Drs. Ahmad Zainul Arifin, M.Pd.I. (Dok. Pribadi/PIJARNews.ID)

PIJARNews.ID – Mengawali tahun 2020 dunia dihebohkan dengan merebaknya Coronavirus Disease (Covid-19) yang muncul di penghujung tahun 2019 di kota Wuhan, China. Terlepas dari kajian kesehatan, berbagai polemik bermunculan sesuai dengan beragam keilmuan, kompetensi, profesi, status dan orientasi masing-masing. Sebagian kalangan berangapan bahwa wabah Covid-19 merupakan ujian bahkan azab Allah Swt, dikarenakan manusia telah berlaku melampaui batas, mengonsumsi makanan yang tidak seharusnya dikonsumsi, bahkan hubungan sosial dan budaya manusia sudah keluar dari kontrol moral.

Kalangan lain menilai bahwa wabah ini merupakan kesengajaan dari adanya perang dingin yang terjadi diantara blok tertentu, yang berorientasi pada penguasaan ekonomi dunia. Virus ini sengaja dibuat sebagai senjata biologis untuk memenangi sebuah perang global dengan biaya yang relatif lebih ringan bila dibanding dengan perang menggunakan pola lain. Pada tataran ini predikat “adidaya” merupakan predikat yang cukup prestisius diantara gelombang ambisi mereka.

Kondisi yang demikian tentu berdampak pada pranata sosial setelahnya. Hubungan antar manusia dalam berbagai aspek kehidupan, bahkan mungkin juga sampai pada perilaku beragama. Hiruk pikuk yang disebabkan virus ini juga melahirkan kecemasan yang luar biasa, ketakutan yang tidak bisa dianggap remeh, terganggunya proses pembelajaran, dan kesulitan ekonomi dikalangan masyarakat.

Walaupun terdapat orang-orang yang dengan sangat percaya diri menyatakan bahwa ini semua adalah kehendak yang Maha Kuasa, maka kita tidak perlu takut, takutlah pada Sang Pencipta. Aneka asumsi dan perilaku masyarakat ini menuntut adanya kebijakan komprehensif pemerintah yang penerapannya membutuhkan kesadaran warga masyarakat bahkan sedikit penekanan dari aparat. Rasanya cukup berat menerapkan kebijakan Lockdown, Phisical distancing ataupun Stay at Home, hingga kebijakan-kebijakan lain. Namun demi kepentingan umum bagaimanapun hal ini mesti dilakukan dengan berbagai konsekuensi.

Mencermati fenomena diatas, cukup menggelitik bagi penulis, mengutip tulisan Doniriw yang diunggah melalui chanelnya pada 25 Maret 2020. Disana ia menyatatakan jika phisical distancing akibat Covid -19 ini berjalan cukup lama, bisa jadi akan mengubah pola hidup manusia. Ketika kehidupan di luar semakin berbahaya, pencemaran udara makin membahana, kriminalitas kian tinggi, beragam virus mengintai, maka rumah adalah tempat sembunyi yang paling sempurna. Bekerja di rumah, sekolah di rumah, berbisnis di rumah. Makin sedikit aktivitas di luar rumah. Selanjutnya distruption gelombang dua melanda. Sejumlah bisnis yang kemarin masih bertahan dalam gelombang distrupsi tahap satu, akan kandas di tahap dua. Restoran mungkin akan butuh lebih banyak armada delivery ketimbang meja kursi. Sekolah mungkin akan butuh lebih banyak quota internet ketimbang ruang kelas. Entah bisnis apa lagi yang akan sirna, dan entah bisnis baru apa lagi yang akan menjamur.

BACA JUGA :  Kelima Kalinya, Pimpinan Muhammadiyah Kota Madiun Bagikan Paket Sembako

Pada sisi spiritual, Doniriw menuliskan kala Dukhon melanda, kemudian Dajjal berkeliling dunia, menebar pesona ke kota anda, maka bersembunyi di rumah adalah pilihan utama jika tidak bisa pindah ke Haramain. Ketika esok diseru untuk menjauhi Dajjal, mungkin akan banyak yang bilang: “Kami punya iman, takut itu pada Allah, bukan pada Dajjal”. Hari ini kita mungkin sedang dilatih Allah untuk mampu melewati masa itu. Perubahan zaman terus merangkak. Sementara kehidupan harus terus berjalan. Nafkah keluarga harus terus diupayakan.

Tapi keadaan tak lagi sama seperti dulu. Keimanan harus terus dipertajam. Tapi kondisi tak semudah sebelumnya. Saatnya kita berdiri memasang kuda-kuda. Semua bisa berubah dalam sekejap. Waspada dan amati semua fenomena yang terjadi. Gesit menelusup diantara celah-celah perubahan. Status quo dan harga mati akan hancur berantakan. Sama seperti Nokia yang dulu tumbang saat mematenkan symbian. Dalam kondisi seperti ini, kombinaasi kecerdasan dan keimanan adalah senjata tak terkalahkan. Persiapkan dirimu Bung. Sang Pencipta sedang memulai proses perubahan besar peradaban.

Coronavirus disease makhluq kecil yang tak kasat mata telah mengguncang dunia. Salah satu tanda kekuasaan Allah pada seluruh ummat manusia untuk tidak menyombongkan diri atas kekuasaan yang dimiliki saat ini, karena sesungguhnya kekuasaan manusia pastilah ada batasnya, sementara kekuasaan Allah tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Coronavirus disease telah mengembalikan keharmonisan dan kasih sayang keluarga pada posisinya, yang pada akhir-akhir ini terasa memuai disebabkan kemajuan teknologi.

Coronavirus disease telah mengingatkan manusia akan penerapan ajaran agama dan tidak melupakan Tuhannya. Sungguh perubahan menuju sebuah peradaban akan terjadi. Tentu kita tidak bisa diam dan harus ambil posisi sesuai kompetensi. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

Ya Tuhan Kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran ayat 191).

(Penulis adalah Kepala MI Muhammadiyah 2 Drajat Baureno Bojonegoro dan Dosen di STIT Muhammadiyah Bojonegoro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here