Sholikul Huda (sisi kanan) saat menjadi narasumber dalam Sekolah Kebangsaan PDPM Gresik. (Haqi/PIJARNews.ID)

GRESIK, PIJARNews.ID – Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten Gresik membuat Sekolah Kebangsaan yang dilaksanakan pada Ahad (23/2/2020) di SD Muhammadiyah 2 GKB.

Acara diawali dengan sambutan Ketua PDPM Gresik Aditama, dan dibuka oleh Taufik Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik. Sedangkan Sholikul Huda sebagai pemateri mengawali dengan mengutip slogan Bung Karno, “jangan sekali-kali melupakan sejarah”.

“Hari ini ada karena hari kemarin, dan Muhammadiyah ada hari ini karena pendahulu-pendahulu kita. Oleh sebab itu mari kita do’akan para pendahulu dan semoga hari ini kita bisa lebih baik,” ucapnya.

Selanjutnya Sholik lebih mengajak peserta untuk diskusi dengan membuat forum tanya jawab. Juanto Ahmad sebagai peserta seketika bertanya tentang kurangnya kader Muhammadiyah dalam sektor pemerintahan. “Bagaimana cara kader bisa melengkapi itu?,” tanya Juanto yang juga sebangai Ketua Bidang Hikmah PDPM Gresik.

Juanto Ahmad, sebagai peserta saat bertanya. (Haqi/PIJARNews.ID)

Dari pertanyaan mendasar itu, Sholik kemudian menjawab dengan membagi masalah yang harus diselesaikan bersama. Baginya tugas pertama adalah pemetaan warga Muhammadiyah di Kabupeten Gresik. “Jadi ibarat mau perang, kita sebelumnya harus tahu berapa jumlah warga kita. Data itu penting, dengan itu kita bisa perbaiki kondisi internal jika ada kuranganya,” ucapnya.

Kedua adalah peta potesi, menurut Sholik apa saja yang menjadi profesi warga kita seperti pedagang, nelayan, dan sebagainya, sangat bisa untuk menjadi kekuatan untuk maju berkompetisi, baik legislatif maupun eksekutif.

BACA JUGA :  Sentralitas Keputusan Politik di Indonesia

Ketiga adalah peta masalah, bagi Sholik penting juga untuk tahu permasalahan warga Muhammadiyah. “Kembali berkaitan dengan data, namun hal ini meliputi daftar warga Muhammadiyah yang miskin, yang tidak bisa sekolah, hingga jumlah janda. Kalau bukan kita yang merawat terus siapa lagi?, karena kalau sudah murtad atau pindah agama lain jangan menyalahkan mereka. Itu salah kita yg tidak bisa menolong warga kita sendiri,” terangnya.

Keempat adalah tentang rekayasa sosial, bagi Sholiq tokoh itu harus diorbitkan, diberi tempat dan didukung. “Tidak ada seseorang itu yang tiba-tiba jadi Bupati, Kepala Desa, Gubernur, dan sebagainya. Jadi tugas kita harus menyiapkan dari sekarang untuk mengorbitkan kader,” ujarnya.

Sholikhul Huda yang juga selaku Direktur Lembaga Riset Kedai Jambu Institute (KJI), percaya jika keempat hal tersebut dilakukan pelan-pelan akan menjawab keresahan tentang kurangnya kader Muhammadiyah di sisi pemerintahan.

Reporter: M. Haqi Penulis: M. Haqi Editor: Suhartatok

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here