Hendra Hari Wahyudi (RDS/PIJARNews.ID)

PIJARNews.ID – Di zaman serba digital seperti saat ini, banyak sekali media yang kita jumpai. Mulai dari media sosial, portal web, situs web video seperti Youtube, banyak sekali manfaat dari beragam media tersebut. Mulai dari berjualan, sampai eksistensi peran. Semuanya terasa mudah digunakan, seiring kemajuan zaman yang hampir semua orang bisa menggunakan gawai. Berita ataupun bacaan berupa artikel hingga video, semua bisa kita akses sesuai keinginan. Kemudahan ini membuat istilah “dunia dalam genggaman” terasa nyata, dimana kita dapat mengetahui berbagai kejadian dan informasi di seluruh penjuru bumi hanya melalui smartphone, tentu saja dengan melalui jaringan internet.

Banyak juga para influencer yang bermunculan, mereka adalah orang-orang yang punya followers atau audience yang cukup banyak di media sosial seperti Instagram, Facebook, Twitter, dan lainnya. Mereka punya pengaruh yang kuat terhadap followers mereka, seperti artis, selebgram, blogger, youtuber, dan lain sebagainya sehingga mereka terkadang menjadi trendsetter. Hal ini wajar ketika mereka mempunyai kapasitas yang mumpuni, mulai dari keterampilan, ilmu, dan juga memiliki ciri khas yang tak banyak di miliki orang lain. Namun, bagaimana dengan orang yang hanya ingin menjadi terkenal tanpa adanya kemampuan?

Asah Diri agar Punya Skill

Tak mudah mempunyai suatu kelebihan yang dimiliki, perlu proses belajar yang panjang, entah itu dibangku sekolah ataupun diluar rumah (pengalaman). Sehingga, potensi apa yang kita miliki benar-benar menjadi passion, dan orang besar selalu lahir dari masa kecil. Artinya, untuk menjadi seorang yang punya kapasitas dan kualitas, haruslah berproses dari awal rintisan tujuannya.

Bukan ‘ujug-ujug‘ besar tanpa adanya perjalanan untuk menjadi besar, sebagaimana seperti manusia yang dari seorang bayi tumbuh menjadi dewasa dengan melalui proses, seperti merangkak, berjalan, hingga berlari. Terkadang, manusia ada yang memiliki keinginan yang besar, namun memakai cara yang tidak baik, dan itu banyak terjadi diseluruh belahan dunia. Beberapa ada cerita hanya demi sebuah konten untuk diposting di media sosial, terkadang mereka rela melakukan apapun diluar rasionalitas. Semua demi untuk narsis dan eksis dihadapan orang banyak, namun dengan cara yang terbilang bisa membahayakan dirinya dan mungkin juga merugikan orang lain.

Narsistik

Narsis merupakan salah satu istilah yang sering kita dengar, kata tersebut sebagai deskripsi atas seseorang yang terlalu percaya diri dan bangga terhadap dirinya sendiri. Narsis merupakan kata yang pertama kali dipopulerkan oleh Sigmund Freud, pernah dulu belajar teori Freud saat kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang di Fakultas Psikologi 10 tahun silam.

Kata Narsis sendiri merujuk pada tokoh mitologi Yunani, Narcissus atau Narkissos yang sangat terpengaruh oleh rasa cintanya yang berlebihan terhadap dirinya sendiri. Sehingga ia dikutuk mencintai bayangannya sendiri di kolam, Narcissus tanpa sengaja menjulurkan tangannya untuk meraih refleksi dari dirinya sendiri hingga ia tenggelam.

BACA JUGA :  Upaya Membentuk Karakter, Sekolah Ini Ikut Program Pesantren Kilat

Narsisme atau narsistik juga sering dianggap sebagai masalah budaya sosial, para pakar menganggap bahwa narsisme merupakan salah satu ciri gangguang kepribadian selain psikopat dan machiavellianisme. Orang yang memiliki rasa narsisme yang over (sangat tinggi) bisa membuatnya menjadi seorang yang Narcissistic Personality Disorder atau biasa di singkat NPD.

Orang yang mengidap NPD mempunyai ciri-ciri, sebagaimana yang ditulis pada jurnal Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) yang digunakan para ahli untuk mendiagnosis berbagai kondisi mental. Beberapa diantara ciri orang NPD menurut jurnal tersebut seperti memiliki rasa kepentingan diri sendiri yang berlebihan, mengharapkan untuk diakui sebagai seseorang yang superior, bahkan tanpa adanya prestasi yang menjamin. Lalu mempercayai bahwa dirinya adalah pihak superior dan hanya dapat dimengerti oleh orang-orang yang berkedudukan sama tinggi atau sama spesialnya dengannya, membutuhkan pujian yang konstan setiap saat. Mengambil keuntungan dari orang lain untuk mendapatkan apa yang diinginkan, seperti mengambil hak cipta (plagiasi) karya orang lain, dan beberapa ciri lainnya yang ada pada jurnal yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association tersebut.

Narsistik dalam Prespektif Agama

Orang yang terjangkit NPD, sering dideskripsikan sebagai orang yang sombong, egois, manipulatif, dan suka menuntut sesuatu demi mewujudkan keinginan serta kepuasan dirinya. Narsisme beda dengan percaya diri (pede), dalam prespektif agama Islam, narsisme bisa disamakan dengan ujub atau bangga diri.

Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat membenci sifat ujub, sebagaimana firmanNya dalam Al Quran surat Al Luqman ayat 18 yang artinya; “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Maka dari itu, mari kita tetap rendah hati dan menghargai diri serta karya orang lain. Setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan, jangan sampai kekurangan kita kita tambal melalui kelebihan orang lain demi keegoisan diri demi mem-branding diri kita. Para influencer seperti selebgram dan lainnya mempunyai kelebihan dan memanfaatkan kelebihannya untuk berbagi kepada sesama, dan kita pun baiknya bisa melakukan hal yang sama dengan menggali potensi yang ada dalam diri kita sebagai modal.

Percaya dirilah sesuai kemampuan dan kualitas diri, agar kita bisa berkarya dan memberi manfaat bagi sesama. Narsis yang identik terlihat sering di media sosial, yang kadang mungkin apa yang diperlihatkan di postingannya tidak sesuai dengan kenyataan yang ada pada diri dan kehidupannya. Jadi, mari kita bergaya semampu kita, sesuai kapasitas dan kualitas diri kita.

(Penulis adalah Guru MIM 06 Tebluru Solokuro, Lamongan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here