Rasidi, Aktivis Pemuda Muhammadiyah Pamekasan. (Dok. Pribadi/PIJARNews.ID)

Oleh: Rasidi *)

PIJARNews.ID – Pada tanggal 18 November 1912 M atau bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1330 H merupakan tonggak baru perjalanan perkembangan Islam di bumi Nusantara. Muhammad Darwis, atau yang kemudian populer dengan KH. Ahmad Dahlan, merintis sebuah pergerakan pembaharuan Islam. Babak baru tersebut ditandai dengan lahirnya Persyarikatan Muhammadiyah, yang menjadi wadah untuk mengaktualisasikan dan menuangkan ide-ide pembaharuan pemikirian KH. Ahmad Dahlan.

Ide pembahruan KH. Ahmad dahlan sejatinya bukan membawa sesuatu yang baru dalam agama, namun lebih pada pemurnian ajaran Islam yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Al-Hadist. Pemikiran Ahmad Dahlan dianggap baru karena dalam tata cara beragama yang ditawarkan bertentangan dengan pemahaman mainstream masyarakat pada waktu itu. Pembaharuan dalam praktik keberagamaan masyarakat Kauman, yang kala itu banyak dipengaruhi oleh budaya sinkretisme yang diadaptasi dari paham animisme dan dinamisme.

Sehingga mengakibatkan kehidupan umat Islam begitu jumud, terbelakang dan tidak berkembang. Atas dasar kondisi tersebut, Ahmad Dahlan merasa prihatin dan berkewajiban untuk membongkar tata cara ummat dalam beragama supaya lurus, murni dan benar. Kegigihan dan kesabaran KH. Ahmad Dahlan dalam memperjuangkan keyakinan teologisnya, karena beliau paham bahwa pemikirannya benar serta tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Al-Hadist, sehingga mampu membawa Muhammadiyah diterima di tengah-tengah kehidupan masyarakat Kauman.

Perjuangan beliau tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perjuangan yang penuh dengan pengorbanan dan jerih payah. Perjuangan yang penuh dengan cucuran keringat dan air mata. Kini, Muhammadiyah telah memasuki usianya yang ke-107, sebuah perjalanan panjang yang melelahkan dalam mengedukasi dan mencerahkan ummat. Perjalanan panjang yang penuh onak dan duri, serta berbagai halangan dan rintangan. Akan tetapi, itu semua tidak menyebabkan Muhammadiyah menjadi kerdil dan surut dalam gerakan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar.

Berbagai terpaan badai, aral dan hambatan, menjadikan Muhammadiyah semakin kokoh, berkemajuan dan semakin terang menyinari bumi pertiwi. Capaian kemajuan Muhammadiyah secara kasat mata bisa dilihat semakin meningkatnya jumlah amal usaha Muhammadiyah yang tersebar di seantero nusantara, dari Sabang sampai Merauke bahkan sampai ke mancanegara. Muhammadiyah memiliki 7.651 sekolah dan madrasah, 174 universitas dan sekolah tinggi, 457 rumah sakit 318 panti asuhan, 54 panti jumpo dan 82 rehabilitasi cacat. Sementara, untuk masjid dan mushalla tercatat sebanyak 11.198 dan sejumlah BTM dan mini market yang kalau di valueasi mencapai Rp.320 trilliyun (Sudibyo,2014) seperti yang dikutip oleh laman pribuminews.co.id pada 30 Mei 2019.

Banyaknya aset yang dimiliki, melimpahnya amal usaha yang dikelola, nama besar yang disandang, jangan menyebabkan Muhammadiyah menjadi abai akan kemungkinan sesuatu yang mengancam. Dimana ada gula akan mendatangkan semut-semut untuk berebut. Ancaman itu datang untuk menghancurkan atau yang hanya sekedar mencari penghidupan di Muhammadiyah yang pelan tapi pasti menggerogoti kebesaran Muhammadiyah.

Maka dibutuhkan rasa mawas diri untuk tetap menjaga keberlangsungan Muhammadiyah dimasa yang akan datang. Dibutuhkan pengawalan yang kuat dan terstruktur guna menyelamatkan aset organisasi dari rongrongan tangan-tangan tak bertanggungjawab. Ini bukan hanya sekedar menyelamatkan aset, akan tetapi lebih pada penyelamatan amanah dan trust yang dipercayakan umat kepada Muhammadiyah. Para pemangku seharusnya menyadari bahwa dipundaknya dibebankan tanggungjawab dan amanah untuk merawat dan menyelamatkan Muhammadiyah serta asetnya.

Lantas aset apa saja yang perlu diselamatkan di Muhammadiyah?; Berbicara aset tidak hanya terfokus pada bentuk barang dan bangunan, akan tetapi dua aset besar yaitu software dan hardware aset Muhammadiyah. Softwarenya berupa ideologi, kebijakan, nama besar dan kekayaan intelektual lainnya, sementara hardwarenya berupa kader, barang dan bangunan yang bernilai triliyunan rupiah yang dimiliki Muhammadiyah.

Ini bukan perkara mudah kalau tidak dikawal dan diurus dengan benar bukan tidak mungkin menjadi bancakan dan rebutan. Bukan menjadi rahasia umum lagi, bagaimana ideologi Muhammadiyah lambat laun baik sembunyi maupun terang terangan disusupi oleh paham lain yang tidak sejalan dengan ideologi persyarikatan. Bagaimana paham-paham tersebut dihantarkan ke ruang-ruang amal usaha Muhammadiyah sehingga mempengaruhi kader-kader pergerakan.

BACA JUGA :  Haedar Nashir Prihatin dengan Fenomena Kerajaan Palsu

Sebuah kerugian besar bagi Muhammadiyah ketika ideologinya tergerus, praktik keberagamaan sudah tidak lagi seperti yang digariskan Muhammadiyah. Militansi kader akan melemah memperjuangkan Muhammadiyah. Lantas bagaimana cara dikemudian hari untuk mengawal Muhammadiyah?;

Intensifikasi Pengkaderan Muhammadiyah

Pengkaderan Muhammadiyah sudah terstruktur dengan baik, dari mulai tingkatan pelajar sampai pemuda- pemudinya yang tersebar di berbagai organisasi otonom Muhammadiyah. Pengkaderan ini bertujuan untuk membentuk dan mengarahkan para pelangsung perjuangan Muhammadiyah. Maka diperlukan kader-kader yang tangguh dan rela hati untuk berjuang menghidupkan Muhammadiyah. Tidak dipungkiri, banyak kader-kader persyarikatan yang belum paham Muhammadiyah itu seperti apa dan bagaimana seharusnya ber-Muhammadiyah.

Secara Tipologi diklasifikasikan kader Muhammadiyah itu sebagai berikut; Pertama, Kader Ideologis, kader ini adalah generasi penerus persyarikatan yang memegang teguh ideologi Muhammadiyah. Kader inilah yang sangat diharapkan oleh Muhammadiyah, kader yang dengan rela hati mewakafkan dirinya untuk berkhidmat di Persyarikatan. Kader yang dengan ikhlas menentukan pilihannya untuk berjuang menegakkan Islam lewat Muhammadiyah dikarenakan kesepahaman dalam ide dan fikiran.

Kedua, Kader Biologis, kedar ini adalah generasi penerus organisasi yang berMuhammadiyah dikarenakan dia dilahirkan oleh dan dari keluarga Muhammadiyah. Sehingga dengan sendirinya merasa dia bagian dari keluarga besar Muhammadiyah. Ketiga, Kader Pragmatis, kader ini adalah orang yang bergabung di Muhamadiyah dikarenakan sebuah kepentingan. Dia akan berjuang di Muhammadiyah jika dia mendapatkan sesuatu dari Muhammadiyah. Dia tidak lagi memikirikan ideologi, tujuan dan kepentingan Muhammadiyah. Kader seperti ini hanya memikirkan dirinya sendiri.

Keemat, Kader Oportunis, tipologi kader ini lebih parah lagi, dia berpura-pura berjuang di Muhammadiyah padahal sejatinya ada sesuatu yang menjadi taget. Berjuang di Muhammadiyah tidak sungguh-sungguh, tidak ikhlas karena ada udang dibalik batu. Dia menjadi penumpang gelap di kapal Muhammadiyah.

Dengan beragamnya kader-kader Muhammadiyah dibutuhkan format pengkaderan yang intensif untuk mengakomodir kebutuhan organisasi dan menangkal ancaman. Diharapkan, pengkaderan yang dilakukan ini mampu membumikan ideologi muhammadiyah kedalam dada-dada para kader.

Pengakaderan yang mampu memahamkan nilai-nilai MKCH Muhammadiyah dalam benak para kader karena MKCH merupakan preambule bagi Muhammadiyah. Pengkaderan yang bisa membuat para kader bertindak sesuai Khittah Perjuangan Muhammadiyah karena Khittah Perjuangan Muhammadiyah sebagai Garis Besar Haluan Organisasi (GBHO).

Mengisi Amal Usaha Muhammadiyah dengan Kader

Salah satu upaya untuk mengamankan dan mengawal Muhammadiyah ialah dengan menyebar kader-kader persyarikatan di amal usaha milik Muhammadiyah. Sebaran kader diberbagai amal usaha Muhammadiyah (AUM) diharapkan menjadi tameng penyelamat aset dan pengawal ideologi Muhammadiyah.

Inventarisir Aset Muhammadiyah

Aset Muhammadiyah yang tersebar diseluruh nusantara dan disebagian mancanegara kepemilikannya adalah pimpinan pusat. Ini kadang yang menjadikan pengurus dibawahnya menjadi lalai dalam menginventarsir aset-aset Muhammadiyah. Berakibat, betapa banyak aset yang diamanahkan kepada Muhammadiyah berpindah tangan kepengurusannya. Sekali lagi, ini bukan hanya sekedar siapa yang mengurus dan mengelola, akan tetapi Muahmmadiyah tidak mampu menjaga amanah ummat yang dipercayakan kepada Muhammadiyah. Dengan begitu, Muhammadiyah menjadi khianat karena tidakmampu menjaga amanah.

Sertifikasi dan Papanisasi Aset

Guna menghindari pencaplokan aset Muhammadiyah salah satunya cara adalah dengan mensertifikat dan memberi papan nama disetiap aset Muhammadiyah. Dengan demikian masyarakat tahu bahwa aset tersebut milik dan dikelola Muhammadiyah. Berdampak, orang-orang diluar Muhammadiyah setidaknya enggan untuk berebut properti tersebut.(*)

*) Aktivis Pemuda Muhammadiyah di Pamekasan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here