Nu'man Iskandar. (RDS/PIJARNews.ID)

PIJARNews.ID – Akhir-akhir ini terjadi keributan soal keamanan penggunaan aplikasi komunikasi daring. Bahkan, ada kementerian yang membuat edaran yang menyebut secara khusus larangan penggunaan aplikasi tertentu. Benarkah aplikasi tersebut tidak aman? Atau aplikasi apakah yang paling aman? Jawabannya, mari kita gunakan logika sederhana ini untuk menjawabnya.

Kita akan tersadar bahwa ternyata tidak ada aplikasi atau jaringan komunikasi yang aman. Soal teknologi misalnya, jika teknologi komunikasi dan informasinya tidak diciptakan atau dibangun sendiri, sudah tentu tidak aman. Logikanya, bagaimana mungkin data yang kita miliki ini akan aman, tetapi alat dan tempat menyimpan data tersebut ditempatkan pada sebuah tempat yang dimiliki oleh pihak lain.

Selama ini kita memakai sebuah aplikasi yang bukan milik sendiri, dalam makna minimal diciptakan oleh bangsa kita sendiri. Kondisi tersebut ditambah, bahwa servernya juga tidak berada di Indonesia. Ini menjadi kunci untuk menyatakan bahwa alat dan jaringan komunikasi informasi tersebut tidak aman. Jangankan zoom yang dalam banyak berita disebut tidak aman, aplikasi WhatsApp (WA) yang kita gunakan saat ini juga tidak ada jaminan keamanannya. Hal ini sama seperti Facebook, Instagram, Twitter dan sebagainya, termasuk telegram yang disebut paling aman. Dulu, BBM juga disebut paling aman, nyatanya juga bisa diretas.

Pada aplikasi yang berbayar saja, tidak ada jaminan keamanannya. Apalagi pada aplikasi yang tidak berbayar alias gratisan. Coba saja, setiap kita melakukan install aplikasi, pasti kita diminta untuk memberikan persetujuan agar mereka bisa mengakses data kita, paling tidak data foto, tempat sesuai map dan sebagainya. Ketika kita memberikan persetujuan pada aplikasi untuk mengambil akses data foto kita, apakah kita bisa memastikan bahwa nanti yang akan diakses hanya data foto? Ini belum lagi soal alat komunikasi yang kita gunakan, nomor IMEI itu bisa digunakan untuk melacak siapa penggunanya.

Di Korea Selatan, kita tidak perlu takut kehilangan HP, karena dengan melakukan tracking IMEI, posisi HP tersebut sudah akan diketahui. Jika HP tersebut dicuri, maka tentu akan tertangkap pencurinya. Namun disatu sisi yang lain, data ini bisa digunakan untuk melacak lokasi seseorang, tetapi dalam sebuah operasi intelijen dan militer, tentu saja teknologi tersebut tidak aman. Terbunuhnya Qasem Sulaemani pimpinan Garda Revolusi Iran, adalah ketika data tersebut bocor dimana koordinat posisinya diketahui oleh pihak lain.

Mungkin kita pernah mendengar soal ribut Huawei di AS? Persoalannya sebenarnya hanya satu, soal data yang tidak aman dan melalui Huawei itu AS merasa data komunikasi mereka dicuri China. Dipermukaan, yang muncul adalah isu lain, soal perdagangan misalnya.

BACA JUGA :  Melihat Esok di Hari Ini; Sebuah Keprihatinan Sekaligus Harapan untuk Angkatan Muda Muhammadiyah

Mungkin kita merasa bahwa alat atau jaringan yang kita gunakan saat ini sudah aman, anggaplah aplikasi WA yang paling banyak kita gunakan, atau aplikasi Facebook. Padahal, jelas tidak aman, sama seperti aplikasi daring zoom yang disebut-sebut tidak aman. Jika zoom langsung terlihat kelemahannya, maka aplikasi lain tidak diketahui. Belum lagi jika pencurinya “gak bilang” kalau mengambil data. Kita merasa aman sebab kita tidak tahu data kita dicuri, diambil pihak lain.

Apalagi pakai alat atau jaringan aplikasi yang gratisan, pasti tidak aman. Atau mungkin misal kita memakai aplikasi berbayar, tapi alamat email yang digunakan untuk melakukan regristrasi juga pakai email gratisan, itu juga sama saja. Sama-sama rentan untuk digunakan pihak lain.

Soal keamanan ini juga terkait dengan adanya persaingan bisnis. Belum lagi soal permainan politik tingkat tinggi. Kadang juga kita tidak tahu permainan dibelakang layar. Semisal adanya tekanan dari pihak lain agar menggunakan satu produk tertentu yang berbayar dengan janji keamanan data seraya menyebut produk lain tidak aman. Padahal, apa jaminan keamanannya?

Presiden SBY yang kita kenal sangat ketat terkait protokol keamanannya, komunikasi teleponnya pun disadap. Itupun diketahui setelah ada pihak yang membocorkan kalau teleponnya disadap. Jika tidak ada yang membocorkan, mungkin kita akan merasa aman-aman saja. Bukti diatas menunjukkan bahwa, jaringan komunikasi VVIP juga ternyata tidak aman.

Mungkin kita pernah mendengar soal hasil rapat kabinet atau kementerian yang tiba-tiba beberapa saat sudah bocor di negara lain. Kemungkinannya hanya ada dua, dibocorkan atau dicuri. Jika dicuri, ini artinya alat atau jaringan komunikasinya tidaklah aman.

Jadi, sebenarnya tidak tepat jika kita memikirkan soal keamanan, tetapi pada saat yang bersamaan kita memakai produk gratisan. Karena gratisan, tentu saja data kita ini tersimpan pada database mereka pemilik aplikasi tersebut. Percakapan WA ini saja misalnya, tersimpan diserver di Amerika Serikat. Mereka bisa kapan saja membukanya tanpa kita ketahui. Dengan demikian, ketika kita memakai aplikasi dan jaringan yang bukan milik kita sendiri, belum soal negara yang sebesar ini tidak memiliki satelit komukasi pertahanan sendiri, maka masih terlalu jauh membahas keamanan data dan informasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here