Moderator dan M. Khoirul Abduh (sisi kanan) dalam BAD PDPM, Kabupaten Lumajang. (Odi/PIJARNews.ID).

LUMAJANG, PIJARNews.ID – Baitul Arqom Dasar (BAD), dilaksanakan oleh Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten Lumajang, Ahad (02/02/2020). Bertempat di Aula SMK Muhammadiyah Lumajang, M. Khoirul Abduh, sebagai salah satu pemateri, bertugas memaparkan materi tentang Pergulatan Kaum Muda Muhammadiyah.

Abduh mengawali, untuk menghadapi dinamika kemajuan zaman, Pemuda Muhammadiyah harus siap menjadi garda depan dalam memajukan dakwah Muhammadiyah di semua lini kehidupan, baik keagamaan, sosial, ekonomi, politik, hingga kebudayaan. “Semuanya itu sudah ada dalam khittah Pemuda Muhammadiyah,” ungkapnya.

Dalam bidang keagamaan, diharuskan setiap gerakan selalu pada mindset dakwah, “Sudah saatnya umat Islam dikembalikan pada cita-cita Islam yang kaffah, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 208,” ucapnya.

Lebih lanjut, Abduh mengharapkan setiap kader Muhammadiyah harus selalu belajar, dan mendalami ilmu agama dengan sungguh-sungguh. Agar kemudian mampu menjelaskan secara gamblang tentang pemahamannya secara aplikatif, atau mampu menjawab persoalan keumatan saat ini.

Satu persoalan umat juga dilontarkan, dimana posisi Pemuda Muhammadiyah ketika persoalan LGBT kian marak?, “Apakah hanya di atas mimbar-mimbar masjid, para mubaligh dengan lantang mendo’akan agar laknat Allah turun kepada kaum LGBT seperti umat Nabi Luth. Sedangkan kita tak pernah menyentuh mereka dalam dakwah secara taktis, agar membuat mereka menjadi sadar terhadap prilaku menyimpang yang diharamkan oleh agama,” ujarnya.

Abduh tegas menyayangkan, ketika persoalan itu belum terbahas, justru muncul fatwa baru tentang haramnya rokok elektrik/vape yang didahului haramnya rokok tembakau sekitar Tahun 2010 oleh Majelis Tarjih.

“Apalagi jika belum terfikirkan bagaimana nasip petani tembakau dan buruh pabrik rokok. Melihat kondisi semacam ini sudah seharusnya Pemuda Muhammadiyah ikut terlibat aktif, dan berkiprah menjawab persoalan tersebut,” pesannya.

Sedangkan dalam bidang sosial, dia mendorong Pemuda Muhammadiyah harus menjadi tauladan dan menjalin komunikasi dengan seluruh elemen bangsa, bisa bekerjasama dalam membangun peradaban. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. An-Nisa’ ayat 58 yang menerangkan tentang sikap keadilan.

Sedangakan dalam hal ekonomi, Abduh menyoalkan realitas yang diamati, bahwa Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur masih tertinggal. Hal ini diilihat dari jumlah pengusaha muda Muhammadiyah yang tidak ada 10 persen dari jumlah seluruh anggota, “Pemuda Muhammadiyah harus membentuk pengusaha-pengusaga muda yang tangguh menghadapi tantangan ekonomi. Ini harus dikonsep secara matang dan terstruktur, kedepan agar muncul jiwa wirausaha yang handal dan tangguh, sehingga kita tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga pemain produksi,” tegasnya.

BACA JUGA :  Kelompok Pemuda di Sidoarjo Wujudkan Gagasan Bantuan Rutin untuk Warga Miskin

Dalam ranah politik, Abduh menerangkan dinamika persoalan yang sebenarnya sudah terjadi pada masa KHA. Dahlan, ketika berdiskusi dengan H. Agus salim tentang Muhammadiyah menjadi partai politik, tetapi diskusi ini tidak berlanjut pada kontek subtantif, namun hanya pada ranah strategis.

“Ketika menghadapi agenda politik, tak jarang kita menemui suatu dilema, baik dalam tingkat teologis, intelektual, sampai pada tingkat praktis. Bahkan kita sering tergagap-gagap ketika menghadapi persoalan kompetisi politik,” ucapnya yang juga sebagai Pembina Kajian Kebon Jambu (KKJ) di Jombang ini.

Baginya secara kelembagaan, Muhammadiyah juga sudah sering bersentuhan dengan politik. “Bahkan ketika suasana kehidupan bangsa menuntut campur tangan Muhammadiyah, kata ayahanda Prof. Haedar, ijtihad politik yang dilakukan kemarin sungguh membuat kita terkaget-kaget dengan realitas yang terjadi,” kutipnya untuk diketahui peserta.

Sebagai kader muda Muhammadiyah, dia mengharapkan kader harus berpikir dan bekerja keras, disertai dengan evaluasi. Baginya ada kesalahan serius tentang strategi poltik karena tidak ada data pasti jumlah warga Muhammadiyah, “Kita hanya sering klaim-klaim saja, maka yang harus dilakukan adalah sensus warga persyarikatan, dari data inilah akan menjadi pijakan membuat langkah staregis kedepan,” tuturnya yang juga Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jombang.

Foto bersama dengan peserta BAD PDPM, Kabupaten Lumajang. (Odi/PIJARNews.ID).

Diakhir pembicaraannya, Abduh menegaskan Pemuda Muhammadiyah harus mampu menjadi leader dalam “kebudayaan dan peradaban”. Baginya teknologi yang berkembang pesat ini, seakan membuat kader Muhammadiyah juga tergagap luar biasa. “Ketika kita baru melangkah, kita baru sadar ternyata sudah tertinggal jauh,” ungkapnya lebih lanjut dengan menyebutkan, ketika Pemuda Muhammadiyah berlatih memanah dan berkuda, negara lain sudah mebuat teknologi canggih nir-awak yang bisa terbang 24 jam, dengan jangkauan ribuan kilo meter, membawa rudal yang bisa dikendalikan jarak jauh.

“Ketika kita lagi giat-giatnya berkuda, bangsa lain sudah membuat alat perang dengan kekuatan ratusan kuda dengan istilah horsepower (kekuatan kuda), suatu mesin perang yang hebat,” ungkapnya.

Dari berbagai problem ini, Pemuda Muhammadiyah bagi Abduh sangat memerlukan soliditas dan kerja keras, “Ibaratnya, dibutuhkan mesin dengan kapasitas besar dan tentunya endurance (daya tahan yang luar biasa) untuk dapat mengejar ketertinggalan,” pungkasnya.

Reporter: Hoedi
Penulis: Hoedi
Editor: Milada RA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here