Group musik kyai sepuh UMSurabaya mengiringi majelis sinau bareng Padhang Wetan. (Romo/PIJARNews.ID)

SURABAYA, PIJARNews.ID – “Kemisikinan Mendekatkan Kekafiran, apa benar?”. Pertanyaan ini muncul sebagai tema sinau bareng putaran kedua Majelis Sinau Padhang Wetan PPAIK Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya), Jumat (7/2) pukul 19.00 WIB, bertempat di lantai 4 Gedung At-Tauhid.

Dihadapan sekitar 30 civitas akademik UMSurabaya, Abdul Wahab (pengamat ekonomi syariah UMSurabaya), mengatakan bahwa salah satu dampak dari kemiskinan adalah kekafiran. “Orang dengan kondisi miskin bisa mudah marah, menyalahkan Tuhan, serta mudah terbujuk rayu untuk keluar agama (murtad) demi mendapatkan kekayaan,” ungkapnya.

Dalam Islam, dia menjelaskan relasi ekonomi terbagi menjadi dua, yaitu vertikal dan horisontal. Vertikal adalah timbulnya pemaknaan tentang kaya, miskin dan rezeki yang diberikan oleh Allah. Seperti pendapat Imam Muslim, “Orang miskin adalah berharta, tapi merasa kurang terus sehingga mencari harta dengan segala cara yang dihalalkan. Sementara orang kaya adalah mereka yang qonaah dan bersyukur terhadap yang didapatkan dan dimilikinya,” kutipnya.

Sedangkan pada relasi horisontal, baginya merupakan relasi ekonomi muamalah atau sikap praktis dengan sesama manusia. Model pengembangan ekonomi mualamah ini juga dibagi dua, model konvensional dan syari’ah.

“Dari dua model muamalah ekonomi tersebut, yang punya potensi besar untuk memberdayakan dan mengetaskan kemiskinan umat Islam adalah model muamalah syariah,” ungkapnya. Karena bagi Wahab, dalam Islam terdapat model strategi penanggulangan kemiskinan adalah dengan penataaan atau pengembangan Zakat, Infaq, Shodaqoh, dan Wakaf (Ziswaf).

“Ziswaf umat Islam di Indonesia memiliki potensi mengumpulkan sampai 300 triliun/tahun, tetapi yang bisa didapatkan masih sekitar 90 triliun/tahun. Potensi ini jika dikelola secara baik, saya yakin umat Islam dapat menguasai perekonomian dunia,” ujarnya.

Selanjutnya, Dr. Didin Fatihuddon (pengamat ekonomi UMSurabaya), menilai pemerintah kurang serius dalam menangani problem kemiskinan di Indonesia. Seringkali terjadi di lapangan, data kemiskinan dijadikan kongkalingkong antara pihak eksekutif dan legeslatif untuk kepentingan ekonomi politik sesaat.

BACA JUGA :  Ada yang Menarik dalam Seleksi Masuk MTs M 2 Kedungadem

“Data yang sering dipublikasikan terkait turun naiknya angka kemiskinan di Indonesia, cenderung dijadikan komoditas politik daripada kondisi yang sebenarnya. Sehingga penanganan dan pemberdayaan kemiskinan terkesan sporadis. Setiap ganti pemerintah juga berganti konsep pemberdayaan kemiskinan,” kata Didin.

Adapun Dr. Sholikhul Huda (Kepala PPAIK UMSurabaya), menyoroti terkait strategi penanganan kemiskinan ala Muhammadiyah. “Pola penanganan kemiskinan ala Muhammadiyah sudah bagus dan masif, dengan adanya pendirian panti asuhan dan Lazismu di seluruh Indonesia,” ujarnya. Namun bagi Sholiq, ketidakpunyaan peta dakwah berupa data valid jumlah warga miskin di Muhammadiyah maupun non Muhammadiyah, masih menjadi masalah mendasar.

“Padahal data ini sangat penting, karena sebagai dasar pemberdayaan dan pengembangan basis massa dakwah dalam Muhammadiyah,” tambah sosok doktor muda tersebut.

Menyikapi hal itu, dia menyarankan untuk segera dilakukan sensus warga Muhammadiyah agar mendapatkan jumlah valid segala potensi dan kerentanannya. Dari situ baginya dakwah Muhammadiyah dalam penanganan kemiskinan akan lebih tepat sasaran, strategis, dan tidak sporadis.

“Sampai hari ini Muhammadiyah juga belum bersepakat terkait kreteria orang miskin. Apakah memakai standart menurut IMF, World Bank, BPS atau membuuat sendiri kreteria miskin menurut Muhammadiyah. Saya kira Muhammadiyah harus segera melakukan kesepakatan ini, untuk pegangan dakwah Lazismu di lapangan,” imbuh direktur lembaga riset dan survey Kedai Jambu Institute (KJI) ini.

Terahir, menurutnya terkait potensi zakat dalam Islam, diperlukan rekonstruksi tafsir terkait pemahaman delapan asnaf penerima zakat dalam Al-Quran secara kontemporer dan kontekstual. Maka dakwah riset atau penelitian sangat diperlukan untuk pembuatan peta dakwah Muhmmadiyah.

Reporter: Romo Penulis: Romo Editor: Suhartatok

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here