Sunanto Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah

PIJARNWES.ID – Membaca status Moh Naufal Dunggio yang viral, dengan tudingan bahwa Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah salah minum obat, rasanya risih, sedih sekaligus aneh. Risih karena tudingan dalam bentuk status di facebook itu terbuka dibaca siapapun. Jika niatnya mengkritik, gunakan mekanisme internal yang sesuai kaidah organisasi dan akhlaq Muhammadiyah. Karena jika di medsos, efeknya luas dan merusak. Akan tercipta kesalahpahaman yang meluas. Padahal PP Muhammadiyah melalui Majelis Pustaka dan Informasi telah mengeluarkan tuntunan tentang etika ber media sosial. Lebih jauh dengan berhalusinasi, Dunggio telah menuduh macam-macam trhadap Ketua Umum PP Muhammadiyah, Bapak Dr. Haedar Nashir, salah satunya menyatakan bahwa sikap Ketua Umum berseberangan dengan sikap umat Islam dalam hal isu gerakan 212. Ketua umum itu simbol. Terlepas dari kebijakannya yang bisa dikritik, sebaiknya kritik dapat disampaikan secara internal dan melalui mekanisme organisasi yang bisa dipergunakan.

Apalagi bagi kami, tudingan saudara Naufal Dunggio itu sangat tidak mendasar. Basis tudingannya itu media sosial. Tanpa tabayyun terlebih dahulu, saudaraku Sunanto (Cak Nanto) dihakimi telah salah minum obat. Jika memang berbeda pendapat, gunakan mekanisme internal organisasi yang sehat. Sikap kasarnya pun jauh dari akhlaq Muhammadiyah.

Apakah saudara Naufal Dunggio hadir di acara pelantikan dan mendengarkan langsung pidato iftitah tersebut? Jika informasinya sekunder, bukan langsung (primer), apakah bisa dipertanggungjawabkan? Orang awam saja bisa menilai betapa lemahnya informasi awal yang menjadi dasar tulisan kasar tersebut.

Sedihnya lagi, kenapa urusan seperti ini jauh lebih menarik dibahas dibandingkan membahas bagaimana organisasi ini dijaga dan dimajukan. Saya kira pikiran Cak Nanto dalam pidato iftitahnya jauh lebih visioner ketika berbicara tentang masa depan bangsa, dibanding soal dukung mendukung calon Presiden dan Wakil Presiden. Karena sejauh ini, bagi saya sendiri, kapitalisasi politik umat sepertinya lebih menguntungkan para kontestan, dibandingkan kepentingan umat.

BACA JUGA :  Belajar Ilmu Ikhlas dari Ultras

Anehnya lagi, kenapa Naufal Dunggio itu bisa jadi aktivis Muhammadiyah. Apakah orang sekasar ini pernah ditempa di jenjang kaderisasi? Tidak pahamkah etika organisasi dan akhlaq Muhammadiyah? Tulisan Naufal Dunggio itu bagi kami tak layak dianggap mewakili pikiran warga Muhammadiyah, karena jauh dari karakter kader Muhammadiyah. Kritik itu harus, tapi menyerang personal adalah sikap tuna adab. Bahasa kasar seperti itu tidak lazim dan tidak pantas disampaikan oleh seorang aktivis Muhammadiyah, apalagi sebagai ketua Lembaga Dakwah Khusus. Bukankah saat menyampaikan dakwah harus dengan hikmah dan baik-baik, Ud’u ila sabili rabbika bil hikmah wal mau ‘idhatil hasanah wa jadilhum bil lati hiya ahsan.

Terkait dengan gerakan 212, sebagai salah satu pendukungnya, namun kini saya melihat secara terus menerus dikapitalisasi untuk kepentingan politik tertentu, saya menyarankan agar Naufal Dunggio segera membentuk ormas dan atau partai politik resmi saja agar ikut pemilu pada tahun 2024. Saudara Naufal Dunggio bisa menjadi salah satu pengurusnya daripada aktif di Muhammadiyah, tapi tidak paham sikap beragama yang moderat di Muhammadiyah dan merasa tidak pas terus di Muhammadiyah.

Saya malah curiga, yang salah minum obat itu saudara Naufal Dunggio. Terbukti dengan bahasanya yang kasar dan jauh dari akhlaq Muhammadiyah. Semoga saja tidak banyak orang seperti itu di Muhammadiyah. Mari kita bangun tradisi kritik, namun gunakan etika dan lakukan di dalam dengan penuh hikmah dan dengan cara yang baik karena bukan dengan musuh yang harus diperangi. Wallaahu’alam

Oleh: Iu Rusliana
(Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat)

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here