakan, seperti dilansir tirto.id yang berjudul “MUI Bandung Buat Fatwa Sterilkan Masjid dari Pengungsi Tamansari”. Rata-rata media daring lokal maupun nasional memberitakan dengan garis besar “sterilkan”. Kamu mungkin sudah baca isi surat itu, dimana “memfungsikan masjid sebagaimana lazimnya” menjadi poin utama dari surat tersebut.

Keluar dari konteks judul berita, yang terpenting, apakah ini bentuk wajah asli MUI?, apakah MUI telah abai dengan persoalan warga yang rumahnya dibongkar paksa oleh negara?, apakah MUI hanya bekerja diranah halal/haram, sidang isbat, dan lain sebagainya, tanpa memperdulikan nasib umat yang sedang tergusur dan lapar?.

BACA JUGA :  Nilai-nilai Islam dalam Memilih Pemimpin

Saya harap, kedepannya MUI benar-benar hadir untuk umat, dengan main power yang dimiliki, saya yakin MUI pasti bisa meredam segala konflik vertikal maupun horizontal, turun tangan membantu korban bencana alam, dhuafa, mustadhafin dan sebagainya, tegas dalam menyampaikan kebenaran serta mewujudkan yasyuddu ba’dhuhu ba’dho, yang berarti satu sama lain saling menguatkan.

Ketiga kisah tersebut merupakan contoh kecil dari sekian banyak kisah yang mungkin juga kalian. Dan tentu masih banyak lagi kisah-kisah diluar sana yang tidak tersorot media dan menulis.

Saya sengaja memberikan satu contoh kisah yang dapat menginpirasi kita agar selalu mengejawantahkan nilai-nilai rahman dan rahim disetiap nafas kehidupan bermasyarakat. Serta dua contoh kisah yang berarti masih banyaknya kasus intoleransi dan dehumanisasi di negeri ini, yang sebisa mungkin agar kita hindari.

Nabi Muhammad SAW Memuliakan Sesama Manusia

Mari kita sejenak flashback ke belakang, kala Nabi Muhammad SAW menjalankan misinya menyemai Islam yang rahmatan lil alamin di jazirah Arab. Dalam misi mulianya, beliau sangat memuliakan dan menghormati orang yang berbeda keyakinan dengannya, walau orang tersebut telah wafat.

Pernah suatu ketika Nabi SAW sedang duduk-duduk bersama beberapa sahabat. Tetiba beberapa orang Yahudi tengah membawa jenazah saudara mereka yang baru saja meninggal dunia. Melihat hal itu, Rasulullah memerintahkan kepada para sahabat untuk berdiri demi menghormati jenazah tersebut. Salah seorang sahabat lantas berujar, “Itu jenazah seorang Yahudi wahai Rasul”. Lalu dengan tegas Rasul menjawab, “Bukankah dia manusia?, jika kalian melihat manusia yang diarak seperti itu maka berdirilah!”.

Kisah pendek tersebut hanyalah satu diantara belasan riwayat yang menceritakan tentang prinsip humanisme yang dipegang erat oleh Nabi SAW. Tentu masih banyak kisah lainnya tentang rasa cinta Nabi terhadap kemanusiaan, yang tentu dapat mengisnpirasi kita agar selalu mengedepankan prisnsip humanisme.

Ukhuwah Insaniyah dalam Beberapa Agama

Tidak hanya dalam Islam, agama lain pun mengajarkan manusia harus saling menghormati. Dalam Agama Kristen di Kitab Perjanjian Baru terdapat ajaran cinta kasih. Misalnya dalam Perjanjian Baru, Injil Lukas surat 10 ayat 27 dikatakan bahwa “Kasihanilah sesamamu sama seperti kamu mengasihi dirimu sendiri.”

Dalam Buddha dan Hindu pun demikian, terdapat ajaran dhammah untuk mengasihi seluruh makhluk hidup. Dalam ajaran Tao dan Kong Hu Chu juga terdapat ajaran untuk saling menghormati dan tidak menyakiti orang lain. Contohnya perkataan Kong Qiu bahwa “Jangan melakukan pada orang lain apa yang tidak kau inginkan untuk dirimu sendiri”.

Arkian, persatuan dan perdamaian akan tercipta dari hal-hal kecil nan sederhana, namun berdampak sangat besar dikemudian hari, perubahan itu berawal dari rumah yang selalu menjadi support sytem untuk kita. Dari sanalah tercipta perdamaian kecil yang akan selalu membekas hingga ujung masa, seperti kata Bunda Teresa, “What can you do to promote world peace? Go home and love your family”.

(Penulis adalah Pengajar di Ponpes Karangasem, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here