Firman Haqiqi, (Dok. Pribadi/ PIJARNews.ID).

PIJARNews.ID – Sistem “hadap-masalah” adalah tawaran pemikiran Paulo Freire untuk membangkitkan kesadaran masyarakat yang bisu akibat model pendidikan “gaya bank” di Brasilia. Dalam sistem pendidikan gaya bank ini, guru tidak memberikan pengertian kepada peserta didik, tetapi hanya sekedar memindahkan sejumlah dalil atau rumusan masalah kepada siswa untuk disimpan dan dikeluarkan dalam bentuk yang sama jika itu diperlukan untuk kepentingan kapitalistik.

Bagi Paulo Freire, pendidikan “gaya bank” ini adalah salah satu sumber yang mengokohkan penindasan dan kebisuan di tubuh masyarakat. Sebab, peserta didik hanya dijadikan sebagai objek pengumpul dan penyimpan sejumlah pengetahuan, tetapi tidak diberikan kesempatan untuk menumbuh kembangkan ide gagasan dan imajinasi ekonomi, sosial, politik dan budaya disekitarnya. Dengan kata lain, Paulo menyebutnya masyarakat yang miskin daya cipta. Oleh karena itu, pendidikan “gaya bank” seperti ini hanya akan menguntungkan kaum penindas dalam melestarikan penindasan terhadap kaum bisu.

Tentang ide penyadaran peserta didik melalui konsep “hadap masalah” ini, Paulo Freire harus menerima hukuman penjara dan diasingkan dari negarannya.

Ada gagasan lain yang tidak bisa dilepaskan dari konsep “hadap-masalah” yang sering disebut oleh Paulo Freire, yaitu ketidaksadaran historis (historical anesthesia), dimana kondisi masyarakat seperti ini tidak lagi peduli terhadap apa yang terjadi dalam tubuh masyarakatnya. Bahkan untuk sekedar terlibat dalam kegiatan-kegiatan kongkrit masyarakat pun tidak. Gagasan ini menjadi menarik jika ditarik kedalam konteks sosial masyarakat kita hari ini, lebih-lebih kedalam lingkungan sosial di wilayah desa kita sendiri.

Tapi sebelum lebih jauh, ada hal yang harus kita ketahui tentang gambaran Paulo Freire tentang upaya pembebasan dari berbagai masalah. Menurutnya, masalah itu tidak serta merta tentang pendidikan, tetapi juga ekonomi, politik, hukum, atau kebudayaan sehari-hari. Oleh karena itu, integrasi realitas sosial ke dalam pendidikan menjadi penting dalam membebaskan diri dari permasalahan sosial.

Disamping itu, pola hadap masalah secara kontekstual juga dapat terjadi kapan dan di mana saja selagi manusia masih hidup. Karena itulah, konsep pendidikan Paulo Freire sangat menekankan pada kesadaran diri sebagai subjek. Sebab, dalam pemikirannya hanya subjeklah yang dapat memerankan liberative action: kesadaran secara komunal yang pada akhirnya akan membentuk kesadaran sosial. Dan dengan kesadaran sosial yang dibangun berdasarkan relasi intersubjektivitas inilah diharapkan masyarakat mampu memikirkan pemecahan masalah yang dihadapinya.

Bagian yang harus dikongkritkan dari diskusi “hadap-masalah” dan pendidikan yang membebaskan

Secara tidak langsung, Paulo Freire menegaskan pada setiap individu dan masyarakat di dunia, bahwa untuk menghadapi problem kebisuan sosial didalam tubuh masyarakat, sejatinya dapat dipecahkan jika kesadaran sosial tersebut dibangun berdasarkan realitas sosial masyarakat sekitarnya.

Beberapa contoh kongkrit yang bisa diambil sebagai bentuk analogi dari pola pikir Paulo Freire tentang sistem “hadap masalah” adalah, ketika tempo hari secara pribadi menghadiri sebuah diskusi yang membicarakan tentang “Pendidikan yang membebaskan, dan memanusiakan manusia” di salah satu warung kopi yang ada di desa Payaman, Solokuro, Kabupaten Lamongan.

BACA JUGA :  Literasi Digital Sebagai Penangkal Berita Hoaks Para Buzzer

Pada awalnya saya berasumsi bahwa diskusi ini akan menjadi menarik karena akan menghubungkan antara realitas ekonomi, sosial, politik, pendidikan dan budaya sekitar dengan teori dan konsep Paulo Freire tentang pendidikan yang membebaskan dan memanusiakan manusia. Maka sebelum hadir di acara diskusi, saya menyempatkan untuk mengulas kembali beberapa jurnal tentang materi diskusi tersebut.

Asumsi sederhananya adalah bahwa ada konsistensi ide, gagasan dan imajinasi perjuangan yang harus diambil jika betul-betul menginginkan untuk berada dalam garis konsep pendidikan yang membebaskan dan memanusiakan manusia yang digagas oleh Paulo Freire. Minimal adalah kesadaran kritis atas model pendidikan dan perilaku sosial yang terjadi diruang lingkup lingkungan kawan-kawan sendiri. Dan juga harus ada pola diskusi yang terarah dan terstruktur dari studi kasus yang diambil sebagai perbandingan antara teori dan prakteknya.

Dalam bagian ini saya tidak akan terlalu panjang mengulas tentang materi diskusi. Tapi setidaknya ini menjadi kesempatan bagi saya untuk sekaligus menyampaikan beberapa poin penting yang seharusnya tersampaikan pada saat diskusi, tetapi harus tertunda karena alasan klasik kemanusiaan.

Pertama, adalah antara materi diskusi dan realitas sosial yang tidak terbangun. Ini menjadi kritik tersendiri atas individu-individu yang hadir pada diskusi, bahwa selain harus konsisten terhadap tawaran ide Paulo Freire tentang pendidikan yang membebaskan, dan konsep pendidikan hadap masalah dan kritik atas ketidak sadaran historis, maka kita juga harus mempertimbangkan situasi dan kondisi sosial yang ada disekitar kita.

Kedua, selain berdiskusi, tugas kita seharusnya juga melakukan penyadaran dengan melalui propaganda baik secara lisan, tulisan maupun bacaan. Ini menjadi berat jika model diskusi kita masih kaku dan tabu seperti yang lalu.

Ketiga, jika Paulo Freire melakukan upaya penyadaran dengan membangun konsep “hadap masalah”, maka seharusnya setiap diskusi juga harus berawal dari realitas, minimal bersikap secara kritis dan solutif terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Keempat, berbicara tentang tahapan kesadaran magis, naif, dan kritis menurut Paulo Freire, secara tidak langsung relevansi materi juga harus termasuk dalam kesadaran untuk mengkritik perilaku sosial masyarakat kita, pun juga termasuk model sistem pendidikan dan pemerintahan yang ada di desa dan kota, jangan kemudian lari terlalu jauh sedangkan kita lepas dari konteks sosial masyarakat kita sendiri.

Kelima dan terakhir, komitmen dan konsisten terhadap ide dan gagasan yang dibangun diatas realitas itu penting untuk menjadi dasar bangunan literasi kedepan. Juga penting untuk selalu berjejaring dengan individu yang progresif dan komunitas-komunitas desa dan kota lainnya, supaya gerakan literasi ini bisa terus berkembang dan banyak dikenal orang itu kalau tujuannya untuk eksistensi saja, kalau tidak ya bangun gerakan literasi yang berintegritas, profesional dan royal.

(Penulis adalah Pegiat di Media Pustaka Rakyat/ MEKAR, Kabupaten Lamongan).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here