Talk Show saat berlangsung. (Alim/PIJARNews.ID)

SURABAYA, PIJARNews.ID – Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Jawa Timur (DPD IMM Jatim), mengadakan acara Talk Show dengan tema “Menatap Potensi Radikalisme dan Pro Kontra Kepulangan Eks ISIS” yang bertempat di Warung Mami Surabaya, Jum’at (28/2/2020) malam.

Andreas Susanto, Ketua DPD IMM Jawa Timur menjalaskan jika kegiatan ini dilakukan akibat menguatnya isu radikalisme serta indikasi kelompok tertentu yang mencoba mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi lain. “Terlebih lagi tentang wacana pemerintah yang akan memulangkan anak Eks ISIS ke Indonesia, sehingga menimbulkan keresahan bagi sebagian masyarakat,” ujarnya.

Selanjutnya sebagai narasumber acara adalah Ali Mutohirin (Ketua Bidang Hikmah PP Pemuda Muhammadiyah) dan Bambang Agus (Komandan Polisi dan Plt. Kasubdit V Ditintelkam Polda Jawa Timur).

Ali Muthohirin mengawali dengan mengatakan isu radikalisme menjadi kuat juga akibat dari keran demokrasi sejak tahun 1998 yang mulai terbuka lebar. “Banyak ideologi yang masuk dan menjadikan masyarakat terpengaruh dengan ideologi yang berasal dari luar. Akhirnya juga berpotensi melahirkan kelompok ekstrimisme yang merupakan cikal bakal kelompok radikalisme di Indonesia,” ungkap Ketua DPP IMM Tahun 2016-2018 tersebut.

Ali juga menambahkan bahwa dalam kasus radikalisme ini, harus ada solusi alternatif yang dibawa oleh anak-anak muda, khususnya kader muda Muhammadiyah, agar ideologi ekstrimisme-radikalisme ini tidak semakin meluas. “Solusi terbaik adalah dengan meneguhkan ide moderasi agama dalam kehidupan bermasyarakat. Moderasi agama merupakan paham keagamaan yang mengambil jalur tengahan atau wasatiyah,┬ádan tidak mengukuti paham yang terlalu condong ke kanan dan ke kiri,” katanya.

BACA JUGA :  Jadikan Momentum Kongres FKMSB sebagai Koreksi Diri Bersama

Sebagai generasi millenial, imbuh Ali, media sosial (medsos) harus dijadikan alat propaganda untuk menandingi narasi-narasi radikalisme yang sekarang banyak mengisi medsos. “Kita tidak boleh kalah, karena kelompok ekstrimisme juga sangat kuat menarasikan gagasan dan gerakannya melalui medsos,” tegasnya.

Penyerahan cendera mata dari Ketua DPD IMM Jatim (tengah) kepada para Narasumber. (Alim/PIJARNews.ID)

Hal ini juga dibenarkan oleh Bambang Agus, dia mengatakan bahwa gerakan radikalisme memang banyak beroperasi di medsos. Sehingga membuat sulit untuk diidentifikasi. “Ada banyak kasus yang terjadi di lapangan, kelompok-kelompok radikalis tidak hanya masif menyebarluaskan paham mereka, tapi juga melakukan perekrutan anggota dengan embel-embel penghasilan materi,” ungkapnya.

Kelompok perempuan, kata dia, justru menjadi sasaran utama, sehingga tidak bisa dipungkiri bahwa mereka menjadi kelompok yang sangat loyal dan patuh dengan pimpinan mereka. “Sebagaimana juga di Jatim, sangat banyak masyarakat yang sudah terpapar paham radikal, mulai dari sekolah, pengajian-pengajian, dan universitas,” ucapnya.

Bambang juga memaparkan, jika ada berapa daerah khususnya di Jawa Timur dengan jejaring teroris yang kuat, seperti Surabaya, Lamongan, Banyuwangi, Sidoarjo, Malang, Jember dan Magetan. Artinya gerakan radikalisme ini memang perlu menjadi perhatian khusus bagi semua elemen. Jangan sampai keluarga kita, atau orang-orang terdekat kita terpapar dan tanpa diketahui masuk menjadi bagian dari kelompok radikal-teroris ini.

“Paham-paham baik kiri maupun kanan harus dicegah atau diselesaikan dengan jalan moderasi agama. Masyarakat, atau mahasiswa harus memiliki prinsip moderat, agar tidak mudah terpengaruh dengan paham-paham ekstrimisme,” pungkasnya.

Reporter: Alim Penulis: Alim Editor: Afrizky Fajar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here