NABI Zakaria As. bermunajat kepada Allah agar dikaruniai seorang putra sebagai generasi penerusnya. Meski ubannya membludak di kepalanya dan istrinya dikatakannya tidak akan memiliki keturunan, ia tetap meminta kepada sang Khaliq, Tuhan Semesta Alam.

Tuhan akhirnya mengabulkan permintaan Zakria dengan memberikan kabar gembira bahwa ia akan memperoleh seorang anak. Dus, alangkah gembira dan bahagia Zakaria dan istrinya, karena apa yang diimpikan dan dinanti akan menjadi kenyataan.

Bak seorang yang mengikuti sebuah ujian pegawai kemudian dia diterima atau lolos, tentu sangat gembira.Kegembiraan itu, karena merasa tujuannya sukses, yang diinginkan terkabul juga keberuntungan berpihak pada dirinya.

Begitu gambaran rasa kegembiraan di dunia, memperoleh sesuatu membuat meluap-luap, terlebih sudah tercapai tujuannya.

Bagaimana di akhirat ? Apakah kita ingin dapatkan kabar gembira? Tentu sangat kita mendambakan hal itu memamg kita tunggu. Kelak banyak orang yang dimasukkan Allah Swt ke dalam surga karena amal sholeh. Bukan perkara power kekuasaan, bukan karena kaya, dan bukan karena banyak hartanya, bukan cantik maupun tampannya. Amal kebaikan dan sholih inilah yang menjadi juru selamat di alam sana.

“Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, Sesungguhnya bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai (QS Al Baqarah: 25). Manakala di dunia orang tersebut suka beramal sholeh dengan ilmunya,dengan hartanya, apa yang dimiliki dimanfaatkan untuk berjuang di jalan Allah.

BACA JUGA :  Khazanah Islam, Rasulullah Pun Berpeluh Sakit Saat Sakaratul Maut

Ahli surgapun heran bukan kepalang, sebab apa yang pernah dikeluarkan dan diamalkan tidak sebanding dengan apa yang diterima. Pasalnya, yang diterima jauh lebih, sementara dalam pikirann mereka tidak sampai itu.

“Bila aku tahu seperti ini balasannya,tentu apa yang saya miliki akan kuamalkan semua.” Inilah pendorong beramal sholeh, hanya sayang banyak penyeru yang terkadang luput dalam melakukan ketaatan, sehingga mereka akhirnya mereka merasakan kerugian.

Semoga kita terbiasa memanfaatkan apa- apa yang kita miliki untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Oleh: Ustadz Helman Sueb, beliau Tinggal di Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here