THEOLOGI VIRUS: Ilustrasi oleh RDS/PIJARNews.ID.

PIJARNews.ID– Tulisan ini hendak menggambarkan sikap umat Islam terhadap wabah Covid-19 yang sedang melanda masyarakat berdasarkan paham keagamaan (theologi). Gambaran sikap tersebut penulis sebut dengan istilah Theologi Virus, yaitu sebuah gambaran fenomena sosial keagamaan masyarakat beragama, dalam menyikapi wabah atau penyakit dikaitkan dengan paham keagamaannya.

Masyarakat global, termasuk umat Islam Indonesia saat ini sedang terguncang (krisis) akibat wabah virus Covid-19. Virus yang menyebar hampir ke seluruh negara di belahan bumi. Dari 200 Negera sekitar 180 negara terpapar Covid-19. Berdasarkan data dari Worldometers yang dikutip oleh KOMPAS.com hingga 12/5/2020 total kasus terkonfirmasi mencapai 4.245.003 kasus, yang sembuh 1.521.899 orang, sedangkan yang meninggal sudah 286.653 orang.

Sementara kasus Indonesia hingga hari Rabu (13/5/2020) terkonfirmasi sebanyak 15.438 kasus, sembuh 3.287 orang, serta meninggal 1.028 orang, dan kemungkinan akan terus bertambah. Data tersebut  menggambarkan Covid-19 bagi masyarakat seperti hantu ‘Zombie’  yang membahayakan dan menakutkan dengan setiap hari kita menyaksikan “festival kematian ” di tengah masyarakat global ataupun Indonesia.

Situasi tersebut menghenyak kesadaran masyarakat global termasuk umat Islam di Indonesia. Bahwa Covid-19 sedang memporak-porandakan relasi dan bangunan struktur sosial, politik, budaya, ekonomi dan keagamaan. Keadaan dimana sebelumnya tidak pernah terjadi situasi semacam ini di sepanjang akhir abad. Fenomena  perubahan struktur sosial masyarakat akibat pandemi virus (mikroba) disebut dengan teori Sosiovirologi .

Ragam Sikap Umat Islam Menghadapi Covid-19

Fenomena di atas terkait pandemi atau wabah Covid-19 yang sedang berlangsung di masyarakat disikapi secara beragam oleh umat Islam di Indonesia.  Dari pengamatan penulis, terdapat tiga gambaran sikap umat Islam dalam menghadapi wabah penyakit berupa virus (Covid-19): Pertama, Sikap Jabariyah. Dalam studi ilmu Kalam (theologi), Jabariyah berasal dari kata Jabara berarti memaksa melakukan sesuatu. Secara istilah Jabariyah adalah aliran theologi Islam yang berpendirian bahwa manusia dalam kehendak atau perbuatannya tak ubahnya seperti ranting kayu yang bergerak lantaran terpaksa, segalanya atas kehendak Tuhan semata.

Imam As Syahratani menyebut meniadakan perbuatan dari manusia dan menyandarkan semua perbuatan kepada Allah. Jadi sikap Jabariyah adalah menyakini bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan kekuasaan untuk berbuat atau merubah sesuatu. Manusia lemah tidak berdaya sehingga pasrah total terhadap kehendak Tuhan, atau disebut aliran Pasifisme Mutlak.

Model sikap Jabariyah dalam menyikapi pandemi virus Covid-19 biasanya cenderung ditunjukan dengan sikap kepasrahan tanpa mau usaha (ikhtiar). Ungkapan yang sering dimunculkan “yang membuat hidup dan mati itu Allah bukan Corona, kenapa harus takut Corona”, ada pula ungkapan “sakit dan obat itu berasal dari Allah, kalau Allah menakdirkan sakit ya sakit dan kalau Allah menakdirkan sembuh ya sembuh jadi bukan karena Corona sumbernya”, “Sholat di masjid kok dilarang takut Corona, tapi ke pasar tidak di larang padahal masjid rumah Allah”, dan masih banyak ungkapan bernada pesimis.

Secara umum mereka cenderung menyakini semua penyakit, obat, mati, hidup, sembuh  itu bersumber dan semua yang terjadi  pada manusia itu semua  atas kehendak Allah bukan karena virus Corona. Sehingga mereka tidak terlalu peduli dan percaya dengan anjuran-anjuran pemerintah, MUI, Ulama, Ormas keagamaan terkait protokol kesehatan menghadapi Covid-19. Seperti sikap yang ditampilkan oleh komunitas keagamaan Jama’ah Tabligh.

Kedua, Sikap Qodariyah. Berasal dari kata Qadara berarti kemampuan dan kekuatan. Qodariyah adalah sebuah aliran pemikiran ilmu Kalam atau golongan Islam yang menyakini manusia mempunyai kekuasaan mutlak dan kebebasan untuk menentukan segala macam perbuatanya tanpa intervensi Tuhan. Artinya pada posisi ini Tuhan tidak punya kuasa terhadap perbuatan manusia. Manusia sangat otonom dalam menentukan segala perbuatannya, atau disebut aliran Optimisme Mutlak.

Model sikap Qodariyah dalam menyikapi wabah Covid-19 biasanya ditunjukan dengan sikap arogan dan menyepelekan Covid-19. Dianggap penyakit biasa, tidak akan berdampak apa-apa, jadi santai saja tidak perlu takut. Tampak dari beberapa ungkapan-ungkapan bernada meremehkan di media sosial. Seperti ungkapan beberapa Mentri kepresidenan yang dikutip oleh suara.com (16/3/2029). Antara lain, Menteri Perhubungan RI mengatakan, “Covid-19 tidak akan masuk karena setiap hari makan nasi kucing”, adapula kelakar Menteri Airlangga “Izinnya berbelit-belit, virus Corona tidak masuk”, dan sebagainya. Kelompok Qodariyah ini cenderung  meremehkan, arogan dan sombong menyikapi Covid-19 mungkin mereka begitu yakin apa yang dia miliki dari berilmu, kekuasaan dan berduit. Padahal semua itu berasal dari Allah, dan jika Allah sudah berkehendak, maka tidak ada satupun kekuatan yang mampu melawan dan menghindar.

BACA JUGA :  Kesabaran Adalah Ujian Dakwah

Ketiga, Sikap As’ariyah. Paham As’ariyah merupakan paham yang didasarkan pada pemikiran ilmu Kalam (theologi) Abu Al Hasan Al Asy’ari. Menurut Al Asy’ari terkait perbuatan atau kehendak manusia memunculkan teori kasb (usaha manusia). Ia membedakan antara fi’lu dan kasb . Fi’lunya manusia semua diciptakan oleh Allah, manusia hanya memiliki kemampuan kasb . Dengan kasb ini, taklif disematkan pada manusia.  Artinya semua perbuatan manusia diciptakan oleh Allah. Namun, Allah juga menciptakan sebuah kekuatan (qudrah) bagi manusia untuk berkehendak (ikhtiar), memilih perbuatan baik dan jelek sehingga ada balasan pahala dan dosa, atau di sebut aliran Theologi Moderat.

Kelompok As’ariyah dalam menyikapi  wabah Covid-19 ini cenderung moderat. Artinya tidak pasrah total kepada kehendak Allah, manusia tidak berdaya dan percaya diri total mengandalkan yang dia miliki tanpa peduli Allah yang menciptakan ini semua. Kelompok As’ariyah lebih arif dan bijak menyikapi wabah Covid-19, yaitu dengan tetap menyakini bahwa semua ini (Covid-19) berasal dari Allah. Sehingga, kita harus selalu memohon doa kepada Allah agar wabah ini segera diangkat kembali keharibaan Illahi Rabbi, dan berdoa agar terhindar dari wabah Covid-19.

Selain berdoa, sebagai bagian dari tawakal, kita juga harus tetap berikhtiar. Sebab Allah telah memberikan ilmu dan akal kepada kita guna dijadikan alat berfikir dan berikhtiar. Sehingga dengan akal dan ilmu itu, kita berikhtiar semaksimal mungkin untuk menghindar dari wabah Covid-19, dengan mengikuti protokol kesehatan yang menjadi kesepakatan bersama oleh WHO.

Ungkapan yang terkenal dari kelompok ini diambil dari ungkapan Khalifah Umar bin Khattab saat menghadapi wabah tha’un adalah “menghindari dari takdir Allah menuju ke takdir Allah lainnya”. Semoga kita masuk pada kelompok manusia yang bijak dan arif, dalam menyikapi Covid-19 dengan jaga jarak, jauhi kerumunan orang, stay at home dan selalu berdo’a kepada Allah Swt untuk memohon kesehatan, kekuatan dan kesabaran.

Editor: Suhartatok

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here