Rizky Pratama J. (Dok. Pribadi/PIJARNews.ID)

PIJARNews.ID – Bahaya pandemi Covid-19 memang patut untuk diperhatikan, dengan tetap berhati-hati dalam beraktivitas guna menjaga dan meminimalisir penyebaran virus tersebut, tetap gunakan masker, hand sanitizer dan perangkat APD lainnya. Mengutip data dari www.covid19.go.id pada (30/4), kondisi terahir terdapat sebanyak 10.118 kasus positif yang terkonfirmasi, 792 korban meninggal dunia, dan sembuh sebanyak 1.522 orang. Di luar data ini, mungkin bisa lebih banyak dan juga sedikit, namun kita tetap berhati-hati dalam melewati masa pandemi ini.

Di tengah kondisi ini, memang banyak masyarakat telah mengalami kekurangan secara ekonomi. Hal ini memberikan efek yang cukup berpengaruh kepada aktivitas sebelumnya. Awalnya masyarakat bekerja untuk kebutuhan hidup, kemudian dipaksa berdiam diri dengan seruan #dirumahaja, lockdown, PSBB, Physical Distancing, dan lain sebagainya. Seakan membuat setiap aktivitas yang telah dilakukan sehari-hari, harus berhenti dan beradaptasi dengan hal baru, yaitu berdiam diri tanpa mendapatkan hasil seperti biasanya.

Kondisi ini membuat kebutuhan hidup masyarakat menjadi tersendat. Bukan hanya itu, mereka yang tidak memiliki tempat tinggal juga ada yang mengalami pengusiran dan harus menempati ruas-ruas jalanan untuk beristirahat, dikarenakan adanya pembatasan yang dilakukan oleh pemerintah dengan tidak melihat kondisi masyarakat ketika menerapkan kebijakan tersebut.

Patut untuk kita pertanyakan mengenai kebijakan pemerintah dalam menangani hal ini. Pasalnya bantuan kebutuhan hidup kepada masyarakat, terkhusus masyarakat menengah (miskin) sangat kurang diterima, bahkan kepada tenaga medis juga masih jauh dari kata memenuhi standart. Dapat dikatakan hal tersebut masih kurang sama sekali, hal ini dapat dibuktikan masih banyaknya wilayah yang kekurangan tenaga medis dan alat medis lainnya.

Artinya kebijakan pemerintah harus menyeluruh dalam memandang permasalahan ini, terutama di sektor ekonomi masyarakat miskin, kesehatan dan lain sebagainya. Namun, kondisi di lapangan sangat jauh berbeda, kebijakan yang diberlakukan sama sekali tidak memberikan keuntungan masyarakat rentan dalam mencukupi kebutuhan hidupnya.

Bahkan terdapat momen seakan pemerintah memanfaatkan permasalahan ini untuk melancarkan kehendak politik. Seperti masih adanya keinginan untuk membahas omnibus law ditengah pandemi, ini jelas-jelas sangat memalukan. Kemudian napi yang telah menjalani tiga perempat tahanan, dibebaskan demi menghindari penyebaran Covid-19, ini berefek pada bertambahnya tindakan kriminal di beberapa wilayah. Tentu perbuatan napi tersebut tidak lepas dari kebutuhan ekonomi pula.

Sehingga pembebasan napi yang dilakukan oleh pemerintah tersebut, tidak memperhatikan aspek kebutuhan hidup seseorang ketika keluar dari lembaga pemasyarakatan. Hal ini harusnya mendapat respon yang baik, dikarenakan negara masih memperhatikan napi sebagai manusia yang juga memiliki hak untuk berkehidupan. Namun sangat disayangkan negara tidak melihat kebutuhan hidup yang menjadi faktor primer dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA :  Genderang Kematian Petani

Kemudian, yang masih hangat ditelinga kita adalah kasus vandal. Kasus tersebut, menjadi isu panas untuk mengaitkan setiap tindakan kriminal yang ada kepada orang-orang yang melakukan perbuatan vandal tersebut atau yang terindikasi melakukan hal tersebut. Hal ini menjadi tidak masuk akal, dikarenakan data tiap wilayah yang melakukan tindakan kriminal berupa perampokan, pencurian, begal dan lain-lain berasal dari napi yang telah dibebaskan tersebut.

Penggiringan opini digunakan oleh aparat penegak hukum untuk melindungi kebijakan tentang napi yang dibebaskan, setelah itu menggunakan isu perbuatan vandal yang dilakukan oleh kelompok anarko menjadi bahan utama untuk dipropagandakan ke masyarakat luas. Sementara, anarko sendiri merupakan buah hasil pemikiran yang telah dicetuskan di dunia eropa pada masa lalu yang seiring perkembangannya menjadi sebuah ideologi yang ada di dunia.

Tulisan ini, hendak menyadarkan atas permasalahan-permasalahan yang timbul di masa pandemi ini. Artinya pemerintah harus melihat secara menyeluruh apa yang dialami oleh masyarakatnya. Bahkan harus bertanggung jawab atas kebijakan yang telah diambil atas pandemi ini. Dikarenakan kebijakan tersebut sangat memberikan efek terhadap aktivitas masyarakat.

Negara atas kebijakan ini, patut dan perlu untuk menyediakan kebutuhan hidup terhadap masyarakat. Namun, kondisi yang terjadi di lapangan, Negara belum memberikan bantuan sama sekali, pembagian makanan telah dibuka dimana-mana namun didatangi oleh aparat kepolisian padahal tujuannya untuk membantu masyarakat dengan memberikan sedikit bantuan terhadap kebutuhan hidupnya. Masyarakat juga perlu sadar akan kondisi yang tengah berlangsung ini, guna memperbaiki dan menjaga diri agar tetap dalam kondisi yang baik pula.

Negara harus dan perlu memperhatikan kondisi masyarakatnya, bukan hanya menyerukan dan menghimbau lewat media online atau offline, melainkan harus ikut turun pula melihat perkembangan kondisi masyarakat, terkhusus perekonomian masyarakat menengah kebawah yang sampai hari ini dalam melakukan aktivitasnya belum dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Konsep pembagian makanan telah banyak dilakukan oleh masyarakat. Hal ini membuat simpati masyarakat terhadap masyarakat lainnya begitu besar. Patut untuk diapresiasi, dan aparat penegak hukum terkhusus aparat kepolisian tidak perlu membawa isu ketertiban umum untuk menghalang-halangi perbantuan masyarakat ini. Namun, hal ini harusnya ada bentuk dukungan yang diberikan bukan mencurigai aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat untuk membantu masyarakat lainnya apalagi mencurigainya pun lewat isu covid 19 ini, hal ini membuat riskan.

Sekali lagi, tulisan ini tidak ingin membuat keonaran hanya ingin menyampaikan bentuk ekspresi terhadap kondisi pandemi ini. Baik kehendak politik yang tidak memperhatikan masyarakat hingga kebijakan-kebijakan lainnya yang berkesinambungan dengan politik kekuasaan ini. Terima Kasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here