Nu'man Iskandar. (RDS/PIJARNews.ID)

PIJARNews.ID – Jika tidak ada upaya segera dan serius untuk mengatasinya, usaha penggemukan domba/kambing di Indonesia akan mengalami masalah besar dalam waktu dekat. Kondisi ini juga menjadi ancaman serius terhadap ketersediaan daging domba/kambing. Apalagi tidak lama lagi akan ada perayaan hari raya Iedul Adha, dimana kebutuhan hewan qurban akan meningkat.

Saat ini, usaha penggemukan domba semakin menggeliat, hanya saja tidak dibarengi dengan usaha pembibitan yang menyediakan ‘bakalan’ domba. Hal ini bisa kita lihat berdasar data, dimana sejak tahun 2015 terjadi inflasi harga bakalan. Setiap tahun harga bakalan mengalami kenaikan antara 10 hingga 20 persen.

Jika pada tahun 2015 harga bakalan baru sekitar Rp.20.000,-/kg, maka pada tahun 2020 saat ini harganya telah mencapai Rp.40.000,-/kg. Itu untuk harga domba betina. Untuk domba jantan berbeda lagi, pada tahun 2015 harganya sekitar Rp.30.000,-/kg, kini pada tahun 2020 harganya telah mencapai Rp.60.000,- hingga Rp.70.000,- per kilo. Ini artinya terjadi kenaikan harga hingga 100 persen.

Kondisi ini diperparah pada sebuah kondisi, bahwa di Indonesia saat ini sulit untuk menemukan usaha peternakan yang bergerak pada pembibitan yang menyediakan bakalan. Bakalan domba/kambing di Indonesia semakin hari semakin menipis.

Pada satu sisi, kenaikan harga ini harus disyukuri karena menguntungkan para peternak kita. Namun jika kenaikannya sudah pada tahap tidak wajar, ini menjadi alarm bagi pemerintah dan pelaku usaha. Dampaknya, domba/kambing yang sekarang menjadi indukan berubah menjadi kebutuhan konsumsi. Jika dibiarkan, kelangkaan ini akan memukul sektor industri penggemukan domba.

Saat ini saja kondisinya, ada harga tetapi barang bakalan tidak ada. Jika ada, hitung hitungan bisnisnya tidak masuk “BEP”. Jika demikian, hal ini menjadi pintu masuk adanya impor daging domba/kambing. Padahal Pemerintah selalu mewacanakan ekspor domba. Akan menjadi paradoks dan ironi.

Hal ini perlu menjadi perhatian bersama, apalagi menjelang hari raya Iedul Adha dimana kebutuhan ruminansia kecil seperti domba/kambing ini akan meningkat. Untuk kebutuhan rutin saja sulit untuk terpenuhi, apalagi pada Hari Raya Iedul Adha nanti yang kebutuhannya pasti meningkat.

Untuk mengatasi ini, masyarakat dan dunia usaha peternakan tidak bisa melakukan sendiri. Ini artinya, Pemerintah perlu segera mengambil sebuah langkah agar darurat ruminansia kecil ini segera teratasi, juga menyelamatkan industri penggemukan agar tidak kolaps karena ketiadaan bakalan dan kenaikan harga bakalan yang tidak wajar. Industri penggemukan domba saat ini belum ditopang oleh industri bakalan. Inflasi harga domba saat ini sudah menunjukkan gejala ketidakwajaran.

Harus Ada Insentif bagi Usaha Pembibitan Domba

Usaha pembibitan domba yang menyediakan bakalan harus menjadi perhatian khusus dari pemerintah. Jika tidak, hal ini akan memukul indutri penggemukan domba yang saat ini mulai berkembang. Industri penggemukan domba saat ini belum ditopang secara kuat oleh industri pembibitan yang menyediakan bakalan.

Tingkat kesulitan yang dihadapi usaha industri pembibitan domba ini lebih tinggi dibanding dengan usaha industri pembibitan jauh lebih tinggi. Karena itu banyak orang lebih memilih usaha industri di penggemukan dan enggan melakukan usaha pembibitan.

BACA JUGA :  Wajah Indonesia yang Paradoks

Mengapa?, sebab dalam usaha industri penggemukan, satu atau dua bulan saja para pengusaha sudah bisa mendapatkan untung. Tetapi untuk usaha penyediaan bibit domba sebagai bakalan, setidaknya butuh 2 tahun baru mendapatkan hasil. Inilah yang dihadapi oleh para pengusaha penyedia bibit, padahal modal harus berputar cepat. Jika tidak, maka akan rugi.

Inilah yang saya sebut mengapa pemerintah harus memberikan insentif secara khusus bagi siapa saja yang ingin atau sedang bergerak pada usaha pembibitan domba. Selama ini, usaha pembibitan domba lebih banyak dilakukan dalam usaha rumahan. Para peternak ini lebih banyak menjadikan usaha peternakan ini sebagai usaha sampingan selain bertani.

Kondisi ini tidak bisa lagi bisa menopang kebutuhan industri penggemukan yang sedang menggeliat di Indonesia. Karena itu harus ada upaya serius merubah pola dan model ternak rumahan yang sifatnya sampingan menjadi pola dan model industri. Dan hal ini akan bisa dilakukan jika ada insentif dari pemerintah.

Merubah Ternak Rumahan dengan Model Industri

Mengingat kebutuhan akan daging domba yang terus meningkat setiap tahunnya, usaha peternakan yang selama dilakukan dalam bentuk usaha rumahan saat ini harus berubah dan memiliki orientasi baru, yaitu harus berorientasi industri. Dengan industri, kita akan bisa memenuhi kebutuhan daging domba yang makin meningkat.

Dahulu, ternak domba dilakukan dalam skala rumahan. Karena kebutuhan daging domba semakin meningkat, maka model dan pola ternak saat ini berubah dalam bentuk industri. Dengan model industri, usaha baru penggemukan domba ini memiliki prospek bisnis yang sangat menjanjikan.

Kondisi ini belum terjadi pada usaha pembibitan yang menyediakan bakalan. Kebutuhan daging domba/kambing ini sangat tinggi, maka kebutuhan akan bibit domba ini juga pasti akan tinggi. Karena itu harus ada perubahan sebagaimana pada usaha penggemukan. Penyediaan bibit ini harus dirubah dari model rumahan yang sifatnya sampingan, menjadi model industri. Kami dari bidang buruh tani dan nelayan (Brutal) Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah memiliki ahli untuk perubahan model ini.

Karena modal dan resikonya tinggi, usaha ini tidak diminati oleh para peternak. Adanya insentif terhadap usaha ini akan meningkatkan jumlah peternak yang sebelumnya hanya beroientasi pada penggemukan berubah pada pembibitan. Tanpa usaha ini target eksport akan menjadi ironi karena pasti tidak akan terpenuhi.

Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri saja tidak cukup, apalagi untuk kebutuhan eksport. Jika tidak segera diperhatikan, maka dari sisi harga juga akan sulit untuk bersaing dengan ekspor dari negara lain. Salah-salah, yang terjadi justru akan sebaliknya, akan terjadi impor domba/kambing. Saya kira inilah yang lebih berbahaya dari ancaman Covid-19 yang melanda berbagai negara, termasuk yang terjadi di Indonesia saat ini.

#SalamBRUTAL
#SalamBuruhTaniNelayan

(Penulis adalah Ketua Brutal PP Pemuda Muhammadiyah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here