Fenomena dunia malam Kota Surabaya

Malam itu, Kamis (22/9), semilir angin berhembus sayup-sayup.Kerlap-kerlip lampu warna-warni, begitu mencolok di tengah nuansa remang-remang menghiasi sudut emperan rumah.

Keheningan malam, pun pecah oleh irama musik yang saling bersautan dari berbagai penjuruh dengan volume besar. Sorot matanya ‘tajam’, bak elang yang akan menerkam mangsa. “Mas mampir mas, minum-minum dulu, mas”, kalimat itulah muncul dari mulut para pekerja seks komersial (PSK) di sepanjang jalan kawasan Dupak Bangunsari, Surabaya.

Dengan dandanan aduhai, para wanita sekitar umur 20-an terlihat asyik duduk berjejer, sesekali mengepulkan asap rokok.Trend pakaian, sengaja dipilih: rok mini, body press untuk memperlihatkan lekuk tubuhnya.

Demi menambah panasnya malam itu. Setting ruangan pun diperhatikan sedemikian rupa. Perpaduan botol minuman keras diselah kursih dan meja, tertata rapi. Bahkan, ornamen langit-langit pun tidak kalah pentingnya dibuat mempesona, dengan pernak-perniknya. Poster ‘guines’, di selah-selah dinding, kian menambah arstistik tersendiri.

Terlihat, dua lelaki parubaya, sedang diapit tiga perempuan, mereka asyik bercengkrama serta berkaraoke. Pelanggan terasa  betah berlama-lama duduk disana, bagaiaman tidak, sofa, layar pemandu karaoke pun dibuat ukuran jumbo oleh mucikari.

Aroma alkohol menyeruak ke segala penjuruh ruangan, mereka saling memaduh hasrat birahi. Terasa dunia seakan terus melaju tanpa berhenti. Persetan dengan agama, persetan dengan maut, yang hadirnya tak diundang itu.

”Pemandangan ini, menjadi ‘sego jangan’ –kebiasaan– mas, “ hal itu yang dirasakan Wiwi (39). Wanita yang kesehariannya berjualan itu, merasakan fenomena ini  sejak ia kecil. “Dulu, kakek saya memang germo alias mucikari, namun semenjak saya SMU alhamdulillah sudah tutup,” katanya. Wanita bertubuh gemol ini, menceritakan kepada PIJANWES.ID, bahwa di tahun 1970 di daerah tersebut, setiap rumah membuka praktik lokalisasi. Meskipun, penduduk asli tidak menjadi si pelaku—PSK–, namun praktik germo menjadi pilihan utama pekerjaan yang menjanjikan.

”Dahulu mereka sama sekali tidak tersentuh oleh agama, layaknya masyarakat jahiliyah, sebelum datangnya Islam,” kata, Prastowo turut memberikan kesaksian. ”Namun, alhamdulillah pada akhir tahun 80-an mulai menyusut,” jelas lelaki paruh baya ini.

”Bayangkan berapa PSK yang menjual dirinya disini, tatkala setiap rumah membuka praktik plus-plus.” ajaknya. Dia menambahkan, pada saat itu peranan pemerintah sangat minim. Malah, ada kecenderungan untuk membiarkan keberadaan wisma disini. ”Bahkan ada sejumlah pihak—oknum– yang memanfaatkan ini, tak ubahnya PSK menjadi sapi perah para oknum tidak bertanggungjawab itu,” tandasnya.

Walaupun, saat ini pemerintah dengan getol untuk menutup adanya lokalisasi. Belum tentu, akan mencabut seluruh akar permasalahan. ”Pada saat Ramadhan kemarin, para PSK, dipulangkan, dan setiap PSK itu diberi santunan sebesar 3,5 juta,” ucapnya. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan PSK akan kembali lagi, manakala uang itu habis.

”Ibaratnya dikasih ikan, bukan kail, tatkala ikan habis, bingung akhirnya datanglah kembali deh,,,” tambah dia, sembari senyum kecut.

”Tak pelak, program itu juga rentan dengan korupsi.”ungkap dia.

Tapi patut kita apresiasi pemerintah sudah melakukan berbagai hal, termasuk bentuk penyuluhan berupa keterampilan-keterampilan, menjahit, membordir dan lain-lain” katanya.

Tidak tanggung-tanggung, PSK disini memiliki asosiasi perkumpulan, hotline istilanya. Selain itu, pokja—kelompok kerja—sebagai advokasi bagi PSK yang terkena permasalahan. ”Misalnya, pokja mendata para PSK sekaligus penyuluhan untuk memperhatikan kesehatan kewanitaannya,”terang Prastowo.

Erik (28) bukan nama sebenarnya, selaku PSK mengatakan, dipilihnya terjun kedunia ‘hitam’ semata-mata karena faktor ekonomi yang mendorongnya. Terjerembabnya wanita asal Pasuruan ke ‘lembah’ ini, karena sulitnya mencari pekerjaan. ”Gimana lagi, saya punya anak dua, lapangan pekerjaan susah,” selorohnya.

Perempuan yang sempat mengenyam pendidikan sampai SD ini,  merasa enjoy dengan pekerjaan itu yakni mudah mendapatkan uang. Dalam semalam, dia rata-rata mendapatkan tamu minimal lima. Adapun tarif sekali kencan, dia mematok harga 50-60 ribu. Namun, harga itu, terpotong sewa kamar sebesar 15 ribu, untuk mucikari.

BACA JUGA :  Ikuti Aksi di Kepolisian Daerah Jawa Timur, AMM Jombang juga Mendesak Presiden Keluarkan Perppu KPK

Selain itu, faktor retaknya rumah tangga juga turut memperangainya. ”Suami saya selingku mas, saya sakit hati,”katanya sambil menghela nafas panjang. Dia mengaku sebelum menjadi penghuni wisma Bangunsari, sempat bekerja dengan profesi sama di tretes selama empat bulan. Bahkan, dia mengaku pernah dijual suami pertama ke mucikari. ”Saya dimasukkan ke lokalisasi oleh suami, sementara uangnya dia yang menikmati,” terang wanita yang sempat menikah dua kali ini.

Berbanding terbalik dengan nasip Sriyatun (55) selaku mantan PSK. Sriyatun kini berubah total dalam kehidupannya. Kini, dia dihadapkan hari-harinya bergelut dengan sampah.

”Meskipun, dulu uang mudah didapat, bergelimang harta, namun batin rasanya ingin menjerit,” katanya berkaca-kaca.

Wanita yang kini hidup sebatang karang ini, mengaku lebih senang menjadi pemulung, daripada pekerja ‘gelap’. ”Toh, pekerjaan ini cukup untuk makan,”katanya.

Berhentinya Sriyatun, dari dunia esek-esek , bukan semata-mata tidak laku lagi dipasaran. Melainkan panggilan jiwanya untuk insaf atau taubat, ”Saya punya agama,  punya Pengeran–Tuhan–, apakah hidupku akan selamanya seperti itu, berlumur dosa,” imbuhnya.

Wanita ini merasa bahagia dengan hari-harinya, meskipun cemoohan datang dari teman sesama PSKnya dahulu. ”lapo mbak Sri susah-susah golek rosokan,” terangnya.

Lasmuji (45), selaku pegiat musholah mengutarakan. Puncaknya pada tahun 2002, banyak warga yang bangkrut dengan praktik mucikari. Pria penjual kopi ini, menerapkan falsafah jawa dalam hidupnya, ”mancolo putro, mancolo putri”, artinya, kita harus bisa menyesuaikan diri ditempat ia tinggal.

Pria yang aktif di berbagai kegiatan masyarakat ini, mengaku sebelum menghuni warungnya, tempat itu dijadikan mabuk-mabuk’an. Namun dengan perilaku setiap harinya di masyarakat, selalu berjama’ah, tidak mabuk-mabukkan, akhirnya para pemabuk sungkan untuk melakukan hal tersebut ditempat itu.

Dia menambahkan, berda’wah tidak hanya di mimbar saja, dimanapun, dan kapanpun bisa berda’wa. ”siapapun bisa berda’wah sesuai dengan profesi masing-masing, beradagang, pegawai, di kantor ddi tempat-tempat kerja lainnya,”katanya.

”Menariknya banyak germo disini ada yang sudah berhaji, adajuga yang tidak meninggalkan shalat lima waktu, tapi bisnis mucikari juga terus jalan,” kesaksianya. Pria bertubuh gempal ini, juga menerapkan falsafah ”perang tanpa bolo, menang tanpa ngasorake”.

”Da’wah kita berhasil, dengan perilaku kita, meskipun kecil yang bisa kita lakukan, kita masuk dalam kehidupannya, namun kita bisa mempengaruhi pola pikir mereka, tanpa kita tidak membuat mereka tersinggung, istilanya memanusiakan mereka,” terang dia.

Surutnya, praktek ini, tidak lepas dari peran lembaga pendidikan yang bermunculan disana. Menurut Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) setempat, Moh, Arif An, proses untuk membuat masyarakat sadar kita awali dengan pendidikan. ”Kita serang dari anaknya, melalui pendidikan-pendidikan termasuk lembaga Muhammadiyah, ketika anaknya faham mana haq dan mana bathil, maka anak itulah, setidaknya akan memupus tumbuh suburnya praktik itu,”kata Arif.

Selain itu, program-program sosial juga digalakkan. ”Pelatihan-pelatihan juga tidak luput dari kerja persyarikatan,”jelasnya.

”Proses membaurnya para PCM dengan masyarakat, setidaknya membuat masyakat tersentuh dan tergerak untuk menyudai praktik yang selama ini turun-menurun,” ucapnya semangat.

Menurut Ketua Pimpinan Cabang Aisyiyah, Hj Endang Suwarti Ningsih, pendekatan secara kultural merupakan cara paling ampuh untuk memutus rantai praktek prostitusi. ”Aisyiyah punya agenda kajian keliling, atau disebut da’wah bil hal, misalnya, dengan membesuk germo yang sakit, mengajak kajian agama,”terang dia.

”Tak ketinggalan pula bentuk kegiatan sosial juga kerap dilakukan ibu-ibu Aisyiyah, misalnya, penyuluhan HIV AIDS, pembagian mukena kepada para PSK,” kata istri H. Agus.

Selain itu, ibu Aisyi’ah selalu berupaya membeli rumah yang dijadikan tempat prostitusi tersebut. ”Ibu-ibu selalu dengan sekuat tenaga, bagaimanapun caranya rumah itu cepat dijual,”terangnya. Dengan demikian, ketika wisma beralih tangan kepada ibu Aisyiyah berubah fungsi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here