FLYER: Webinar Kajian Kebon Jambu, Jombang - Indonesia. (Dok. Pribadi/PIJARNews.ID)

PIJARNews.ID – Satu per satu peserta berduyun-duyun menampakkan diri dalam sambungan jejaring Webinar Kajian Kebon Jambu (KKJ), Jombang – Indonesia. Dimana ini merupakan kali keempat Webinar dilakukan pada musim pandemi, Sabtu (9/5/2020) dimulai pada pukul 20.00 WIB.

Dalam kesempatan ini, tema yang dibahas adalah “Menakar Ulang Peran Kader sebagai Penerus, Pelangsung dan Penyempurna Persyarikatan”. Dipandu oleh Izzudin Fuad Fathoni selaku moderator acara dengan suasana yang tidak sepi peserta, mereka – peserta – meliputi wilayah Jawa Timur bahkan hingga luar Jawa.

Abdussalam As’ad sebagai pemantik diskusi memaparkan jika tema ini merupakan rangkaian dari sebelumnya, ia melempar pernyataan mendasar tentang fenomena posisi kader Muhammadiyah yang justru seolah tidak punya daulat di dalam organisasi sendiri. “Buat apa capek-capek ikut Ortom sebagai media perkaderan Muhammadiyah, tetapi justru tidak dianggap atau seolah menjadi tamu di rumah sendiri”, ucapnya.

Menurut Bang Salam – sapaan akrab Abussalam, seharusnya semua media perkaderan atau wadah Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) bisa menjadi bagian pengimplementasian akan harapan jargon penerus, pelangsung dan penyempurna dalam persyarikatan.

“Secara terang-terangan yang berkiprah di AUM seolah hanya sebatas bekerja, tapi pada dasarnya, ia miskin ideologi. Sehingga ibarat membangun rumah di atas pasir, yang dasarnya saja tidak kuat”, tambahnya yang juga wakil direktur di lambaga riset dan survey Kedai Jambu Institute (KJI) Indonesia.

Selanjutnya M. Mirdasy, selaku pembicara utama kajian mengungkapkan terkait tema ini – yang dia sebut PePePe – sejak awal tahun 2000an memang sudah menjadi koreksi dan pendalaman oleh PWPM Jatim yang tidak berorientasi pada jabatan atau kepengurusan semata. Namun pada ranah pemikiran, cita-cita dan gagasan Muhammadiyah.

Tetapi bagi Mirdasy, sekarang ketiga kata tersebut malah kehilangan makna dan arti yang sebenarnya, “Kenyataan yang terjadi pada beberapa Amal Usaha dan juga aktivitas gerakan persyarikatan seolah abai dan tidak bersungguh-sungguh menjadikan AMM adalah bagian penting bagi kelangsungan Muhammadiyah masa depan”, ungkapnya yang pernah menjadi Ketua Umum PWPM Jatim ini.

BACA JUGA :  Bersama Ustaz Nurbani Yusuf, Kajian Kebon Jambu Bicara tentang Dilema Muhammadiyah

Tidak dapat dipungkiri sering terjadi perbedaan pandangan dalam tubuh persyarikatan, kata dia, namun justru kenapa harus berakhir dengan “pembragusan kader” yang berasal dari AMM. “Memang hal ini kita sebut kasuistik, tapi saya ingin sampaikan bahwa kasus itu ada. Hal inilah yang kemudian kita memerlukan kelompok-kelompok seperti KKJ, yang bisa menjadi solidaritas antar kader dalam mempersoalkan kesamaan pengalaman yang didapat dalam persyarikatan”, tegasnya.

Jika terdapat alasan lain terkait kebutuhan spesifikasi atau profesionalitas SDM dalam menggerakkan AUM, menurut Mirdasy, keberadaan kampus-kampus Muhammadiyah apakah tidak bisa membentuk kebutuhan itu dan dipersiapkan. “Jauh-jauh hari sudah disiapkan untuk mengisi spesifikasi bidang-bidang tersebut. Hal ini saya rasa yang belum ada, namun justru terjadi pembiaran yang tanpa arah”, tambahnya.

ANTUSIAS: Suasana diskusi peserta Webinar KKJ (4). (Dok. Pribadi/PIJARNews.ID)

Lebih disayangkan lagi, kata dia, ada AUM yang tidak perlu lagi mempedulikan dan mempersoalkan mereka itu dari mana, lalu bisa menduduki jabatan dan menjadi penumpang gelap dalam persyarikatan. Artinya menurut Mirdasy apa yang dirisaukan kawan-kawan dalam KKJ ini menjadi benar, diperlukan bangunan solidaritas yang kuat antara yang ada di luar struktur maupun yang di dalam. “Ada saling kesetiaan, yang di luar jangan terus mengabaikan apa yang terjadi di dalam kepengurusan, begitu juga yang di dalam juga harus peduli pada mereka yang ada di luar”, ujarnya.

Untuk itu diakhir paparannya, Mirdasy berpesan agar ada bangunan solidaritas kader AMM dengan kekuatan alumni yang disebut interset group dan pressure group – meminjam istilah dalam Ilmu Politik. Di satu sisi terdapat kelompok kepentingan dan di sisi yang lain ada kelompok penekan yang nanti menjadi hegemoni baru dalam rumah persyarikatan. Selengkapnya Webinar KKJ juga diunggah pada akun youtube PIJARNews.ID. (mra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here