Ustaz Nurbani Yusuf saat menyampaikan materi kajian. (Suhartatok/PIJARNews.ID)

JOMBANG, PIJARNews.ID – Kajian Rutin keluarga besar Kajian Kebon Jambu (KKJ) yang bertempat di kediaman Khoirul Abduh selaku Dewan Pembina, yang beralamat di Jl. Jambu 1 No. 40 A, Kabupaten Jombang kembali digelar, Sabtu (7/3/2020) kemarin, dimulai pada pukul 15.00 WIB.

KKJ merupakan bangunan komunitas kultural dari lintas Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) dari seluruh Jawa Timur. Dari perkumpulan ini telah mampu melahirkan beberapa gerakan antara lain seperti lembaga riset dan survey, serta portal media online yang sudah mulai terlihat.

Dalam kesempatan ini, mereka mengangkat tema “Dilema Muhammadiyah” yang menghadirkan pemateri Ustaz Nurbani Yusuf, dengan dipandu oleh Abdusaalam As’ad sebagai moderator acara. Sedangkan puluhan peserta cukup antusias dan terlihat penuh sesak mengisi tempat yang tersedia, mereka datang dari berbagi daerah yang ada di Jawa Timur.

Dalam pembukaan acara, Abdussalam mengungkapkan kegelisahan tentang posisi Muhammadiyah apakah masih konsisten dengan gerakan tajdid atau pembaruannya. “Muhammadiyah memang berkemajuan dalam hal amal usaha, namun untuk pemikiran, sekarang teman-teman Nahdlatul Ulama (NU) seolah sudah lebih di depan,” ungkapnya.

Ustaz Nurbani saat ngawali bahasan tema kajian, baginya jawaban itu bisa disaksikan bersama, “Muhammadiyah yang saat ini justru masih sibuk berbicara khilafiyah, semisal jenggot atau celana. Sedangkan kawan-kawan NU sudah berbicara tentang kemajuan dunia seperti arus keuangan global. Lantas dari persoalan itu mana yang lebih berkemajuan?”, ucapnya dangan nada pertanyaan kepada peserta.

Menurut ustaz Nurbani selaku pembicara utama kajian, muncul beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan Muhammadiyah. Pertama, Muhammadiyah harus kembali kepada niat awal didirikannya.

“KH. Ahmad Dahlan, ketika mendirikan Muhammadiyah justru tergelitik dengan pertanyaan Syech Rasyid Ridho. ‘Tunjukkan dimana ada umat Islam atau kelompok umat Islam yang menjalankan Al-Qur’an’,” kutipnya.

BACA JUGA :  Webinar KKJ (4); Menakar Ulang Peran Kader Persyarikatan
Peserta kajian terlihat penuh sesak di tempat yang tersedia. (Suhartatok/PIJARNews.ID)

Selanjutnya ia menjelaskan, karena tidak ada tempat dimana umat Islam bisa menjalankan Al-Qur’an dengan sempurna, maka muncullan pameo, ‘Umat Islam tertutup umatnya sendiri’. Maka, muncul gerakan Muhammadiyah. “Dengan konsep awal itu, sehingga dikatakan Muhammadiyah adalah gerakan pemikiran dan berlanjut pada Muhammadiyah sebagai gerakan amar,” terangnya.

Lebih lanjut, dia memaparkan dari gerakan pemikiran itu muncul pemikiran pembaharuan dan pemikiran puritanisme. “Pemikiran pembaharuan disebut lebih dekat dengan liberal, sedangkan pemikiran purifikasi lebih dekat dengan pengerasan ideologi,” paparnya yang juga pernah menjadi Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Batu, Malang.

Kedua, menurutnya yang juga sebagai dosen Universitas Muhammadiyah Malang ini, budaya literasi di Muhammadiyah sekarang justru sangat rendah. “Padahal membaca atau daya literasi merupakan awal dari munculnya pemikiran,” katanya.

Ia juga menerangkan dengan rendahnya literasi di Muhammadiyah jangan heran jika sekarang Muhammadiyah minim sekali pemikiran, dan sekarang Muhammadiyah lebih sibuk untuk memikirkan amal usaha daripada pemikiran.

Ketiga, menurutnya sekarang ini Muhammadiyah sudah anti kritik, dan hampir kebanyakan warganya memiliki sumbu pendek. “Jika dikritik cepat marah. Makanya dibutuhkan kajian-kajian seperti ini, yang sangat penting dan sangat urgent,” tegasnya.

Peserta kajian kebon jambu. (Suhartatok/PIJARNews.ID)

Di akhir kajian ini, dia juga berpesan kepada para hadirin bahwa kegiatan seperti ini sangat diperlukan sebagai sekoci-sekoci kecil ibarat Muhammadiyah sebagi kapal besar. “Gerakan yang sudah mulai lamban, sehingga perlu didorong gerakan-gerakan kecil untuk Persyarikatan Muhammadiyah,” ucapnya.

Seperti gerakan KKJ ini, kata dia, yang telah menciptakan beberapa gebrakan, diantaranya ada Kedai Jambu Insitute dan media online sebagai sayap gerakan strategis yang bisa cukup berpengaruh ke depannya.

Reporter dan Penulis: Suhartatok Editor: Afrizky Fajar

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here