BARISAN: Ilustrasi diunduh dari www.tribunenewsline.com.

Oleh: Aswin Jidda Hanif*

PIJARNews.ID – Ramadhan saat pandemi Covid-19 alhamdulillah sudah memasuki malam 10 hari akhir Ramadhan. Bulan Ramadhan kali ini berbeda dengan Ramadhan sebelumnya. Sementara mendekati Hari Raya Idul Fitri, hati semakin bimbang, akankah ada gelaran shalat jamaah Ied sebagaimana sebelum-sebelumnya. Atau tidak ada karena akan berpotensi membahayakan keselamatan bersama.

Seperti yang kita ketahui momentum  Idul Fitri, merupakan momen suci nan sakral bagi umat muslim. Momen yang dinanti-nantikan setiap tahunnya, bahkan non-muslim pun sangat menghormatinya dan turut menyambut hari bahagia bagi saudaranya.

Sholat Ied sendiri hukumnya sunnah muakkadah yang meskipun ditinggalkan secara sengaja tidak lantas membatalkan keislaman. Apalagi dalam rangka menjaga keselamatan dan ancaman kehidupan manusia. Namun, bagi sebagian besar umat muslim yang awam, menganggap bahwa Sholat Ied secara berjama’ah, merupakan rangkaian ibadah di Bulan Ramadhan. Sehingga sangat menyayangkan jika pagelaran Shalat Ied kali ini berbeda dengan sebelumnya atau bahkan jika ditiadakan.

Tak heran jika sampai Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yang dipimpin oleh Prof. Syamsul Anwar, yang sangat saya hormati dengan sepenuh hati, hingga saat ini saya masih mempelajari pemikiran beliau, mengupayakan fatwa Tarjih. Sebagai solusi bagi yang ingin melaksanakannya bisa dengan berjamaah bersama keluarga di rumah serta mempelajari rukun-rukunnya.

Perbedaan Mencolok Muhammadiyah dengan Ormas Keagamaan Lain

Banyak informasi tentang beberapa maklumat pusat yang sudah sampai di jajaran daerah dan cabang, hal ini memicu pergolakan dikalangan bawah. Sehingga banyak sekali respon dengan tanggapan pro dan kontra. Informasi terbaru yang saya terima dari jajaran di bawah,  adanya maklumat dari organisasi lain yang diinstruksikan dari pusat tentang pelaksanaan ibadah Shalat Ied. Dan maklumat tersebut langsung diamini oleh seluruh jajaran baik wilayah, daerah hingga cabang (sami’na wa atho’na). Hal ini menjadikan pergolakan organisasi kita semakin menganga, kenapa kita tidak bisa kompak?

Kebanyakan ormas yang mengacu pada satu imam mazhab, cukup dengan satu maklumat pusat sebagai wakil imam. Maka, akan sangat mungkin menjadi fatwa yang paripurna dan diamini seluruh jajaran ormasnya.

Sedangkan di Muhammadiyah apakah ada Imamnya? Atau menganut mazhab siapa? Maka tidak heran jika di dalam tubuh Muhammadiyah, seluruh ulama memiliki pandangan dan pendapat yang variatif, sesuai dengan masing-masing isi kepala, proses dan metodologi Ijtihad. Pun tidak dibatasi oleh satu imam mazhab atau sejumlah ulama’ saja.

BACA JUGA :  Benteng Pencegahan Covid-19 di Desa Junganyar Bangkalan

Ciri Khas Muhammadiyah

Jika dilihat dari tipologi gerakan, Muhammadiyah merupakan organisasi yang tidak berafiliasi pada satu mazhab. Yang mana metodologi Ijtihadnya menggunakan metodologi tarjih atau lebih umum disebut Manhaj Tarjih . Metode ini juga memiliki aturan dan syarat tertentu dalam pengambilan sumber hukum. Misalnya dalil hadist yang dipertanyakan kesahihannya, dalil Al-Qur’an yang dipertanyakan tafsir yang disepakati kebanyakan ulama’ mahsyur, dan dalil pendapat ulama’ yang dicari pendapat yang paling kontemporer dan disepakati sebagian besar ulama’ mahsyur.

Maka nampak jelas bahwa kedigdayaan Muhammadiyah adalah terletak di proses Ijtihadnya dalam merumuskan fatwa bagi umat. Sebagaimana kalimat Syaikh Muhammad Abduh “yang membuat Islam bertahan hingga saat ini adalah adanya Ijtihad”. Justru adanya kemajemukan adalah suatu wujud rasa syukur kita atas karunia Allah dengan mengoptimalkan akal dan tidak harus kita selaraskan secara utuh. Apakah mungkin kita paksakan sama secara utuh antara empat imam mazhab besar; Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Hambali dan Imam Syafi’i? Saya rasa tidak mungkin.

Solusi Muhammadiyah bagi Umat

Perbedaan adalah keniscayaan yang terbentuk sesuai dengan daerah dan latar belakang umat. Apalagi dalam menghadapi fenomena pandemi atau wabah dan kaitannya dengan prosesi ibadah Shalat Ied kali ini, maka Muhammadiyah mengakomodir seluruh perbedaan itu manjadi satu tujuan yaitu mengikuti ajaran Nabi  Muhammad s.a.w.

Namun, dari proses Ijtihad yang memforsir habis seluruh waktu, tenaga dan pikiran guna merumuskan sebuah fatwa demi kemaslahatan umat, akan mengalami keselarasan hasil dan suara yang sama dipenghujung perdebatan, adalah suatu hal yang tidak menutup kemungkinan, wallahu a’lam.

Sebagaimana himbauan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir kepada seluruh warga Muhammadiyah agar satu suara, satu barisan dalam menyikapi ibadah Shalat Ied tahun ini. Itu merupakan wujud ekspresi tertinggi melampaui proses ilmu dan memuliakan adab dan etika dalam berorganisasi.

*) Penulis merupakan Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Mojokerto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here