Relawan Ponpes An-Nida saat mngajar di sekolah darurat. (Agiel/PIJARNews.ID)

BOGOR, PIJARNews.ID – Pasca banjir dan longsor pada awal tahun 2020 lalu, warga Desa Cisarua, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor kesulitan mengakses jalan untuk keluar masuk desa. Selain itu, dampak banjir dan longsor juga dirasakan oleh SD Negeri 2 Cisarua yang kesulitan melakukan kegiatan belajar mengajar.

Dua bulan pasca bencana, hingga saat ini Sabtu (15/2/2020) kegiatan belajar mengajar masih tersendat, sekitar 21 anak sekolah dasar terpaksa melakukan proses belajar di gubuk sederhana. Gubuk yang dibangun oleh relawan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang bekerja sama dengan Pondok Pesantren (Ponpes) An-Nida Bogor beserta warga setempat, mulai beroperasi sejak hari Senin (5/2/2020) .

Dani Ardiansyah, selaku relawan dari IMM Bogor yang juga selaku guru sementara sekolah darurat menjelaskan, bahwa tujuan didirikannya sekolah darurat ialah untuk mengembalikan semangat belajar anak-anak. “Kami juga berusaha untuk menghilangkan trauma anak-anak pasca bencana, sehingga mau berangkat lagi ke sekolah,” jelasnya.

Dani juga menambahkan, perlunya sarana dan prasarana pendukung guna terciptanya suasana nyaman saat belajar. “Meski hanya sekolah darurat, kami sangat butuh guru pengajar tetap serta peralatan pendukung, agar siswa merasakan susana pembelajaran yang nyaman,” tambahnya.

Ke depannya relawan beserta orang tua siswa berharap agar akses jalan kembali normal, dan anak-anak kembali bersemangat untuk sekolah seperti biasanya.

Reporter: Agiel LP Penulis: Agiel LP Editor: Afrizky A

BACA JUGA :  Pedagang Sayur Magetan-Madiun Dilarang Masuk Wilayah Kabupaten Ponorogo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here