Anisa Herwati, S.Pd. (Dok. Pribadi/PIJARNews.ID)

PIJARNews.IDBaiti Jannati atau rumahku adalah surgaku, kalimat itulah yang sering kita dengar dan yang menjadi dambaan bagi para orang tua dan si buah hatinya. Setiap orang tua pasti akan mendambakan rumahnya bagaikan surga, yang dihiasi oleh taman-taman yang indah, bunga-bunga yang cantik nan harum, berbagai macam buah buahan, pemandangan yang sejuk nan asri, nyaman, tenang dan jauh dari kebisingan. Anak adalah aset masa depan yang harus kita jaga dan perhatikan. Anak bisa mengantarkan kita untuk ke surga-Nya bahkan bisa juga mengantarkan kita ke neraka-Nya.

Inilah saat yang paling tepat untuk kita menjadikan rumah sebagai “baiti jannati” kesempatan yang sungguh luar biasa yang Allah berikan kepada hambah-Nya untuk memperbaiki diri, mendekatkan diri kepada-Nya dan juga kepada si buah hati. Anak adalah amanah Allah yang sengaja dititipkan kepada kita para orang tua. Tugas orang tua yang sejatinya memang harus menjadikan anak anak menjadi manusia yang berkepribadian mulia sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Hadist. Namun karena tuntutan hidup kadang kita hanya bisa menemani dan mendidik anak pada sebagian waktu, karena sebagian lagi anak-anak harus belajar di luar rumah.

Anak terlahir dalam keadaan fitrah, masih dalam keadaan suci dan bersih tanpa noda dan dosa. Kita lah yang harus memoles supaya anak kita bisa menjadi apa yang kita inginkan. Anak hebat tergantung bagaimana orang tuanya mengajarkan, dan anak sholih atau sholihah tergantung bagaimana orang tuanya memberi uswah hasanah. Orang tua adalah role model untuk para anak-anaknya. “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” kata peribahasa jawa, maknanya sifat serta perilaku anak tidak jauh berbeda dengan sifat orang tuanya.

Anak akan dengan mudah meniru sifat dan perilaku kedua orang tuanya, apabila orang tuanya selalu bersifat baik, maka begitu pula anaknya, namun ketika orang tuanya suka marah, dan berperilaku tidak baik maka begitu pula anaknya. Maka dari itu kita sebagai orang harus memberikan contoh atau teladan yang baik untuk anak-anak kita tercinta. Sebagaimana sabda Rosulullah yang artinya; “Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya sebagai yahudi, majusi dan nasrani” (HR. Abu Hurairah).

Pola Asuh Orang Tua

Oleh karena itu sebagai orang tua, kita juga harus tau bagaimana tumbuh kembang anak, pola asuh yang bagaimana yang dapat mempengaruhi otak pada anak. Ada beberapa pola asuh yang perlu kita fahami, yaitu pola asuh otoriter dan otoritatif. Pada setiap pola asuh pasti ada sisi positif dan negatifnya. Menurut Edward, pola asuh otoriter adalah pengasuhan yang kaku, diktator dan memaksa anak untuk selalu mengikuti perintah orang tua tanpa banyak alasan. Dalam hal ini peran hanya pada orang tua, orang tua cendrung memaksakan kehendakknya tanpa memperdulikan perasaan si buah hati, suka memerintah bahkan menghukum.

Pola asuh otoriter akan membuat anak menarik diri dari pergaulan, tidak mudah percaya diri dan pada orang lain, selalu merasa ketakutan, tidak mempunyai inisiatif atau tidak bisa kreatif, tidak bisa menyelesaikan masalah sendiri, dan rasa sosial tidak mudah berkembang.  Dalam segi positifnya anak akan disiplin dan mematuhi perintah orang tua karena yang didapat adalah perintah dan melaksanakan.

Sedangkan pola asuh otoritatif atau yang biasa disebut dengan pola asuh demokratis, orang tua memberikan kebebasan disertai dengan bimbingan pada anak. Orang tua memberikan kesempatan pada anak untuk bisa mandiri namun tetap disertai dengan batas dan pengawasan. Sifat positif yang didapat diantaranya percaya diri, bertanggung jawab, jujur, mandiri, smart, punya banyak teman dan suka mengexplorasi diri sehingga mempunyai banyak inovasi.

Model Pendidikan untuk Anak

Selain dari pada itu marilah kita tanamkan karakter yang nantinya akan mengantarkan kita para orang tua bisa sama-sama ke surga, bagaimana caranya? Ada beberapa model pendidikan untuk kita para orang tua supaya anak bisa menjadi pribadi yang baik. Pertama, kedua orang tua menjadi role model, suri tauladan bagi anak-anak kita. Dalam falsafah jawa ada istilah guru itu bermakna “diguguh lan ditiru”, anak-anak belajar pada apa yang mereka lihat. Oleh karena itu menerapkan hal-hal yang kita anjurkan bisa meninggalkan pesan abadi pada otak anak.

Misalnya kalau kita buat kesepakatan menaruh buku, tas, pensil, sandal maupun sepatu harus pada tempatnya. Maka kita harus juga melakukan apa yang sudah menjadi kesepakatan bersama. Apabila ada satu kesepakatan yang kita langgar, maka anak itu akan mudah untuk merekam dalam otaknya, dan akan melakukannya seperti apa yang kita lakukan. Apapun yang kita lakukan baik itu yang hasanah maupun yang dholalah, semua akan ditiru oleh anak kita.

Kedua, orang tua hendaknya menjauhi pelebelan negatif kepada anak, karena itu akan mempengaruhi psikologi anak. Akan tetapi lebih elok kiranya bersikap lembut pada buah hati kita. Karena secara psikologis anak akan lebih suka disayang dari pada dimarahi. Apabila anak melakukan kesalahan maka harus kita ingatkan dengan cara kasih sayang atau lembut. Jangan sampai memarahi anak dengan kata negatif maupun pukulan, misalnya kamu “bodoh” atau “goblok”.

Hal ini sangat penting karena anak mempnyai daya igat atau rekaman yang sangat tajam dan akan dia ingat selama hidupnya. Apabila kata-kata negatif yang sering dia dengar itu akan menunjukan itulah dia sebenarnya. Anak akan kehilangan jati dirinya, anak akan kehilangan rasa kepercayaan terhadap dirinya dan akan selalu berprasangka bahwa apa yang dikatakan orang tuanya itu adalah benar.

BACA JUGA :  Harapkan Sinergitas Antar Jenjang, PDPM Ponorogo Adakan Seminar Pendidikan

Nabi Muhammad bersabda, sesungguhnya Allah berfirman, ”Aku sesuai dengan perasangka hamba-Ku” ( HR.  Muslim). Senada dengan sabda diatas, Jalaluddin Rumi juga mengingatkan “Engkau adalah apa yang engkau pikirkan, saudaraku dan selebihnya adalah tulang dan serat. Jika engkau memikirkan bunga mawar, engkau adalah mawar kebun, jika engkau pikir engkau adalah anak, engkau adalah bahan bakar tungku”. Apabila pelebelan orang tua kemudian selalu diingat dan anak merasa dirinya bodoh atau tidak mampu melakukan apa-apa, maka anak akan selamanya sesuai dengan apa yang dia pikirkan.

Oleh karena itu, berkata yang positif saja walaupun anak kita masih belum mampu seperti apa yang kita inginkan, karena memang setiap anak mempunyai bakat yang berbeda-beda, berilah semangat untuk anak supaya tergerak hatinya dalam mencapai cita-citanya. Berilah penghargaan atau apresiasi jika anak kita melakukan kebaikan, walaupun hanya sekedar ucapan terimakasih atau hebat, misalnya, “Terimakasi anak sholih sudah membantu umi merapikan sepatunya..”, “Kakak hebat bisa mewarnai bunga itu dengan indah..”, dan lain sebagainya.

Ketiga, biarkan anak bermain atau beri mereka kesempatan bermain. Masa anak-anak adalah masa bermain, jangan renggut keceriaan mereka dengan memaksa apa yang kita inginkan. Saat kecil anak belum bisa berprestasi itu adalah hal yang wajar, jangan sampai mendoktrin anak harus menjadi ini itu, karena itu akan membuat anak menjadi tertekan. Setiap apa yang dia lakukan akan mengaca pada apa yang orang tuanya sering katakan. Buatlah anak-anak senyaman mungkin berada dengan kita dirumah, ajarkan yang baik dengan pemberian contoh tindakan. Dengan sendirinya anak akan mencari jati dirinya, “mau jadi apa aku kelak?..” Untuk membuat anak menjadi hebat tidak harus belajar dengan paksaan, namun dengan belajar yang menyenangkan.

Belajar sambil bermain akan memiliki makna yang berbeda, rasa semangat akan muncul ketika anak-anak belajar dengan apa yang mereka sukai, begitu yang dikatakan oleh Prof. Zainudin Maliki, saat mengisi acara Darul Arqom Daring di SD Muhammadiyah 6 Surabaya, bermain tidak pernah membuat anak-anak jenuh karena memang masa anak-anak adalah masa bermain, kita mencoba untuk memasuki dunia mereka dengan tidak meninggalkan tugas mereka sebagai seorang pelajar.

Misalnya belajar matematika, penjumlahan. Kita siapkan benda-benda/ mainan kesukaan anak yang sudah ada tinggal kita ajarkan cara bermainnya. Belajar bahasa inggris, My house.  kita kenalkan benda-benda yang ada di rumah dengan bahasa inggris atau benda-benda yang ada kita beri lebel dengan bahasa inggris. Kita ajak anak untuk membuat robot secara langsung dengan benda yg sudah kita siapkan. Learning by doing, anak-anak akan merasa senang dan tidak terasa kalau itu adalah pelajaran sekolah. Pembelajaran yang asyik dan menarik akan tercapai kalau kita sebagai orang tua bisa kreatif.

Keempat, orang tua hendaknya menjadi pendengar yang setia. Anak-anak cenderung lebih banyak mengekspresikan diri dengan bicara. Banyak anak yang ingin menceritakan apa yang ia dengar dan yang ia lihat. Anak-anak sangat membutuhkan perhatian, kita sebagai orang tua harus bisa menjadi sahabat serta orang tua yang baik. Menjadi pendengar cerita anak bukanlah hal yang mudah namun kalau kita biasakan untuk saling menghormati dan menghargai pastinya akan menyenangkan. Ini juga termasuk pembelajaran untuk anak, supaya bisa menghargai dan mendengarkan ketika ada yang berbicara.

Kelima, orang tua hendaknya tidak membandingkan anak yang satu dengan yang lain. Setiap anak mempunyai keunikan yang berbeda, walaupun dari satu orang tua, lingkungan yang sama dan dengan pendidikan yang sama sekalipun, mungkin sebagian orang tua mempunyai maksud baik dengan membandingkan anak, agar dia lebih kompetitif supaya anak bisa terpacu untuk berprestasi. Namun kalau itu sering dilakukan maka anak-anak akan menjadi stress, merasa rendah diri, suka mengurung diri dan bersikap acuh tak acuh. Maka kita sebagai orang tua jangan pernah membandingkan anak yang satu dengan yang lainnya.

Keenam, mendorong kemandirian anak, melatih kemandirian anak bukanlah hal yang mudah. Butuh kesabaran ektra dan butuh proses yang bertahap dan konsisten. Namun untuk mencapainya dibutuhkan kerjasama antara orang tua dan anak. Hargai apapun usaha anak, hindari untuk selalu membantu anak, yakinkan bahwa anak bisa mengerjakan sendiri, ajak anak untuk membantu pekerjaan rumah, sabar dan jangan terlalu memaksa, buat kesepakatan bersama. Motivasi, semangat dan kesabaran orang tua menjadi kunci sukses menghantarkan anak menjadi pribadi yang baik.

Enam ikhtiyar tersebut mungkin masih belum cukup untuk membentuk anak menjadi anak yang sholeh, sehingga masih dibutuhkan ikhtiyar teologis, yakni doa orang tua kepada anaknya agar menjadi anak sholeh, adalah variabel yang sangat penting untuk mendidik anak-anak kita menjadi anak yang sholeh dan berpretasi. Wallahu a’lambialassowaf.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here