Logo Hari Kebangkitan Nasional 2020, bahan diunduh dari www.kompas.com.

PIJARNews.ID – Hari kebangkitan Nasional (Harkitnas) tahun 2020 ini, dapat menjadi momentum bagi seluruh elemen rakyat Indonesia untuk bangkit bersama bergandeng tangan melawan wabah Covid-19 secara berjamaah. Pandemi Covid-19 telah mendorong pada krisis masyarakat global. Krisis tersebut menjadikan perubahan pada bangunan kehiduapan atau pola relasi sosial, politik, budaya, ekonomi, lingkungan, keluarga, kesehatan dan keagamaan pada masyarakat global.

Selain itu, sebaran pandemi Covid-19 masih cenderung trendnya tinggi dan meluas. Seluruh negara dari 200 hampir 182 negara di belahan bumi ini terpapar Covid-19. Berdasarkan data Worldmatars yang dikutip oleh KOMPAS.com (20/5/2020) tercatat 4,9 juta kasus positif,  324.417orang meninggal, 1,9 juta orang sembuh. Adapun untuk kasus Covid-19 di Indonesia terkonfirmasi  18.496   kasus positiv, 1.221 orang meninggal, 4.467 orang sembuh, dan kemungkinan terus bertambah.

Data di atas, menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 sangat berbahaya dan menakutkan bagi keberlangsungan hidup masyarakat. Mengahadapi situasi ini, belum ada satupun pakar virus (dunia kedokteran) yang berani mengatakan berakhirnya pandemi Covid-19. Serta, sampai saat ini belum ditemukan vaksin Covid-19.

Berdasarkan realitas di atas, dimana situasi masih gawat dan berbahaya terhadap keberlangsungan hidup masyarakat Indonesia akibat pandemi Covid-19, maka dalam momentum Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 20 Mei 2020, sangat tepat bagi kita seluruh rakyat Indonesia untuk bangkit bersama bergandeng tangan (bergotong-royong) dalam melawan Covid-19.

Bangkit melawan Covid-19 tersebut bisa dilakukan dengan diantaranya: Pertama, terus membangun kesadaran bersama bahwa Covid-19  menajadi persoalan seluruh masyarakat Indonesia, dari Pemerintah Pusat hingga Pemerintah Desa beserta masyarakat. Saling sinergi memberi contoh dan komitmen menjalankan peraturan/ kebijakan yang dibuat oleh pemerintah untuk dipatuhi di lapangan, seperti larangan mudik, pelaksanaan PSBB, Bansos, larangan Shalat Iedul fitri di masjid atau di tanah lapang, dan sebagainya. Bukan malah saling bernegasi antar kebijakan dan sengaja melanggar aturan dengan beragam alasan untuk kepentingan pribadi.

BACA JUGA :  Bepergian

Kedua, terus bangkitkan komitmen melaksanakan protokol kesehatan yang sudah disepakati oleh WHO, yaitu jaga jarak (phsyical distancing), jauhi bergerombol (social distancing), pakai masker, cuci tangan pakai sabun, dan di rumah aja (stay at home), makan makanan bergizi seimbang, dan rajin olah raga.

Ketiga, bangkitkan kesadaran sosial bergotong-royong di masyarakat dengan saling membantu tetangga atau orang lain yang menjadi korban dan terdampak Covid-19. Keempat, bangkitkan kesetiakawanan lingkungan, dengan bergotong-royong sesama warga menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal.

Kelima, bangkitkan kesadaran theologi (Ilahiyah) kepada Tuhan yang Maha Kuasa, dengan membangun keyakinan bahwa semua penyakit dan obat berasal dari Tuhan, maka bermunajat (do’a) minta perlindungan kepada Allah s.w.t., agar dijauhkan dan dihindarkan dari mara bahaya, serta diberi kekuatan, kesabaran dan kesehatan dalam menghadapi wabah Covid-19. Selamat memperingati Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei kemarin, semoga rakyat Indonesia selalu diberi nikmat seger kewarasan oleh Allah s.w.t. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here