Ramliyanto Ketua FOKAL IMM Malang Raya saat mengisi stadium general. (BRO/PIJARNews.ID)

MALANG, PIJARNews.ID – Mantan aktivis mahasiswa tidak perlu sering bercerita nostalgia masa lalunya, karena kisah sejarahnya berbeda dengan kisah yang dialami aktivis mahasiswa jaman sekarang, dimana sekarang adalah kebutuhan yang serba cepat, dan bagi yang ketinggalan dipastikan menjadi generasi yang tidak terpakai atau tidak mengikuti jaman, atau yang sering disebut dengan era disruption.

Jaman sekarang sudah jauh berbeda dengan jaman sebelumnya, maka yang bisa disampaikan oleh mantan aktivis mahasiwa adalah semangat perjuangan menghadapi masa transisi setiap masa peralihan. Tanpa terkecuali, termasuk masa transisi aktivis mahasiswa ke masa yang akan dihadapi selanjutnya atau yang akan datang.

Hal tersebut disampaikan Ramliyanto, Ketua Forum Komunikasi Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (FOKAL IMM) Malang raya saat menjadi narasumber pada stadium general Musyawarah Cabang (Musycab) ke-XXIV IMM Malang Raya, Jumat (21/2/2020) di Aula GKB IV Kampus 3 UMM.

Dalam acara pembukaan Musycab ke-XXIV IMM Malang raya yang bertema “Meneguhkan Spirit Gerakan Profetik Menuju Kepemimpinan IMM Malang Raya yang Berintegritas dan Berkualitas”, Ramliyanto cukup berharap kepada aktivis mahasiswa sekarang agar mampu mendaur ulang semangat perjuangan dan pengorbanan para seniornya.

“Maka yang perlu ditularkan dan disampaikan kepada aktivis mahasiswa sekarang adalah bagaimana strategi daur ulang semangat perjuangannya,” ujar Ramliyanto yang sekarang menjabat sebagai Sekretaris Dinas Pendidikan Jawa Timur.

Ramli sapaan akrabnya sempat menyinggung tema yang diusung di Musycab IMM, dengan tema yang bagus dan intelektual, diharapkan mampu diterjemahkan dan diaplikasikan dalam gerakan nyata. Kemudian dia juga berkisah saat awal dirinya tertarik dan masuk organisasi IMM, saat itu ia kuliah di Fakultas Peternakan UMM, waktu itu berlokasi di kampus 2 Jl Bendunga Sutami, Sumbersari, Malang.

BACA JUGA :  Kopi Spesialti Bondowoso, Berawal dari Gaung BRK hingga FKN

“Saya dulu tertarik dan ikut Masa Kasih Sayang Anggota (Makasa) IMM ceritanya karena dari kegiatan kampus yang saat itu mengerikan seperti Penataran P4, kemudian lanjut dengan Ospek yang sangat disiplin dan keras. Makanya diperlukan suasana atau hubungan yang hangat dengan mahasiswa baru. Jika dilihat kegiatannya, saat Makasa yang ikut sangat senang karena merasa disayangi dengan menjelaskan tentang perguruan tinggi, bagaimana kuliah, dan sebagainya,” kenangnya.

Setelah pembahasan tema acara, ditegaskan juga agar aktivis mahasiswa harus menyiapkan masa transisi ketika sudah lulus dan menjadi bagian dari masyarakat dengan segala hal kemungkinan. “Era disrupsi, pemahaman sederhana adalah dimana ada perubahan ketika ada produk/zaman baru maka produk/zaman lama akan tidak berlaku seketika,” ujarnya.

Oleh karenanya, IMM menurutnya harus mempersiapkan masa transisi itu. “Jadi ketika berada ditengah masyarakat sudah biasa dan tidak gagap saat dibutuhkan. Transisi ini sangat cepat, jika tidak mengikuti dengan segera maka akan ketinggalan terus menerus. Kekuatan transisi sangat penting, jika tidak punya kekuatan tersebut maka bersiap untuk menjadi usang, ketinggalan atau biasa disebut kancrit,” tegasnya.

Seperti pesan pepatah, Ramli memungkasi dengan menyampaikan jangan menjadi katak dalam tempurung, jika ingin menjadi tokoh dan pelopor dimasa yang akan datang.

Reporter: BRO Penulis: BRO Editor: Ahmad

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here