M. Nurroziqi. (RDS/PIJARNews.ID)

“Kepanikan adalah separo penyakit. Ketenangan adalah separo obat. Dan kesabaran adalah langkah awal kesembuhan.” (Ibn Sina)

PIJARNews.ID – Sejak musibah menimpa saudara kita di China, kini wabah Covid-19 merebak hampir ke seluruh penjuru dunia. Korbannya pun sudah tidak terhitung jumlahnya. Tidak hanya nyawa. Tetapi beragam akibat yang ditimbulkannya pun semakin menyempitkan keadaan. Terlebih, dampak yang paling nyata adalah turut memburuknya perekonomian. Pastinya, kita sangat berharap dan selalu berdoa kepada Allah Swt semoga musibah ini segera berakhir. Keadaan segera pulih. Yang sakit disembuhkan. Yang rugi diuntungkan. Yang lemah kembali dikuatkan. Yang sedih segera dibahagiakan. Aammiin.

Atas mewabahnya Covid-19 yang sedemikian cepat, tentu mengundang rasa takut yang luar biasa. Dari rasa takut itu, kemudian muncul banyak sekali inisiatif dan aksi untuk menangkal, mencegah, serta segala daya upaya dikerahkan demi penyembuhan atas siapapun yang terdampak musibah tersebut. Banyak sekali cara yang ditempuh untuk sebisa mungkin meminimalisir dampak buruk yang akan terjadi.

Usaha yang hebat dan luar biasa telah ditempuh oleh negara-negara yang terkena wabah Covid-19. Negara kita pun demikian. Setiap hari. Bahkan setiap detik. Usaha-usaha terus ditempuh sekuat diri demi menghadapi wabah ini. Beragam cara pun dilakukan warga masyarakat untuk mencegah dan melindungi diri. Sungguh mengerikan. Sangat menakutkan. Melahirkan kepanikan massal.

Akhirnya, kita pun dipaksa belajar kembali tentang kehidupan ini. Mulai dari rumah. Covid-19 memaksa masing-masing diri wajib mengisolasi diri di rumah masing-masing. Dari rumah, diharuskan belajar kembali tentang pola kebersihan diri dan lingkungan. Dari mana pun, bertemu siapa pun, harus cuci tangan, harus bersih-bersih dulu sebelum benar-benar masuk ke dalam rumahnya sendiri. Di mulai dari rumah juga, setiap diri harus kembali menata akhlak dan kesopanan di setiap pergaulan. Harus saling menjaga jarak.

Tidak hanya fisik. Tetapi juga ketidak-bolehan mencampuri urusan orang lain. Tidak boleh saling mendengki, iri, dendam, dan lain sebagainya yang terkait dengan kehidupan orang lain. Dalam rangka saling menjaga, kita musti kembali menjaga sopan santun ketika berbicara dengan orang lain, di saat batuk di hadapan orang lain, dan kala meludah. Semua wajib diperhatikan dan dipelajari kembali. Untuk kemudian dipraktekkan demi keselamatan dan kesehatan sesama.

Tentu, kesemua itu mungkin dipandang sebagai hal yang paling sederhana. Tetapi, dalam kesederhaan itu terdapat nilai dan fungsi yang teramat sangat tinggi bagi keberlangsungan kehidupan. Terlebih kini, disebabkan Covid-19, masing-masing semakin antusias untuk belajar dan langsung mengamalkan semua kesederhanaan itu. Dan inilah kesadaran bersama. Di tengah-tengah musibah yang ditimpa bersama, kita bersama-sama membangun budaya kehidupan yang lebih bersih dan menyelamatkan. Saling menjaga satu sama lain akan tidak tertular, agar selamat dan terlindungi dari wabah yang menakutkan ini.

BACA JUGA :  Mahasiswa Ekspresikan Pandemi dengan Lukisan dan Puisi

Kita, hari-hari ini, sedang diuji oleh Allah Swt dengan rasa takut. Rasa panik dan ketakutan massal ini, juga berdampak pada melemahnya perekonomian. Sistem isolasi diri, saling menjaga jarak, bahkan sampai pada lockdown, tentu menjadikan banyak usaha yang sepi dan merugi. Akhirnya, sebagaimana Q.S. Al-Baqarah: 155 “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,”. Ujian atas sedikit rasa takut itu, meluas menjadi kelaparan, kekurangan harta, dan pastinya jiwa atau nyawa.

Akan tetapi, atas seluruh ujian yang mengerikan ini, Allah Swt memberikan harapan luar biasa, menyampaikan berita yang sangat menggembirakan kepada orang-orang yang sabar. Orang sabar? Siapakah mereka? Lanjut ayat tersebut, Q.S. Al-Baqarah: 156-127, “(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”. “Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Orang-orang sabar adalah mereka yang segera menyadari bahwa semua ini milik Allah Swt dan pasti kembali kepada-Nya. Semua ini terjadi berkat perkenan Allah Swt dan Dialah satu-satunya yang sanggup mengangkat serta mensudahi seluruh musibah ini. Orang-orang sabar adalah mereka yang ditakdirkan bagaimana pun, menjadikan diri semakin berlari untuk mendekat hanya kepada Allah Swt. Sehingga, dalam kesadaran inilah, orang-orang sabar itu mendapatkan hidayah, memperoleh petunjuk.

Petunjuk bagi orang-orang yang sabar dalam menghadapi ujian adalah kesanggupan dan kehebatan di dalam mengatasi setiap kesulitan. Dalam hal ini, adalah kesanggupan untuk tetap di rumah agar segera terputus mata rantai penyebaran Covid-19. Kekuatan untuk saling menjaga jarak aman demi keselamatan bersama. Kehebatan di dalam menjaga kebersihan dan kesopanan agar musibah ini segera berakhir. Petunjuk yang dianugerahkan Allah Swt kepada orang-orang sabar adalah ikhtiar yang tiada berputus asa untuk berperang dan mengalahkan seluruh ketidak-nyamanan yang menimpa kehidupan di penjuru dunia ini.

Mari berikhtiar dengan benar. Dan mari berdoa dengan sungguh-sungguh. Semoga Allah Swt segera mengangkat musibah ini. Semoga Allah Swt menyelamatkan dan melindungi kita semua, serta menyembuhkan setiap rasa takut yang bersemayam di dada. Semoga kita baik-baik saja. Al-Aman. Al-Aman. Al-Aman. Allohumma Indonesia Raya Aman.

(Penulis adalah Alumni UIN Sunan Ampel Surabaya, dan penulis buku-buku Motivasi Islam)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here