Hendra Hari Wahyudi (RDS/PIJARNews.ID)

PIJARNews.ID  – “The New Normal Life” sudah menjadi wacana pemerintah Indonesia sejak beberapa waktu yang lalu, yakni kembali pada aktivitas biasa dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19 dalam masyarakat. Hal ini dapat kita lihat akan dibukanya tempat ibadah atau tempat-tempat umum, seperti pasar atau mall yang meskipun masih adanya beberapa daerah dengan status zona hitam.

Pertanyaannya, apakah dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, kita akan menemui kehidupan normal yang baru? Atau justru sebelumnya kita belum benar-benar hidup dalam keadaan normal?

Pandemi Mengubah Kehidupan

Sejak hadirnya virus korona di Indonesia untuk pertama kalinya, masyarakat banyak yang panik, terlihat gugup ketika kedatangan tamu tak diundang ini. Namun ada pula yang nampak santai dan tenang bahkan cenderung menganggap enteng, dimana masih banyaknya masyarakat yang berkeliaran di tempat-tempat umum tanpa memakai masker dan menjaga jarak, bahkan saat awal-awal terdeteksinya kasus pertama Covid-19 pada bulan Maret 2020 lalu oleh pemerintah.

Hal ini membuat beberapa warga yang panik tadi memborong beberapa bahan makanan dan juga alat kesehatan seperti masker, sehingga harga masker melonjak naik dan menyebabkan kelangkaan. Virus korona pun semakin menyebar ke berbagai daerah bahkan sampai masuk ke pelosok pedesaan, sehingga membuat pola hidup masyarakat berubah dari sebelum adanya korona.

Tak hanya kerja dan dunia pendidikan yang berubah, dalam hal beribadah pun turut beradaptasi dengan kondisi. Dimana adanya peniadaan Salat berjamaah di Masjid, seperti Salat Fardhu dan juga Salat Tarawih, karena sudah memasuki bulan Ramadan. Larangan mudik hingga Salat Idulfitri pun banyak yang meniadakan, guna menjaga keselamatan dan memutus rantai penyebaran Covid-19.

Sungguh banyak sekali perubahan akibat adanya virus korona yang kini sudah terdapat lebih dari 30 ribu kasus di Indonesia, kehadirannya pasti menyisakan banyak pelajaran dan hikmah bagi manusia. Kini, beberapa negara sudah mampu bangkit dari keterpurukan akibat Covid-19 seperti China, dengan memulai kehidupan dengan penerapan protokol kesehatan, inilah yang disebut sebagai “New Normal”.

Tak terkecuali Indonesia, pemerintah terlihat sudah meninjau kesiapan tempat-tempat ibadah dan ruang publik lainnya untuk melihat persiapan “New Normal”. Namun, apakah sebelum adanya pandemi ini hidup kita sudah benar-benar normal? Ataukah selama ini kita masih hidup dalam keadaan abnormal?

New Normal yang Sesungguhnya

Sebelum adanya pandemi, kehidupan kita berjalan sebagaimana biasanya, kita bisa bekerja, sekolah, dan melakukan aktivitas lainnya, baik yang berfaedah ataupun un-faedah. Kenapa ada istilah un-faedah (tidak bermanfaat) disini? Karena sebelum adanya pandemi, masih banyak orang yang melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi kehidupan orang banyak, seperti korupsi, mencuri, nge-prank, dan perbuatan yang tidak baik lainnya. Maka, bisa dikatakan sebelum adanya pandemi Covid-19 datang, bisa jadi kita hidup dalam keadaan yang ‘abnormal’ atau kurang normal.

Kenapa? Ya tadi, masih banyak orang yang ‘gila’ dunia, jabatan, sehingga melupakan hakikat dari hidup serta bagaimana menjadi manusia yang berfaedah bagi sesamanya. Maka, kehidupan yang masih banyak kejahatan dan kemaksiatan, bisa jadi hidup kita sebenarnya belum normal. Hidup yang normal yang mungkin pas dan bisa dikatakan normal ketika korupsi sudah menjadi kasus yang langka, cuci tangan atas kesalahan sudah tidak ada, bahkan cuci tanggungjawab sudah tidak dilakukan oleh mereka yang mempunyai tanggungjawab sesuai kapasitasnya.

BACA JUGA :  Dibagikan Gratis, Minuman Sehat Racikan Dapur Umum di Madura

Hal ini bahkan sudah menjadi hal wajar, ketika kemungkaran berada ditengah-tengah kita, apa karena sudah sering hingga menjadi hal yang biasa karena menjadi kebiasaan oleh mereka yang suka bermaksiat? Maka, sesungguhnya yang melanda negeri kita adalah krisis akhlak, apalagi kejahatan sekarang bukan hanya secara manual (secara langsung, fisik), tetapi juga virtual (cyber crime). Membuat masyarakat digital pun harus turut berhati-hati dan bijak, terutama dalam bermedia sosial. Karena salah sedikit saja akan menjadikan delik, oleh karenanya perlu edukasi dalam bersosial media.

Kembali pada kehidupan normal, kehidupan normal baru sejatinya ketika keadilan ada di dalam kehidupan kita, yang menyeluruh didapatkan oleh setiap manusia. Sebagaimana yang sering kita lihat di dalam berita, masih banyak ketimpangan dalam kehidupan masyarakat, seperti belum adanya aliran listrik di rumah atau wilayah, dan sebagainya. Maka, dengan minimnya tindak kejahatan, mulai dari pembunuhan, pencurian, korupsi, dan sejenisnya akan menjadikan kehidupan kita lebih sejahtera dan nyaman.

Tidak ada masyarakat yang bermaksiat seperti judi dan tindakan un-faedah lainnya, inilah yang akan membuat kehidupan normal kita akan benar-benar “New Normal”, sehingga tidak ada hal yang dapat merugikan orang lain. Menurut catatan, angka kriminalitas di tahun 2019 cenderung menurun dibanding tahun sebelumnya, sebagaimana yang pernah dilansir oleh  Vivanews.com (28/12/2019). Namun, saat pandemi kejahatan justru meningkat (Liputan6.com), mungkin akibat banyaknya mereka yang mendapat PHK, atau imbas dari adanya Covid-19.

Oleh karenanya, The New Normal Life yang akan dicanangkan pemerintah, harus diikuti dengan ketegasan hukum, lalu mengutamakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kemudian semakin sadarnya masyarakat akan pentingnya kesehatan dengan menerapkan protokol, diimbangi juga dengan kesadaran akan kepedulian terhadap sesama. Jika kepedulian itu ada, maka kejahatan akan bisa ditekan. Sebagaimana sila kedua dalam Pancasila, “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”.

Maka, mari kita sambut wacana new normal dengan mengedepankan protokol kesehatan demi menjaga diri kita dan keluarga. Dengan harapan, new normal yang dicanangkan diikuti dengan adanya kesadaran dari masyarakat, serta para pemangku kebijakan untuk lebih dan semakin peduli kepada rakyatnya.

Harapan sesungguhnya, bukan hanya Covid-19 yang harus hilang dari negeri ini, tetapi juga kejahatan korupsi, pengrusakan lingkungan dan lain sebagainya. Kita selalu optimis akan bisa hidup dengan normal, penuh kebaikan, meski kejahatan meski mungkin ada tetapi jika kita mampu menahan diri serta selalu mengingat Sang Maha Pencipta, maka bentuk kejahatan apapun akan dapat kita cegah.

Sehingga kita dapat hidup dengan nyaman, dan “The Real New Normal Life” dapat benar-benar kita rasakan. Jika Covid-19 bisa membuat perubahan dalam masyarakat, maka perilaku abnormal dan unfaedah seperti korupsi dan lainnya, semoga juga bisa berubah setelah pandemi.

Editor: Ahmad

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here