Fathan Faris Saputro. (Dok. PIJARNews.ID)

PIJARNews.ID – Memasuki era revolusi industri 4.0, konektivitas dan interaksi melalui teknologi informasi dan komunikasi menjadi semakin terintegrasi. Tentu generasi muda harus menyambutnya dengan baik dan benar-benar memanfaatkan kemajuan teknologi yang ada saat ini. Apalagi, Indonesia akan digadang-gadang akan mengalami bonus demografi di beberapa tahun ke depan.

Prediksi Badan Kependudukan dan keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI, pada 2020-2030, Indonesia akan merasakan bonus demografi. Pada decade tersebut, 70% warga Indonesia berada di usia produktif, yaitu antara 15 hingga 64 tahun. Hanya 30% yang berusia tidak produktif, yakni 14 tahun ke bawah dan 65 tahun ke atas. Bonus demografi ini, tentu berdampak pada meningkatnya jumlah generasi muda yang dalam masa ini disebut sebagai generasi milenial. Mereka yang terlahir pada 1982 hingga kira-kira dua puluh tahun setelahnya, itu definisi peniliti Neil Howe dan William Strauss dalam buku Millenials Rising: The Next Great Generation (Vitage Books, 2000).

Dalam teori generasi (Generations Theory) Graeme Codrington & Sue Grantmashall (2004), ia membedakan lima generasi manusia berdasarkan tahun kelahirannya, yaitu generasi baby boomer (terlahir 1949-1964), generasi X (terlahir 1965-1980), generasi Z atau generasi millenial (terlahir 1981-1994), generasi Z (yang disebut juga Igeneration, generasi net, generasi internet) terlahir 1995-2010, dan generasi alpha yang terlahir 2011-2025. Kelima generasi tersebut memiliki perbedaan kepribadian yang akan mempengaruhi corak bagaimana bangsa ini ke depan.

Jika pemuda-pemudi berhasil mengupgrade dirinya ke arah yang lebih baik, membekali kemampuannya dengan potensi-potensi yang baik. Maka, wajar saja jika ke depan Indonesia akan menjadi negara yang maju karena generasi mudanya benar-benar berfikir progresif, fokus pada kebaikan dan menghindari kemungkaran untuk negeri ini. Namun jika sebaliknya, maka bonus demografi yang terjadi di Indonesia malah justru akan menjadi mala petaka. Adanya generasi muda yang meramaikan bangsa ini justru malah menjadi penghambat atas kemajuan bangsa Indonesia.

Geliat Dakwah Generasi Millenial; “Kebaikan yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir”. Kata-kata bijak ini patut kita ingat, mengingat narasi kebencian semakin viral dimana-mana. Bukan hanya di dunia nyata namun juga di dunia maya. Apalagi generasi masa kini (Generasi Y dan Z) telah mendominasi ramainya fenomena baru tersebut.

Ciri dari genarasi millenial yang sangat identik dengan sosial media membuat kita semua sadar bahwa gerakan pencerdasan bukan hanya dilakukan pada kehidupan nyata saja, namun juga dalam kehidupan dunia maya. Bagi generasi millenial, mensiarkan kebaikan dan mencegah kemungkaran terlebih melalui media sosial harusnya lebih mudah. Karena mereka tumbuh besar di tengah tersajinya segala kemajuan teknologi, maka tak heran, jika pertemanan mereka lebih banyak. Bukan hanya di dunia nyata saja, namun di dunia maya, bukan hanya dari Indonesia saja namun juga dari banyak Negara. Mereka bisa mendapatkan apa saja secara cepat. Dengan banyaknya jaringaan dan relasi yang mereka miliki harusnya mereka dapat mempengaruhi untuk bertindak kebajikan.

BACA JUGA :  Bernama Kriyukz, Produk Fast Food Dampingan PDPM Mojokerto

Bagi Muhammadiyah, tumbuh dan berkembang generasi milenial terletak pada Angkatan Muhammadiyah Muhammadiyah (AMM)-Nya. AMM yang terdiri dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Nasyiatul Aisyah (NA), Pemuda Muhammadiyah (PM) harus benar-benar merasakan dampak positif terkait bonus demografi tersebut. Apakah AMM mampu menjawab dan menyajikan kebutuhan generasi milenial saat ini?. AMM harus secara agresif mewadahi generasi millenial dengan baik, terutama menjawab kebutuhan mereka di sosial media.
Kualitas postingan dan strategi mempengaruhi masa melalui pemikiran Muhammadiyah harus ketahui oleh secara luar oleh generasi milenial. Ada gerakan syiar melalui sosial media yang harus dikerjakan bersama. Melirik sejenak tentang official sosial media Muhammadiyah yang telah kita ketahui kian hari kian tampilannya, dan kian responsive dalam menyajikan quots-quots menarik dari para tokoh kini sudah mencapai 44.3 k followers dalam bulan Mei 2018.

Dalam konteks menyiarkan pesan kebaikan di era kekinian, angka followers menjadi satu pengaruh yang luar biasa. Dalam sosial media memang kita tidak bisa membuat sekat bahwa ada netizen yang terpelajar yang sudah sekolah dibedakan dengan mereka yang tidak sekolah. Semua campur menjadi satu. Disitulah tantangannya, bagaimana kita sebagai organisasi pencerahan dapat hadir memberikan ilmu yang disajikan secara menarik yang dapat diterima oleh generasi millenial. Tidak kalah gencar dengan akun-akun lain yang followersnya lebih banyak namun lebih banyak mensiarkan hoax dan ujaran kebencian dari pada ujaran kebaikan.

Teringat kata-kata Ki Hajar Dewantara yakni, “Setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah”. Nampak generasi milenial lebih getol mencari tahu dari apapun lewat internet sehingga mereka tak menunggu di kelas dulu untuk mendapatkan ilmu itu. Jika AMM mampu menyajikan konten-konten menarik yang dibutuhkan oleh milenial, maka hidup bermasyarakat bersama warganet akan dapat menjadi lebih damai lagi.

Blogger, booktober, vloger dan selegram; Banyak cara generasi milenial mensiarkan dakwahnya. Mulai dari menjadi blogger (penyedia konten menarik di blog), booktuber (pereview buku melalui youtube), vloger (penyedia konten video menarik melalui youtube), juga selebgram (seleb atau orang yang berpengaruh di Instagram karena postingannya menarik dan disukai banyak orang). Jika saja kader-kader di AMM ini ada yang menjadi salah satu dari mereka, atau bahkan para tokoh bisa menyajikan konten yang menarik bagi generasi milenial, maka Muhammadiyah akan punya pengaruh yang besar lagi dalam era kekinian. Banyak tokoh-tokoh mudah yang menjadi sosial influencer. Sehingga gerakannya bukan kultural saja.

Mengenai gerakan ilmu, Muhammadiyah mungkin sudah ahli, namun gerakan ilmu yang digandrungi masyarakat millenial apakah sudah terjawab dengan baik? Baik sekolah maupun pembuat lapak baca untuk mendekatkan buku pada pembacanya sudah sering dilakukan namun, dalam kontek kekinian perlu pendekatan ilmu yang lebih massif lagi melalui media sosial.

Penulis adalah Founder Rumah Baca Api Literasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here