Hendra Hari Wahyudi, ilustrasi oleh RDS/ PIJARNews.ID.

PIJARNews.ID – Dalam kehidupan akan ada suatu kebutuhan, dari sandang, pangan, papan, hingga pasangan. Terkadang, kaum muda yang sudah beranjak dewasa dan waktunya menikah, memilih untuk menunda. Banyak faktor yang menjadi alasan, mulai dari ekonomi, pendidikan, sampai belum punya pasangan.

Kalimat “belum siap” kadang juga menjadi alibi bagi mereka yang sudah menjalin hubungan, namun belum berani untuk menghalalkan. Setiap hal diciptakan Tuhan berpasangan, termasuk manusia. Dalam surat Az- Zariyat Ayat 49 Allah berfirman; “Dan segala sesuatu Kami Ciptakan Berpasang – pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” Maka, manusia pun berhak mempunyai pasangan.

Beberapa hal menjadi penghambat kenapa manusia yang sudah melalukan pendekatan mengalami hambatan, diantaranya restu orangtua. Restu orang tua memang menjadi jembatan yang mulus untuk berjalan menuju ridho Allah. Namun hakikatnya, jodoh itu kita yang memilih, orangtua yang merestui, Allah yang meridhoi. Para muda-mudi terkadang lebih suka menjalin hubungan tanpa status, mereka lebih nyaman pada jalinan yang mereka sebut “pacaran” yang dimana pada akhirnya akan berakhir dengan tangisan, bahkan kekecewaan.

Sudah pasti, karena sejatinya pacaran hanya akan membawa kepada kemaksiatan dan kekecewaan. Tidak ada istilah pacaran syar’i, karena sesungguhnya Allah melarang lelaki dan perempuan yang bukan mahram berdekatan, apalagi berpegangan. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata; “Tidak. Demi Allah, tidak pernah sama sekali tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyentuh tangan wanita (selain mahramnya), melainkan beliau membai’at mereka dengan ucapan (tanpa jabat tangan).” (HR. Muslim).

Tapi, bagaimana saya bisa mengenal lawan jenis? Mengenal lawan jenis zaman sekarang mudah, bisa melalui media sosial, namun harus dengan kesantunan, menjunjung adab serta norma agama dan kesusilaan. Lalu bagaimana yang sudah berpacaran? Putuslah! Kenapa?. Sesuai keterangan saya diatas, bahwa ujung dari pacaran hanya kekecewaan. Jika kalian sudah yakin dan mantap dengan pasangan yang menjadi pilihan, maka menikahlah. Bukankah lebih enak jadi manten daripada jadi mantan?.

Jangan pernah merasa belum siap atau takut saat akan menikahi seseorang. Kadang, pemuda terutama, takut kalau menikah akan menambah beban. Dari biaya hidup, sampai biaya untuk anak. Memang yang namanya manusia selalu diliputi rasa takut, sebagaimana firman Allah;
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah ayat 155).

Jika kita mau berusaha, rezeki akan datang dari apa yang kita usahakan, bahkan dari jalan yang tidak di sangka-sangka. Allah berfirman, “… Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya, dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. At-Thalaq, ayat 2-3).

BACA JUGA :  Pembangunan Partisipatif Memutus Mata Rantai Kemiskinan

Jika kita beriman, maka kita tidak akan ragu dalam mengambil keputusan untuk menikahi seorang wanita. Allah akan membukakan pintu rezeki dari arah manapun, jika kita mau berusaha dan bertaqwa padaNya. Begitu pula sebagai perempuan, jika engkau telah menemukan pilihan yang tepat dalam hatimu, jangan ragu untuk memintanya (lelaki) untuk menikahimu. Karena laki-laki yang benar-benar mencintaimu, ia akan datang ke orangtuamu untuk meminangmu.

Jika lelaki itu tidak berani menghadap orangtuamu, maka perlu kamu pertanyakan cintanya. Bukan bermaksud mengkategorikan semua lelaki sama, namun sebagai perempuan, sudah seharusnya menjaga harkat dan martabatnya ditengah krisisnya moral di era digital. “Perempuan adalah tiang negara, Jika ingin menegakkan negara, lindungilah perempuan; dan jika ingin menghancurkan negara, hinakanlah perempuan”. Kalimat itu menyimpan pesan tentang betapa pentingnya peran perempuan.

Dalam Islam, perempuan sangat dijaga martabatnya, larangan pacaran dalam Islam adalah salah satu cara Islam untuk menjaga harga diri perempuan. Maka, sudah seharusnya seorang perempuan menjaga dirinya dari api neraka jahanam. Madrasah pertama seorang anak adalah rumah, dan guru pertamanya adalah ibunya. Mungkin itulah kenapa perempuan menjadi tiang negara, yang dimana generasi penerus bangsa ditentukan seperti apa bimbingan dari orangtuanya, wabilkhusus seorang ibu.

Kembali kepada menikah, dalam An Nuur Allah ayat 32 berfirman; “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya…”. Dari ayat tersebut sudah jelas, bahwa Allah akan memberikan rezeki kepada keluarga (suami-istri).

Menikah memang bukan hanya soal finansial, tapi juga mental. Tapi, jika kita dasari dengan niat yang tulus berharap ridho Ilahi, semuanya akan terasa mudah. Permasalahan pun pastinya akan datang seiring perjalanan suatu pernikahan, jika kita mampu mengendalikan emosi dan bijak dalam bersikap semua akan terlewati. Karena masalah akan mendewasakan diri, dan ketika itu pula kekuatan cinta sebuah keluarga diuji. Jadi, kaum muda yang sudah dewasa, janganlah menjomblo terlalu lama, menikahlah! Karena pada pernikahan akan membawa ketentraman, menikah adalah menyempurnakan separuh agama.

Rasulullah bersabda; “Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah , maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.” (HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400).

Jodoh memang misteri dan seakan sulit ditemui. Tapi, jodohilah lelaki atau perempuan yang kalian sukai, karena jodoh itu kita yang memilih, orangtua yang merestui, dan Allah yang meridhoi. Semoga yang masih dalam kesendiriam segera menemukan pasangan.

(Penulis adalah Guru MIM 06 Tebluru Solokuro Lamongan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here