Nu'man Iskandar. (RDS/PIJARNews.ID)

PIJARNews.ID – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Malang Raya meluncurkan buku “Pedoman Pemberdayaan Masyarakat”. Sebagai orang yang telah lama terlibat dalam berbagai gerakan advokasi dan pemberdayaan masyarakat, terbitnya buku “Pedoman Pemberdayaan Masyarakat” oleh IMM Malang Raya ini patut kita apresiasi. Ini capaian yang luar biasa.

Saya sebut luar biasa karena IMM telah berani masuk ruang baru bernama masyarakat meski itu adalah habitat mereka yang sesungguhnya. Mengapa masyarakat disebut sebagai habitat yang sesungguhnya bagi mahasiswa, adalah karena mahasiswa lahir sebagai bagian integral dari masyarakat.

Keberanian ini adalah sebuah lompatan yang luar biasa, IMM tidak lagi berkutat pada masalah kemahasiswaan an sich. Saya ucapkan selamat datang mahasiswa di dunia baru filantropi.

Namun, sebagai orang yang telah lama terjun dalam pemberdayaan masyarakat ada banyak catatan terkait buku “Pedoman” ini. Yaitu, buku ini harus dilihat sebagai buku pertama, ini artinya buku harus segera disusul dengan “Buku Pedoman” berikutnya. Jika dalam dunia kegawatdaruratan kita mengenal PPPK (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan), maka buku ini adalah pintu masuk dalam dunia Pemberdayaan.

Karena itu kelahiran buku harus dilihat sebagai upaya brainstorming dalam pemberdayaan masyarakat. Dalam dunia filsafat mungkin bisa kita sebut dengan pengantar epistemologinya, di mana buku ini adalah upaya dalam menerjemahkan teori teori pengetahuan tentang pemberdayaan masyarakat, belum pada pemberdayaan masyarakat itu sendiri.

BACA JUGA :  Meningkatkan Kadar Kesabaran

Itulah mengapa, perlu segera lahir “Buku Pedoman” berikutnya. Seperti misalnya terkait dengan manajemen, penggunaan jejaring, teknik dan inovasi serata berbagai metodologi riset pemberdayaan harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pemberdayaan.

Mengapa demikian? Pemberdayaan adalah bentuk tertinggi dari adanya partisipasi yang meniscayakan keterlibatan masyarakat secara otentik. Karenanya, capaiannya bukan lagi nominal, instrumental dan representasi, tetapi sudah pada tahap transformasi. Capaian akhir dari pemberdayaan adalah kemandirian. Dengan kapasitas yang dimiliki, masyarakat memiliki kemampuan untuk menjawab tantangannya sendiri dimasa mendatang. Dan untuk sampai pada tahapan transformasi, diperlukan pembangunan dan penguatan kapasitas kapasitas mahasiswa sebelum jauh terlibat pada kerja-kerja filantropi pada masyarakat.

Pemberdayaan, artinya meniscayakan adanya upaya untuk melakukan penguatan. Baik pada penguatan sendiri sebagai bentuk keberpihakan, juga agar yang lemah (dhuafa) dan tertindas (mustad’afin) ini menjadi berdaya. Pemberdayaan ini sebagai upaya untuk keluar dari posisi lemah dan tertindas dengan memanfaatkan sumberdaya yang dimiliki menjadi mandiri dan berdaulat. TABIK, Salam Pemberdayaan!!!.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here