R. Fauzi Fuadi. (RDS/PIJARNews.ID)

PIJARNews.ID – Bila ada pertanyaan mana yang lebih mudah menjadi toleran atau intoleran? Maka untuk sementara ini harus diakui menjadi intoleran lebih mudah dari pada menjadi toleran. Tindakan intoleransi seperti kekerasan, intimidasi, fitnah, hate-speech, penyerangan sebuah kelompok terhadap kelompok lain, hingga terorisme telah menjadi laku sebagian kelompok atau ormas.

Telinga kita mungkin tak asing lagi mendengar nama Buya Syafii, panggilan akrab seorang Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif yang kini telah berusia 84 tahun. Salah satu dari “Tiga Pendekar dari Chicago” ini dikenal sebagai tokoh lintas agama yang tak pernah lelah menggaungkan toleransi dan rasa kemanusiaan di negaranya. Pemikirannya tersebut membuka pintu cakrawala keilmuan pemuda-pemudi penerus bangsa yang mempunyai kesamaan pikiran.

Selain dikenal sebagai tokoh lintas agama, cendekiawan, dan sejarawan, mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1998-2005 ini juga dikenal sebagai Guru Bangsa. Sepeninggalan tokoh-tokoh besar seperti Prof. Nurcholish Madjid dan KH. Abdurrahman Wahid, mungkin hanya Buya Syafii yang sampai hari ini menjadi guru bangsa yang tersisa, tanpa bermaksud menafikan nama dan tokoh lainnya.

Mengabdi untuk Kemanusiaan

Selain dikenal sebagai akademisi yang mumpuni dalam bidang sejarah, Buya Syafii juga terlibat aktif dalam mengadvokasi golongan-golongan minoritas. Ia merupakan tipikal intelektual yang tidak betah berdiam lama dibalik tembok kampus. Jiwanya senantiasa resah, ia seolah tiada jemu memikirkan persoalan yang mendera bangsanya. Sosoknya yang pluralis, inklusif, dan toleran memang acapkali memicu pro-kontra atas keputusan yang telah diambilnya.

Kendati demikian seorang Buya Safii tak mau ambil pusing, ia tahu bahwa semua ini adalah konsekuensi logis dari apa yang ia yakini dan perjuangkan selama ini. Bahkan, ia semakin tertantang untuk lekas memberi sumbangsih peran untuk mengeluarkan anak bangsa dari penjara keterbelakangan.

Melalui tulisan-tulisannya, Buya banyak berbicara tentang nilai-nilai kemanusiaan universal, nasehat-nasehatnya kepada anak-anak muda yang kelak menjadi penerus bangsa sangatlah inspiratif, misalnya saja nasehat Buya Syafii pada acara purna santri Muallimin, dilansir dari beritaterbit.com (2008).

“Jadi pemimpin itu sangat berat, tapi mulia dan menantang. Pelajari riwayat pendiri negara, agar tahu kenapa bangsa dan negara kita harus merdeka. Jadikan politik untuk menegakkan keadilan, bukan mata pencaharian. Kita harus mampu bergaul dengan siapa saja, bahkan yang mengaku tidak beriman. Lakukan Amar Ma’ruf Nahi Munkar di manapun. Jadilah ikan laut, hidup di air yang asin tapi tidak dengan dagingnya. Ketika kondisi negara tidak baik seperti saat ini, tidak cukup hanya dengan membantu. Berkemajuan adalah memperbanyak kawan dan meniadakan musuh. Di semua unit peradaban, minoritas yang berkualitas adalah penentu. Perbanyak membaca, merenung, dan menulis.”

Menjunjung Tinggi Kemanusiaan

Menurut Moh. Shofan seperti dikutip dalam buku “Merawat Kewarasan Publik: Refleksi Kritis Kader Intelektual Muda tentang Pemikiran Ahmad Syafi’i Ma’arif (2018),” menuliskan, cerita kehidupan seorang Buya adalah cerita keteladanan, cerita seorang cendekiawan dengan kepribadian yang humanis yang memandang bahwa setiap manusia harus dihormati sebagai seorang manusia seutuhnya, bukan karena dia bijaksana atau tolol, baik atau jelek, dan tanpa memandang agama, ras, suku, bahasa, atau budaya.

Humanisme selanjutnya, adalah pilar utama agama, dan tiada agama tanpa humanisme. Agama yang humanis pastinya menempatkan harkat dan martabat yang tinggi pada manusia. Dan Islam jelas Buya, adalah agama yang paling banyak bercerita tentang keluhuran budi manusia. Menjadi manusia adalah undangan dari Tuhan untuk berbuat baik kepada sesamanya. Seperti ini pula yang dikumandangkan oleh Giovanni Pico Della Mirandola (seorang filsuf humanis zaman Renaissance Eropa), Hermes Trimegistus, Asclepius (seorang filsuf Yunani kuno) tentang manusia.

Pemikiran Egaliterianisme Islam Buya Syafii

Amirullah dalam buku “Merawat Kewarasan Publik (2018),” menyatakan bahwa, secara substantif Islam sebagai agama tauhid mendeklarasikan pesan egaliter untuk mengibarkan panji-panji persamaan dan keadilan bagi kepentingan manusia. Tauhid menjadi sumber dari egaliterianisme itu sendiri. Dalam pemikiran Buya Syafii, umat manusia punya sisi yang sama di hadapan Tuhan dan sejarah. Bila disana-sini tampak perbedaan, hal tersebut dimata Buya Syafii adalah karena yang satu berhasil mengembangkan potensi fisik dan ruhaninya, sedangkan yang lain menelantarkan potensi itu dengan sia-sia. Perbedaannya hanyalah terletak pada persoalan prestasi. Landasan etis inilah yang turut memperkuat keyakinan Buya Syafii tentang arti pentingnya egaliterianisme.

BACA JUGA :  Tuhanmu Lebih Besar daripada Masalahmu

Pandangan Buya Syafii yang berbasis pada tauhid ini memiliki kesamaan sekaligus dipengaruhi oleh pemikiran Muhammad Iqbal, Iqbal sendiri dalam bukunya “The Reconstruction of Religious Thought in Islam,” menyatakan bahwa intisari tauhid adalah persamaan, solidaritas, dan kebebasan. Artinya, meskipun bersifat teosentris tapi doktrin tauhid membagun kesadaran untuk mengaktualisasikan kehendak Tuhan untuk membangun tatanan kemanusiaan yang lebih baik.

Dengan kata lain, di dalam ajaran tauhid mengandung nilai seperti kebebasan (liberty), persaudaraan (fraternity), persamaan (equality) dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya. Pendapat semacam ini juga mendapat penegasan dari cendekiawan Kuntowijoyo, menurutnya, Islam adalah sebuah humanisme, yaitu agama yang sangat mementingkan manusia sebagai tujuan sentral. Baginya, pusat keimanan Islam memang Tuhan, namun ujung aktualisasinya adalah manusia.

Jalan Terjal Buya Syafii

Dalam kerja-kerja kemanusiaannya seringkali Buya membela orang-orang yang terdesak oleh karena ulahnya yang dianggap kontradiktif. Dari pembelaan-pembelaan itulah Buya kerap disalahpahami. Berbagai cercaan, umpatan, hinaan, bahkan sampai hujatan pun dialamatkan kepadanya. Tak hanya dikecam, banyak tulisan liar dan pernyataan pendek di media sosial yang memintanya agar segera bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Seperti kasus Ahok misalnya, Buya dianggap kafir karena membela orang kafir. Bahkan, mereka menuduh Buya telah “dibeli”. Namun, disinilah letak keagungan akhlak Buya. Ia lebih memilih untuk memberi maaf kepada mereka yang telah menghujatnya. Sebab Buya menyadari sebagaimana pepatah Arab bahwa, “Manusia adalah musuh apa saja yang tidak (belum) dipahaminya.”

Dalam melakukan advokasi terhadap kalangan minioritas Buya berpesan kepada generasi muda, bahwa harus ada keberanian untuk melakukan terobosan dengan berpijak atas dalil-dalil agama yang dipahami secara benar dan cerdas, tekstual sekaligus kontekstual. Buya ingin agar Islam yang dikembangkan di Indonesia adalah sebuah Islam yang ramah, terbuka, inklusif, dan mampu memberi solusi terhadap berbagai persoalan bangsa dan negara.

The Next Ahmad Syafii Maarif

Umur Buya Syafii telah memasuki masa senja 84 tahun sudah tenaga serta pemikirannya tentang kebudayaan, kemanusiaan, dan toleransi telah dipersembahkan. Hal tersebut semata-mata untuk menjaga keutuhan, persatuan dan kedaulatan negerinya.

Dalam rangka menjaga nafas gerakan, pemikiran kritis, dan sikap moral-intelektualnya, seorang Ahmad Syafii Ma’arif perlu adanya regenerasi dikalangan generasi muda yang berasal dari berbagai pelosok daerah di Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar dapat menggerakan gairah intelektual generasi muda ditingkat lokal serta membentuk jaringan intelektual atau aktivis yang mampu merespon tantangan persoalan keindonesiaan dengan melakukan advokasi sosial di tingkat akar rumput.

Saat ditanya Khadafi dalam wawancaranya bersama Mojok X Gusdurian Jogja perihal siapa penerus pemikiran Buya Syafii Ma’arif atau the next Buya Syafii, Buya menjelaskan bahwa banyak dari kalangan muda yang mewarisi pemikirannya seperti Zuhairi Misrawi, Ahmad Nadjib Burhani, Fajar, M Abdullah Darraz, Hasibullah Satrawi, dan masih banyak lagi anak muda yang mewarisi dan terus mengkaji pemikiran Buya Syafii Ma’arif.

Hal ini bisa kita temui pada buku terbitan Maarif Institute, dimana dalam buku tersebut merupakan sekumpulan refleksi kritis kader muda selama mengikuti Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Ma’arif (SKK-ASM) tentang pemikiran Buya Syafii, tentu tidak hanya dari kalangan Islam saja melainkan juga dari kalangan non-muslim pun turut mengkaji sekaligus mengapresiasi pemikiran Buya Syafii terhadap kerja-kerja kemanusiaannya.

Artinya pemikiran Buya Syafii tentang toleransi dan kemanusiaan adalah bingkai dalam bergerak maju, terbuka, ramah, progresif, dan rahmatan lil ‘alamin. Sementara itu, menekankan bahwa setiap manusia haruslah bersikap dinamis dan sangat manusiawi dengan memberi rasa keadilan, keamanan, serta perlindungan bagi setiap manusia secara menyeluruh.

Seperti pesan Buya Syafii bahwa, “Sebagai orang tua, saya berpesan agar generasi yang akan datang kemudian mau belajar sejarah nasional. Jangan sampai membiarkan bangsa dan negara ini berkuah darah lagi dalam sengketa sesama saudara.” Maka dengan ini kita sebagai generasi penerus bangsa sudah seharusnya untuk saling mengasihi, meghargai, dan menghormati sesama. Seperti yang pernah dikatakan Ali R.A, “Jika kita tidak sama dalam pemahaman, kita bersaudara dalam iman. Jika kita tak sama dalam iman, kita bersaudara dalam kemanusiaan”.

(Penulis adalah Wartawan PIJARNews.ID dan Pengajar di Ponpes Karangasem Paciran)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here