Imam Tobroni. (Dok. Pribadi/PIJARNews.ID)

PIJARNews.ID – Dalam catatan sejarah, sebenarnya masyarakat bukan yang pertama diserang penyakit menular atau wabah yang cukup membuat panik. Sebelum Indonesia merdeka, yakni sekitar tahun 1911 hingga 1916, negeri ini pernah diserang wabah pes. Di mana, penyakit yang ditularkan melalui tikus yang terinfeksi pes tersebut, menyebabkan ribuan nyawa berjatuhan, sebagaimana dilansir jatimtimes.com (21/3/20).

Saat itu, Malang merupakan daerah pandemi awal yang diserang wabah. Pemerintah kolonial kala itu terpaksa memberlakukan karantina lokal. Fenomena ini hampir sama dengan kondisi yang terjadi akibat pandemi Covid-19. Bahkan, hingga saat ini, belum diketahui kapan wabah ini akan berakhir. Tak hanya di Indonesia, bahkan di sejumlah negara lain.

Berbagai upaya pencegahan penyebaran jenis penyakit menular ini pun terus dilakukan. Dengan harapan, virus yang menyerang organ pernapasan itu segera berakhir. Di negara ini, salah satu upaya preventif yang dilakukan oleh pemerintah, adalah mengimbau masyarakat untuk tetap di rumah. Hingga kemudian ramai tagar #dirumahaja sebagai bagian dari kampanye penanggulangan virus ini.

Tiba-tiba, istilah stay at home atau dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah “ngendon” menjadi trending topik. Ngendon yang artinya menetap disatu tempat dalam kurun waktu tertentu, menjadi salah satu cara agar penularan virus ini tidak meluas. Tak cukup dengan imbauan di rumah saja, pemerintah juga menggaungkan istilah social dan physical distancing.

Pemerintah menganggap, dengan tetap tinggal di rumah, upaya menekan angka sebaran virus lebih efektif. Seberapa perlukah kita harus “ngendon di rumah”? Jawabannya: sangat perlu. Karena kita tidak tahu, kapan dan di mana virus itu akan menyerang. Terlebih, sejumlah warga yang dinyatakan positif Covid-19, tidak menunjukkan gejala. Karena itu, saat ini langkah yang paling mungkin dilakukan, adalah membatasi pertemuan dengan siapapun.

Namun faktanya, tidak mudah imbauan untuk tetap di rumah saja dipatuhi masyarakat. Bahkan, kecenderungan untuk abai terhadap bahaya virus ini, tak hanya ditunjukkan oleh masyarakat awam. Termasuk sejumlah komunitas yang sejatinya melakukan langkah positif, seperti bagi-bagi sembako dan hand sanitizer, ternyata juga tidak memakai masker dan menjaga jarak.

Alih-alih melakukan social distance, justru di antara mereka sibuk pamer foto yang berdekatan dengan sesama anggota komunitas tersebut. Tentu, penulis tidak hendak nyinyir aktivitas sosial tersebut. Namun, lebih pada upaya menjaga agar gerakan moral yang dilakukan, tidak kontraproduktif dengan kampanye yang disampaikan. Disatu sisi melakukan gerakan penyemprotan desinfektan, tetapi di sisi lain justru melakukan poto bersama tanpa beban dan merasa bersalah.

Tentu sudah mafhum, bahwa penyebaran virus ini sangat mudah. Terutama melalui sentuhan, percikan cairan (droplet) dari bersin dan batuk. Apabila percikan cairan berisi kuman memasuki mata, mulut, atau hidung orang yang sehat, orang tersebut dapat tertular penyakit.

BACA JUGA :  Puncak Libido Muhammadiyah dalam Politik Praktis

Penyebaran virus melalui droplet biasanya terbatas sejauh satu meter. Namun, droplet juga dapat menempel pada permukaan benda. Terutama kenop pintu, ponsel, dan pegangan tangga. kita berisiko tertular penyakit bila memegang barang yang terkontaminasi, lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut tanpa mencuci tangan dengan sabun. Dengan ngendon di rumah, minimal kita semua terhindar dari penyebaran droplet.

Aneka cara yang bisa dilakukan untuk menghindari virus yang berasal dari droplet. Mulai, membatasi kontak dekat dengan orang yang menunjukkan gejala Covid-19, tetap di rumah ketika anda tidak enak badan, menutup mulut dan hidung dengan tisu ketika batuk atau bersin. Jika tidak ada tisu, gunakan lengan bahu untuk menutup mulut dan hidung, mengenakan masker jika harus berada di antara kerumunan, tidak menyentuh wajah atau orang lain sebelum mencuci tangan, serta harus rutin mencuci tangan setidaknya selama 20 detik, terutama setelah batuk atau bersin.

Selain itu, dengan ngendon di rumah, toh kita tetap bisa produktif bekerja. Tentu yang penulis maksud bukan pekerja harian yang akrivitasnya tidak bisa dilakukan tanpa bertemu fisik dan menggunakan teknologi. Bagi orang yang bisa melakukan pekerjaan di rumah atau work form home (WFH), adalah wajib menjalankan hal itu. Setidaknya, langkah kita bisa mengurangi sebaran virus tersebut.

Seringkali, bekerja dari rumah dinilai negatif. Stres dan jenuh menjadi alasan klasik yang sulit dibantah. Padahal, dengan bekerja di rumah, kita punya waktu lebih banyak untuk berkumpul bersama keluarga. Sesuatu yang tidak mungkin kita dapatkan kala kondisi normal. Begitu pula dengan ibadah. Di mana saat ini ormas Islam sudah memberikan fatwa bahwa ibadah di rumah tidak mengurangi pahala ibadah dalam situasi pandemi seperti saat ini.

Ngendon di rumah juga memberikan kesempatan pada tubuh untuk melakukan recovery lebih maksimal. Tidur kita lebih terjaga dan asupan gizi lebih dari cukup. Terutama mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin C dan E. Meskipun, hal itu harus didukung dengan olahraga dan berjemur di bawah terik matahari agar Imun akan lebih tinggi. Karena tingginya imun saat ini, menjadi satu-satunya faktor penyembuhan penyakit, karena vaksin Covid-19 sampai hari ini juga belum ditemukan.

‘Mari kita jaga kesehatan kita, supaya kita bisa melawan penyebaran Corona dengan antibodi yang kita miliki. Jaga sehatmu kawan, sebelum sakitmu’.

(Penulis adalah Sub TA Pelatihan OSP3 KOTAKU Jawa Timur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here