Ilustrasi Drs. Ahmad Zainul Arifin, M.Pd.I. (RDS/PIJARNews.ID)

PIJARNews.ID – Seiring tenggelamnya matahari di akhir Ramadhan, cakrawala digetarkan oleh lantunan pujian kebesaran dan kemuliaan Allah Swt yang keluar dari bibir orang-orang beriman dari seantero dunia. Setiap jiwa yang berserah diri kepada Allah Swt menyuarakan luapan kemenangan setelah berpuasa sebulan penuh dengan menyebut asma Allah menyongsong datangnya Idul Fitri, yang sering juga disebut hari raya kesucian, hari raya kekuatan dan hari raya kemenangan.

Kata “fitrah” mempunyai tiga arti: Pertama, fitrah mengandung arti suci. Dimaksudkan pada hari Idul Fitri para shaimin dan shaimat yang telah menyelesaikan ibadah puasa terlahir kembali bak seorang bayi yang masih suci dari noda. Kedua, fitrah berarti kekuatan, diharapkan kaum beriman yang baru saja menyelesaikan ibadah puasa tampil dengan kekuatan baru berupa potensi dan semangat kemanusiaan yang dinamis. Dan ketiga, fitrah berarti kemenangan, yakni kemenangan kaum beriman yang telah berlatih sebulan penuh melakukan imsak atau pengendalian diri menjadi pemenang tarhadap dorongan hawa nafsu yang mengajak pada hal yang munkar dan bersifat destruktif.

Din Syamsuddin (SM, edisi 13/99 tahun 2014) menyampaikan bahwa hakekat puasa dan ibadah-ibadah Ramadhan lainnya adalah imsak atau pengendalian diri dari kecenderungan – kecenderungan negatif dalam diri. Dan sebagai konsekuensi penciptaannya manusia memiliki dua dorongan dalam dirinya, yaitu dorongan hidayah kearah kebenaran dan kebaikan, dan dorongan hawa nafsu yang selalu mengajak pada kebatilan dan keburukan.

Dari dua dorongan yang cenderung bertentangan itulah munculnya problema mendasar yang dihadapi manusia. Problem ambivalensi diri itulah yang sering membawa manusia berada dipersimpangan jalan. Dan imsak melatih manusia memiliki kemampuan untuk mengatasi problematika tersebut dengan memenangkan kecenderungan positif atas kecenderungan negatif.

Keberhasilan seseorang dalam mengatasi problema ini akan membawa dirinya pada fitrah kemanusiaan sejati, yaitu kepribadian paripurna yang dihiasi budi mulia. Dan sebaliknya, kegagalannya akan mendorong seseorang terjatuh ketitik nadir dari kemanusiaannya, yaitu ketika diri menjadi hina karena diliputi dosa dan nista.

Ramadhan ibarat kawah candradimuka, ibadah-ibadah di dalamnya merupakan pelatihan intensif yang mengantarkan manusia menuju insan peripurna, insan Muslim yang memiliki watak kemuliaan, watak yang positif, dinamis, progresif dan responsif terhadap masalah-masalah disekitarnya. Watak yang cenderung berbuat baik tidak saja pada dirinya tetapi juga kepada sesama manusia dan alam semesta.

Dari diri insan paripurna tercipta amal shalih yaitu karya – karya kebajikan yang mengandung kemaslahatan. Dari insan paripurna terlahir keshalihan individu dan sosial sekaligus, karena insan paripurna mampu memadukan secara seimbang kualitas hubungan vertikalnya dengan Sang Pencipta dan hubungan horizontalnya dengan sesama manusia.

Insan paripurna adalah pribadi bertaqwa, yang minimal memiliki tiga kompetensi, yakni kedalaman keimanannya kepada Allah Swt, ketinggian peribadatannya kepada Allah Swt dan keluasan infaq untuk membantu/ meringankan beban sesama manusia (QS. Al-Baqoroh : 2-3). Dengan demikian, insan paripurna merupakan embrio bagi terwujudnya masysarakat utama yang dalam bahasa al-Qur’an disebut khaira ummah.

Predikat sebagai khaira ummah menuntut adanya keunggulan-keunggulan yang harus dimiliki dalam berbagai aspek kebudayaan dan peradaban. Sebagaimana pernah diraih ummat Islam pada abad pertengahan. Pada saat itu ummat Islam menjadi pioner dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Ummat Islam berhasil menemukan dan mengembangkan berbagai cabang ilmu pengetahuan dan filsaf yang merupakan pilar bagi suatu peradaban tinggi. Ummat Islam menjadi pemegang supremasi peradaban dunia.

BACA JUGA :  Berapa Jumlah Temanmu?

Rupanya kejayaan peradaban itu tidak berlangsung selamanya. Bak gelombang lautan terjadilah pasang surut. Demikian pula peradaban Islam, setelah mencapai puncak dia mengalami stagnan bahkan kemunduran. Ummat Islam terjatuh kedalam tiga masalah sekaligus yaitu kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Walaupun banyak negara Islam yang mempunyai sumber daya alam yang kaya namun tidak didukung dengan sumber daya manusia yang berkualitas.

Dunia Islam tidak memiliki ilmuan yang cukup dan kurang memiliki pusat-pusat keunggulan akademik, sehingga dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi ummat Islam nyaris sebagai konsumen bukan produsen. Fenomena serupa juga terjadi di Indonesia. Ummat Islam yang merupakan bagian terbesar dari bangsa ini belum mampu menampilkna peran terbesarnya. Rendahnya infrastruktur sosial, ekonomi dan pendidikan menjadi masalah yang dihadapi ummat Islam Indonesia. Kesenjangan antara idealitas Islam dan realitas kehidupan ummat Islam adalah masalah yang harus dihadapi.

Banyaknya lembaga pendidikan yang dikelola ummat Islam yang belum sepadan dengan mutu dari lembaga-lembaga pendidikan tersebut merupakan contoh problema dalam bidang pendidikan. Dalam bidang ekonomi, Islam yang masuk ke Nusantara dibawa oleh para da’i pedagang yang kemudian ikut mempengaruhi terbentuknya kelas menengah Islam yang relatif berjaya kemudian membentuk sentra-sentra perekonomian ummat di beberapa daerah kini terpuruk dan belum mampu bangkit kembali. Perbaikan taraf hidup ekonomi masyarakat masih jauh dari harapan. Angka kemiskinan masih tinggi, demikian pula pengangguran.

Memang dalam bidang ekonomi kita patut bersyukur karena mampu kelur dari krisis, namun fenomena kemiskinan ini menampilkan ironi bagi bangsa Indonesia yang kaya akan sumber daya alam. Bagaikan ayam mati dilumbung padi. Mengapa bisa terjadi? Jawabnya cukup jelas, bahwa pengelolaan sumber daya alam yang ada di perut bumi, di atas tanah dan di dalam lautan Indonesian lebih banyak menguntungkn pihak luar negeri dari pada kesejahteraan rakyat sendiri.

Demikian halnya dalam bidang politik, demokrasi di Indonesia patut mendapat apresisasi, khususnya dalam hal proses pemilihan langsung kepala daerah sampai kepala negara. Meskipun prestasi ini bukan tanpa cela dan harus dibayar mahal. Memang demokrasi Indonesia masih bersifat prosedural belum substansional dalam mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat. Kita tidak mungkin memutar arah jam sejarah ke arah otoritarinisme politik, akan tetapi kita juga tidak boleh tinggal diam membiarkan proses demokrasi berjalan liar tanpa kendali.

Karenanya proses demokrasi ini perlu mendapat koreksi dengan mensenyawakan nilai-nilai etika dan moral politik berdasarkan agama dan budaya luhur bangsa. Arus demoralisasi yang melanda kehidupan bangsa ini tidak cukup hanya disadari sebagai ancaman bagi eksistensi bangsa, namun harus ada upaya untuk menghalangi dan mengatasinya. Ummat Islam dapat tampil memberi solusi. Sebagai bagian terbesar ummat Islam harus merasa memiliki tanggung jawab untuk mengatasi masalah yang dihadapi bangsa ini.

Ummat Islam harus mampu tampil sebagai salah satu faktor determinan Indonesia. Maju mundurnya bangsa Indinesia dimasa depan harus ikut ditentukan oleh maju mundurnya ummat Islam. Sebagai insan paripurna harus tetap optimis bahwa bangsa Indonesia akan dapat bangkit merebut kemajuan dan keunggulan. Keadaan kita di masa depan sangat ditentukan oleh kemampuan kita untuk merubah diri sendiri dan melakukan perubahan pada masyarakat dan bangsa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here