Ilustrasi Dr. Sholikh Al-Lamongani, M.Fil.I - (RDS/PIJARNews.ID).

PIJARNews.ID – Pandemi Covid-19 diprediksi masih lama berakhirnya, sehingga kita (masyarakat Indonesia) kemungkinan besar akan menghadapi era kehidupan baru yang disebut dengan istilah “New Normal“. Persoalannya adalah bagaimana sikap kita menghadapinya? Maka tulisan ini berusaha ingin menjelaskan sikap tersebut.

Menurut Wiku Adisasmita, Ketua Pakar Gugus Percepatan Penanganan Covid-19, new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan hidup normal, namun ditambah dengan menerapkan protokol kesehatan guna mencegah penularan Covid-19. Artinya tata pola dan relasi kehidupan akan datang di masyarakat akan mengalami perubahan dari yang sebelumnya dijalani. Sehingga akan terbangun struktur kehidupan baru. Hal ini tentu dibutuhkan sikap baru dan ikhtiar hidup baru agar dapat bertahan atau survival dalam menjalani kehiĺdupan di masyarakat.

Sebab berdasarkan prediksi dan pandangan para pakar kesehatan (dokter) dan pakar virus (epidemilogi) bahwa Covid-19 masih lama barkahirnya, kemungkinan berlangsung sekitar 1 sampai 2 tahun, itupun belum dapat dipastikan. Situasi tersebut disebabkan belum ditemukannya anti virus Covid-19 hingga saat ini, dan penyebaran kasus Covid-19 cenderung masih tinggi dan meluas dibeberapa negara belahan dunia.

Seperti di Indonesia, penyebaran Covid-19 masih menunjukkan trand tinggi dan meluas, berdasarkan data Kemkes RI tanggal 21 Mei 2020, Jawa Timur pemecah rekor tertinggi dalam sehari terdapat 500-an orang terpapar Covid-19 dan kemungkinan bisa terus bertambah, jika pola hidup masyarakat acuh tidak peduli sama sekali.

Situasi krisis di atas, sampai saat ini tidak ada satupun pakar yang berani memastikan berakhirnya pandemi Covid-19, sehingga Bapak Presiden Jokowi mengajak rakyat Indonesia  untuk “berdamai dengan corona”. Walaupun di masyarakat ditanggapi secara beragam maknanya.

Adapun untuk mencegah penyebaran Covid-19 yang semakin meluas, maka masyarakat harus tetap konsisten patuh menerapkan pola hidup sesuai protokal kesehatan yang disarankan WHO, yaitu pakai masker, jaga jarak, jauhi bergerombol, stay at home, rajin olah raga, rajin cuci tangan, makan bergizi seimbang, dan selalu berdoa kepada Tuhan minta perlindungan dari wabah Covid-19.

Kebijakan di atas, berdampak luar biasa bagi struktur masyarakat, mualai dari struktur sosial, politik, budaya, pendidikan, kesehatan, lingkungan, ekonomi dan keagamaan. Situasi perubahan struktur sosial masyarakat akibat virus Covid-19 disebut dengan istilah Sosiovirologi (istilah dari penulis). Begitu juga pada sektor ekonomi, yang paling terguncang akibat pandemi Covid-19, dimana banyak pabrik tutup, bisnis travel, pariwisata, hotel, restaurant dan sebagainya yang tutup. Dengan berhentinya sektor-sektor bisnis di atas, telah berdampak pada banyak PHK dan penganguran, sehingga tercipta juga kemiskinan massal.

BACA JUGA :  Demi Waktu

Sementara, di sisi lain, kehidupan ini harus tetap berjalan dan seimbang di semua sektor kehidupan, mulai sektor ekonomi, politik, budaya, pendidikan, kesehatan dan keagamaan, agar tidak terjadi ketimpangan atau choas di masyarakat. Realitas ini tentu sebuah pilihan sulit, tetapi harus tetap kita hadapi. Maka yang paling penting di era kehidupan baru atau new normal adalah yang berfikir tentang cara menghadapinya, bukan terus mempersoalkan Covid-19 yang sudah terjadi.

Ada beberapa tawaran yang mungkin dapat dijadikan oleh kita dalam rangka menyikapi era baru kehidupan new normal ditengah pandemi Covid-19. Usaha yang bisa kita lakukan secara konsisten menghadapi Covid-19 adalah terus melakukan dua hal, antara lain: Pertama, Ikhtiar Medis, yaitu sebuah usaha dalam rangka menghadapi Covid-19 berbasis ilmu kesehatan (medis). Contoh ikhtiar medis adalah tetap konsisten menerapkan pola hidup yang dianjurkan oleh protokol kesehatan WHO, yaitu jaga jarak, jauhi kerumunan, stay at home, pakai masker, sering cuci tangan, makan bergizi seikbang, minum vitamin, dan olah raga teratur.

Kedua, ikhtiar teologis, yaitu sebuah usaha dalam rangka menghadapi Covid-19 berbasis ilmu agama (teologis). Contoh ikhtiar teologis adalah perbayak baca Al-Quran, beribadah sholat, berpuasa, perbanyak sedekah, baca istighfar, berdo’a mohon dikasih kesehatan dan kekuatan dan dihindarkan dari wabah, sabar atau tidak muda marah, berfikir positif atau tidak gampang menggunjing orang, bertawakal kepada Tuhan, karena semua yang terjadi di alam ini adalah bagian yang tak terlepas dari qadha qodar Allah Swt.

Adapun mindsite atau cara berfikir masyarakat, kemungkinan juga terbagi menjadi dua sikap dalam menghadapi new normal ini, yaitu: Pertama, sikap fix mindsite, yaitu sikap terserah saja, tidak begitu peduli dalam menyikapi perubahan kehidupan new normal, mereka cenderung masih menggunakan pola dan kebiasaan hidup lama. Mengnggap tidak terjadi apa-apa dan Covid-19 adalah penyakit biasa. Misalkan, tidak mau pakai masker, tetap bergerombol, tidak mau up grade diri dengan perkembangan teknologi dan sebagainya.

Kedua, sikap growth mindset, yaitu sikap mampu beradaptasi, tidak menyerah, kreatif dan inovatif dalam menghadapi Covid-19. Mereka cepat beradaptasi dengan pola dan relasi hidup baru, semua persoalan terkait dampak Covid-19 dicarikan solusi kreatif dan inovatif. Semisal menerapkan pola hidup baru dengan menerapkan protokol kesehatan, pakai masker, up grade diri dengan perkembangan teknologi informasi dan sebagainya. Demikian tawaran secarik pemikiran ini, semoga kita menjadi orang-orang yang siap menghadapi era new normal, tetap optimis berdasarkan ilmu dan do’a, Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here