MEMBENTUK KADER: Ilustrasi oleh RDS/PIJARNews.ID.

PIJARNews.ID – Di bulan Mei ini topik pembahasan Pemuda Muhammadiyah cukup menarik untuk dibicarakan dan didiskusikan, karena merupakan bulan kelahiran organisasi yang digawangi oleh pemuda. Dimana saat ini usianya yang sudah mencapai 88 tahun telah banyak menorehkan pengabdian bagi umat dan bangsa dibawah bendera Muhammadiyah.

Milad di tahun 2020 kali ini mengambil tema “Meneguhkan Solidaritas, Menebar Kebaikan, Mencerahkan Semesta”. Semoga dengan tema tersebut Pemuda Muhammadiyah semakin banyak dan terus mengambil peran dalam pengabdian untuk kebaikan umat dan bangsa. Dalam tulisan ini akan dikupas terkait pembentukan generasi kader berkualitas persyarikatan yang memiliki solidaritas dan kesetiaan terhadap persyarikatan Muhammadiyah.

Generasi merupakan tunas awal dari sebuah proses pergantian baik dilingkungan lingkup kecil ataupun besar. Setiap organisasi atau bahkan sesuatu yang lebih luas seperti tatanan masyarakat pastilah membutuhkan generasi penerusnya. Tidak akan berarti apa-apa jika sebuah organisasi atau tatanan masyarakat itu memiliki tingkat kualitas yang tinggi, namun ia tidak memilki kader atau generasi yang akan melanjutkan perjuangannya. Generasi yang berkualitas adalah dambaan dan harapan dari setiap organisasi, termasuk Muhammadiyah.

Prinsip MKCHM

Busyro Muqaddas Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dalam sebuah kesempatan pernah memaparkan prinsip Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM), tepatnya pada momen Pengajian Ramadhan PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Juni 2017. Menurutnya MKCHM merupakan rumusan ideologi Muhammadiyah yang menggambarkan tentang hakikat Muhammadiyah, faham agama menurut Muhammadiyah dan misi Muhammadiyah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

MKCHM tersebut dirumuskan menjadi 3 kelompok. Pertama, mengandung pokok-pokok persoalaan yang bersifat ideologis, yaitu Muhammadiyah adalah gerakan Islam dan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, berakidah Islam, bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah, bercita-cita dan bekerja untuk terwujudnya masyarakat yang utama, adil makmur yang diridhai Allah SWT

Kedua, mengandung persoalan mengenai faham agama menurut Muhammadiyah, yaitu Muhammadiyah mengamalkan Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, serta bekerja untuk terlaksananya ajaran-ajaran Islam, dan. Ketiga, mengandung persoalaan mengenai fungsi dan misi Muhammadiyah dalam masyarakat Negara RI, yaitu Muhammadiyah mengajak seluruh masyarakat untuk berusaha bersama-sama menjadikan suatu Negara yang adil makmur dan diridhai Allah SWT.

Maka ketiga kelompok tersebut jika diringkas, telah menggambarkan tentang prinsip, keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah yang didasarkan pada pemahaman Al-Qur’an dan As-Sunnah, dengan menggunakan ijtihad sebagai metode untuk memahami.

Dengan mengacu pada prinsip MKCHM tersebut, maka untuk kalangan muda sebagai generasi berkualitas penerus Persyarikatan Muhammadiyah, bisa diterjemahkan menjadi beberapa kualifikasi. Dan apa saja kualifikasi dari generasi yang berkualitas ini? Sebuah generasi dapat dikatakan berkualitas jika ia memiliki sebagai berikut: Pertama,  Moralitas yang sesuai dengan tuntunan agama. Kedua, Intelektualitas, dimana tingkat intelektualitas juga sangat mempengaruhi peradaban yang lebih baik.

Ketiga, Semangat untuk berjuang dalam persyarikatan, yang dilandasi niat yang ikhlas hanya mengharap ridho Allah Swt. Pertanyaannya adalah, apakah masih ada generasi berkualitas dengan kualifikasi diatas? jawabannya adalah mungkin masih dan mungkin juga tidak. Pemuda atau generasi, secara psikologis memang sedang dalam masa pengokohan jati dirinya. Para pemuda suka mengekspresikan dirinya lewat hal-hal yang notabennya mereka sukai dan mengandung unsur keberanian serta eksistensi diri. Inilah masalah sekaligus realitasnya.

Terkadang apa yang mereka sukai belum tentu benar menurut pihak lain, namun karena kurangnya komunikasi dan pengetahuan yang mendalam tentang itu (baik secara ruhaniyah maupun lahiriyah), hal-hal buruk yang seharusnya tidak dilakukan dapat dilakukan begitu saja, karena beberapa alasan, yakni dari segi psikologis anak muda yang masih unsteable, kurangnya komunikasi dan empati, serta pengaruh lingkungan yang signifikan dan mendominasi, dan lain sebagainya.

Membentuk Loyalis Persyarikatan

Sebenarnya, mengapa kita begitu membutuhkan kader yang berkualitas dan memiliki solidaritas serta kesetiaan, padahal dengan status quo yang sedemikian rupa? Jika tidak ada kader berkualitas dan memiliki solidaritas serta kesetiaan, maka yang  ada hanyalah kader yang tidak berkualitas, atau kader yang biasa-biasa saja, ditambah lagi tidak solid dan tidak setia, baik pada aturan organisasi ataupun kebijakan pimpinan.

Padahal, zaman semakin bergerak maju dan terus berusaha melahirkan peradaban-peradaban baru. Tanpa adanya generasi yang berkualitas yang memiliki solidaritas dan kesetiaan, maka kemajuan dan peradaban organisasi akan semakin sulit didapatkan. Hanya ada dua kemungkinan, yaitu antara  kemungkinan organisasi itu akan bertahan pada kondisi semula (stagnan) dan konsisten namun tidak ada kemajuan, atau kemungkinan selanjutnya organisasi itu akan bergerak mundur dan mengalami kehancuran. Mengenaskan, bukan?

Hal yang sangat penting dan fundamental di dalam sebuah organisasi adalah LOYALITAS dan KEBERSAMAAN dari setiap anggota dan pimpinannya yang akan sangat menentukan kemajuan dan perkembangan organisasi mengingat adanya berbagai tantangan yang seringkali dialami oleh sebuah organisasi. Tanpa adanya loyalitas dan kebersamaan, maka sebuah organisasi tidak akan berjalan dengan baik bahkan terkadang tidak akan mampu bertahan apabila di dalamnya tidak diterapkan sikap loyal dan kebersamaan dengan baik.

Hal ini dapat dikatakan sebagai kesetiaan terhadap organisasinya. Apabila para anggota organisasi memiliki kesetiaan/loyalitas terhadap organisasinya, maka ia akan merasa memiliki kesadaran akan kewajiban untuk menggunakan semua fasilitas, kemampuan serta sumber daya yang dimilikinya demi kemajuan organisasinya. Semua itu dapat terlihat dari para anggota organisasi yang selalu mentaati peraturan atau kesepakatan yang telah ditentukan baik tertulis maupun lisan

BACA JUGA :  Dakwah Akademik di Tanah Renaisans

Logikanya, semua hal di dunia ini pasti memiliki hubungan sebab-akibat seperti halnya yang dikemukakan oleh para filsuf seperti Socrates, Plato, dan muridnya Aristoteles. Jika kader dan generasinya buruk maka masa depan organisasinya pun akan buruk dan begitulah sebaliknya. Tidak ada sebuah organisasi yang menginginkan organisasi itu dikemudian hari akan semakin buruk, bahklan collapse. Terlebih lagi, bagi salah satu organisasi otonom Muhammadiyah, salah satunya Pemuda Muhammadiyah.

Pemuda Muhammadiyah, disebut sebagai kader bagi Persyarikatan Muhammadiyah, namun Pemuda Muhammadiyah juga pada dasarnya membutuhkan kader. Pemuda Muhammadiyah adalah organisasi otonom yang sangat membutuhkan kader berkualitas karena Pemuda Muhammadiyah adalah organisasi berbasis kaum muda. Kaum muda juga memilki karakteristik ideal untuk menjadi kader, diantaranya: Pertama, karena usia pemuda adalah masa-masanya mencari pengalaman dan ilmu pengetahuan yang merupakan modal awal untuk menjadi penerus organisasi yang baik.

Kedua, karena pemuda adalah tokoh pemberani dan banyak ide, yang memiliki kekuatan dan fresh idea untuk dituangkan, dan pemuda memiliki kekuatan serta andil yang cukup kuat untuk turut berperan dalam kemajuan persyarikatan dan bangsa. Ketiga, usia pemuda yang ideal untuk dapat meneruskan perjuangan para generasi tua.

Maka dari itu, sebagai pemuda, lebih tepatnya Pemuda Muhammadiyah, harus ikut memikirkan tanggung jawab yang secara tidak langsung dipikulkan kepadanya kelak. Yakni, bukan hanya menjadi kader. Namun, menjadi kader berkualitas yang memiliki solidaritas dan kesetiaan (atau istilah lain loyalis organisasi), dimana kader berkualitas ialah kader yang memilki integritas yang tinggi, memilki moralitas yang baik, intelektualitas yang memadai, dan semangat juang yang membara.

Menjadi Kader Berkualitas

Bagaimana cara menjadi kader yang berkualitas? Simpel saja, menjadi orang yang selalu berusaha memenuhi 3 kualifikasi diatas. Ingat, moralitas tak akan pernah lepas dari keindahan intelektualitas dan tidak ada apa-apanya tanpa didasari semangat juang yang membara. Untuk mencapai 3 kualifikasi tersebut, kita harus memiliki mindset yang hebat serta prinsip yang kuat. Al-Qur’an dan Hadits adalah sumbernya.

Jadilah seseorang yang selalu berpegang teguh pada agama, berperilaku seperti yang diajarkan Rasulullah, selalu berusaha berbuat baik dimanapun kita berada, gemar mempelajari ilmu agama sebanyak mungkin agar tidak salah jalan di kemudian hari. Serta imbangi pula dengan pengayaan diri pada ilmu pengetahuan, berbagai macam skill dan passion sebagai modal untuk menjalani kehidupan di dunia ini, terlebih untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama.

Selanjutnya, yakni memupuk tumbuhkan rasa solidaritas dan kesetiaan kader. Hal ini harus dipupuk dengan kegiatan-kegiatan non organisatoris, semisal kegiatan yang mengedepankan rasa empati dan kebersamaan antar pemuda atau kader. Sesama kader harus saling merasakan dan sehati terkait apa yang dialami atau yang dilakukan diluar kegiatan organisasi. Susah senang dialami bersama.

Kegiatan tersebut bisa dilakukan dengan makan bersama di salah satu rumah kader, bermain dan bersenda gurau bersama dengan melepaskan status jabatan organisasi, “tidur bersama”, dalam satu perjalanan atau touring bersama, dua sampai tiga hari atau lebih, dilakukan berturut-turut. Dengan adanya kebersamaan dalam giat diluar aktivitas keorganisasian, maka akan terbangun solidaritas dan rasa kesetia kawanan antar kader pemuda.

Dari situ juga, sesama kader bisa saling mengetahui dan mengerti satu sama lain, baik kondisi kesenangan dan kesusahan yang dialami oleh masing-masing kader pemuda, bahkan keluarga hngga persoalan pribadinya. Dari seringnya saling tahu dan saling mengerti tersebut, kemudian muncul hubungan solidaritas secara otomatis dan menjadi terbiasa saling membantu dan saling memberi solusi.

Namun jika antar kader pemuda tidak pernah makan bersama, tidak pernah senda-gurau bersama, tidak pernah perjalanan bersama, bahkan tidak pernah “tidur bersama”, dan yang ada hanya pertemuan di meja rapat serta komunikasi formal organisasi, maka solidaritas dan kesetiaan akan sulit terbangun, bisa jadi yang muncul adalah pembangkangan dan ketidak teraturan dalam berorganisasi, dan ini sangat berbahaya dalam tradisi keberlangsungan organisasi Pemuda Muhammadiyah sebagai generasi penerus, pelangsung dan penyempurna persyarikatan Muhammadiyah.

Terakhir, kita bisa menanamkan semangat juang kader, tanamkanlah dalam diri bahwa dunia membutuhkan kaum muda, Indonesia membutuhkan kaum muda, Muhammadiyah membutuhkan kaum muda, Pemuda membutuhkan membutuhkan kader muda berkualitas yang memiliki solidaritas dan setia, “kalau bukan pemuda siapa lagi?” Maka dari itu, harus diawali dari diri kader pemuda, berjuang mulai dari detik ini agar terwujud generasi kader berkualitas yang memiliki solidaritas dan setia baik kepada organisasi ataupun kebijakan pimpinan, sebagai penerus, pelangsung dan penyempurna amanah.

Dimana sebagai penerus harus memilki kualitas diri, inisiatif tinggi, solidaritas dan kesetiaan untuk menjadi pengganti, serta keberanian yang hakiki, dan harus memiliki konsistensi untuk menjadi generasi “kader pelangsung”. Sehingga dapat menyempurnakan amanah yang diberikan oleh umat khusunya, dan bangsa Indonesia pada umumnya. Wallohualam biisowaf.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here