Suprapto, Dip. Kmd., S.Pd.I (Dok. Pribadi/PIJARNews.ID)

PIJARNews.ID – “Rasulullah SAW bersabda; ‘Cukuplah seseorang berbuat keburukan jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim.’ (HR. Muslim).”

Kondisi yang paling tidak nyaman adalah jika jasmani maupun rohani di bawah tekanan pihak lain, adanya perasaan terjajah, namun dirinya tak berdaya. Hal tersebut sering dirasakan oleh para korban bullying. Bullying ialah perilaku intimidasi yang dilakukan seseorang atau sekelompok kepada teman yang dianggapnya lemah.

Bagi si pembully, bullying mungkin menjadi sesuatu yang menyenangkan bahkan membanggakan. Sebaliknya bagi korban, hal itu menjadi kondisi yang berada pada titik nol nyaman, bahkan minus nyaman. Oleh sebab itu, bullying akan menjadi noktah kehidupan sosial dan merusak mental generasi.

Memang ada kebanggan serta kepuasan bagi si pembully, hal tersebut ditandai dengan kondisi ia bisa tertawa lepas terbahak-bahak, sebab ia sudah mampu membuat diriya menjadi orang yang paling kuat, sementara orang atau pihak lain semakin lemah dihadapannya.

Kondisi sebaliknya bagi korban bully, kondisi seperti ini sangat menyakitkan, ia dipaksa menjadi fihak yang amat sangat lemah. Ia menjadi objek candaan dan tertawaan orang lain. Dan lebih menyakitkan lagi apabila proses bullying ini dilakukan di tempat umum, di hadapan teman-teman yang lain. Karena secara fisik maupu psikis tidak ada daya untuk melawan maka yang bisa dilakukan hanyalah menangis.

Perilaku bullying dapat berbentuk sikap, kata-kata, atau perbuatan. Siswa yang berusaha menghindar atau menghasut teman untuk menjauhi teman lainnya, memaki, menyebut-nyebut kekurangan atau nyepet (istilah siswa-siswa sekarang) sudah masuk kategori bullying. Demikian juga dengan sikap iseng merendahkan, memperagakan kekurangan fisik atau menyembunyikan barang milik temannya, pun sudah masuk kategori bullying.

Korban bullying ada kalanya menjadi insan yang rendah diri, down mental, mengurung diri, tidak ada keberanian untuk bergaul dengan teman yang lain. Tetapi ada kalanya dan bahkan ini yang sangat banyak ditemui di masyarakat bahwa menutup dirinya serta diamnya ketika dalam kondisi tertekan adalah ibaratnya sebuah bom waktu, suatu saat akan meledak dengan lebih dahsyat. Ia akan berubah mejadi predator sosial, pelampiasan ketidaknyamanan dan ketidakberdayaan.

Ingatan psikis saat menjadi objek bully akan berubah menjadi kekuatan untuk menjadi subjek bully. Pengalaman saat dibully menjadi literasi bagaimana ia suatu saat menjadi subjek bully yang lebih hebat. Pelampiasan korban bully tidak harus menunggu waktu lama, ketika ada kesempatan pasti akan terlampiaskan, sepulang sekolah bila menemukan adiknya di rumah bisa saja menjadi korbannya.

Mata rantai ini, yang akan menjadi noktah (noda) kehidupan apabila tidak segera diputus, maka tidak ada habisnya proses bully-membully. Pihak-pihak terkait harus mampu memutus rantainya, di lingkungan sekolah seorang guru harus mampu memutusya, kepala sekolah harus mampu membuat sistem kondusif yang bisa membunuh virus bully, sistem yang bisa tercipta suasana saling menghargai, saling menyayangi, dan sikap empati yang tinggi. Ada bebrapa faktor munculnya proses bully, diantaranya adalah faktor guru di lingkungan sekolah, sesama teman, dan lingkungan tempat tinggal serta media.

Pertama, bukan rahasia umum bahwa masih banyak dijumpai guru yang masih belum menjadi sosok guru yang sesungguhnya, contohnya, dengan tanpa bersalah terkadang memanggil anak didiknya dengan julukan-julukan tertentu yang negatif, memanggil dengan nama ayah atau ibunya, atau menjatuhkan secara mental bagi anak yang terbelakang secara intelligence quotient (IQ).

Apabila hal tersebut berlangsung terus menerus, maka akan diikuti anak didik yang lain, atau Bapak/Ibu guru serta Kepala Sekolah yang kurang sensitif terhadap proses bully, pembiaran atau acuh terhadap peristiwa bully di lingkungan sekolah. ini juga menyebabkan tumbuh suburnya bullying di sekolah.

Kedua, adalah sesama teman, sikap bercanda seorang siswa untuk menggoda temannya dengan cara menyembunyikan barangnya, memalak, membuat nama panggilan yang jelek, atau memanggil namanya dengan nama orang tuanya, dan lain sebagainya. Disengaja atau tidak, masih terdapat siswa-siswi yang kerap melakukan sikap tersebut kepada temannya.

BACA JUGA :  Nilai-nilai Islam dalam Memilih Pemimpin

Tingkat kedewasaan dan pertemanan diantara siswa, juga sangat berpengaruh pada pergaulan antar siswa. Usia remaja yang merupakan masa untuk memperlihatkan jati diri, dan mengharapkan untuk dihargai kerap dilakukan dengan cara yang salah. Pun usia remaja ialah masa senang berkelompok dengan teman yang satu prinsip (geng), bagi yang tidak satu prinsip dengan dirinya, akan diacuhkan dan tidak diajak berkerumun.

Ketiga, adalah lingkungan dan media, contoh kecil apabila sebuah keluarga yang tidak harmonis, akan mendidik anak untuk melakukan bullying. Seorang Bapak/Ibu yang berlaku “keras” akan direkam selalu dalam ingatan anak-anaknya, kemudian anaknya tersebut bisa saja memperaktikan perilaku itu kepada adik atau teman yang dianggap lemah, sehingga lingkungan dimana anak bergaul akan terdampak.

Apabila ia berkelompok dengan teman-teman yang tidak baik dalam pergaulan, pastinya akan membuat dia terbawa-bawa hingga yang asalnya tidak pernah membully, menjadi ikut-ikutan membuly teman yang kurang disenanginya. Demikian juga dengan media yang banyak mempertontonkan perilaku kekerasan, maka anak pun mendapatkan inspirasi untuk mencoba melakukanya kepada orang lain.

Setelah membaca berbagai macam faktor terjadinya proses bully tersebut, maka dapat disimpulkan, usaha pencegahannya dapat dilakukan setiap siapa saja yang mau menerapkan sistem di mana anak atau orang yang berpotensi menjadi pelaku atau korban bully tidak bisa terjadi.

Misalnya di lingkungan sekolah, seorang kepala sekolah harus mampu membuat sistem agar tercipta lingkungan pergaulan yang kondusif, pergaulan sesama teman guru, pergaulan sesama teman di antara siswa, saling kasih sayang, sistem yang membuat guru BK aktif memantau anak, guru aktif bergaul dan berada di tengah-tengah siswa, tidak hanya saat jam pelajaran tapi juga saat istirahat guru bisa di tengah-tengah siswa, sebab kadang dari sikap iseng seorang siswa akan dianggap serius, sehingga terjadi kekerasan fisik maupun non-fisik.

Atau seorang guru sebetulnya dapat dengan mudah mengatasi perilaku bullying, karena Bullying dilakukan oleh sisiwa yang merasa lebih kuat kepada yang dianggapnya lemah, maka ada hal yang dapat dilakukan oleh seorang guru. Seorang guru harus mampu mengenali kelebihan semua siswa, terutama bagi siswa yang berpotensi menjadi korban bully, saat kelebihan yang dimiliki dapat dikembangkan sehingga menjadikan ia menjadi orang yang kuat maka ia akan menjadi manusia yang percaya diri, menjadi manusia yang kuat dengan kelebihannya.

Terhadap siswa yang berpotensi menjadi pelaku bully maka seorang guru harus mampu melakukan komunikasi efektif Bagi siswa yang dipandang melakukan bullying, maka berikan pendekatan khsusus hingga ia sadar bahwa perilaku bullying itu akan menimbulkan masalah, dan itu akan merugikan dirinya.

Selain itu juga melakukan pembinaan secara rutin, memberikan penyadaran kepada semua peserta didik bahwa setiap siswa memiliki kekurangan dan kelebihan yang berbeda. Mengarahkan agar tidak bergaul dengan teman yang tidak baik dan memberikan arahan untuk mengkonsumsi media yang baik untuk dirinya.

Terlebih jika ada komunikasi secara intensif antara guru dengan orang tua siswa. Wali kelas sebagai orang tua siswa di sekolah juga agar lebih berperan aktif mengkomunikasikan perkembangan anak didiknya. Menceritakan kelebihan meskipun hanya kecil, dan berbagai sikap mungkin yang kurang baik agar menjadi bahan evaluasi bersama.

Apabila itu dilakukan, orang tua juga akan merasa senang ternyata anaknya cukup diperhatikan, saat di sekolah mereka (anak) mendapat didikan yang baik, mereka (orang tua) juga akan merasakan efek positif dari didikan yang baik saat di rumah.

(Penulis adalah Kepala Madrasah Ibtida’iyah (MI) Muhammadiyah 7 Kenep Kecamatan Balen & Sekretaris Majelis Kader PDM Bojonegoro).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here