Ilustrasi Suprayetno. (RDS/PIJARNews.ID)

PIJARNews.ID – ‘Buta’? Sejak kapan Muhammadiyah buta? sejak jauh sebelum berdiri dan bahkan sejak masih embrio, ‘Muhammadiyah itu buta’. Muhammadiyah bergerak, berdakwah dalam konteks Islam yang luas, dan mendasar. Apa itu? Di awal pergerakannya ketika Muhammadiyah masih berupa embrio, sudah konsen bergerak dalam memberikan makan kepada fakir miskin, memberi ruang belajar-mengajar kepada kaum yang terpinggirkan dan jauh dari akses yang bernama “belajar”. Ya, memang pada waktu itu Indonesia masih jauh dari kata merdeka, bahkan sumpah pemuda pun belum diikrarkan.

Berlandaskan suatu pemahaman terhadap sepenggal ayat dalam surat Ali-Imron 104 dimana Allah S.w.t. berfirman: “Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeruh kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan itulah orang-orang yang beruntung”.

Ayat diatas yang kemudian oleh K.H. Ahmad Dahlan dijadikan dasar pergerakan itu, yang intisarinya adalah orang yang beruntung adalah yang menyeruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dan bahkan disuatu cerita yang lain, sejarah juga menyebutkan sebuah cerita dimana¬† salah satu santri K.H. Ahmad Dahlan sempat protes karena berulang-ulang hanya diajarkan surat Al-Ma’un, dimana maksud dari sang kyai yaitu K.H. Ahmad Dahlan adalah santrinya memahami bukan sekedar ayat dan arti, tapi memahami dalam konteks aplikasi (praktek).

Di dalam surat Al-Ma’un disenyebutkan: 1. Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?; 2. Maka itulah orang yang menghardik anak yatim; 3. Dan tidak mendorong memberi makan orang miskin; 4. Maka celakalah orang yang sholat; 5. (Yaitu) orang-orang yang lalai dalam sholatnya;¬† 6. Yang berbuat riya’; 7. Dan enggan (memberikan) bantuan.

Tafsir-tafsir dalam surat tersebut yang saat ini kita sering menyebutnya kaidah Al-Ma’un, semangat Al-Maun, gerakan Al-Ma’un, dst. Di dalam ayat tersebut disebutkan “mendustakan agama”, sehingga K.H. Ahmad Dahlan mengajarkan kepada santri-santrinya saat itu untuk tidak menjadi pendusta dalam beragama.

Namun saat ini jika dikaji lebih jauh lagi, miskin (lapar) adalah bukan sekedar soal makan, akan tetapi orang yang membutuhkan pertolongan, baik itu informasi, pengetahuan, tertimpa bencana, orang yang tersesat, semua adalah orang yang didefinisikan miskin (lapar). Maka wajib bagi kita sebagai umat beragama untuk menolong mereka yang lapar tadi, supaya kita tidak termasuk orang-orang yang mendustakan agama seperti yang disebutkan dalam Al-Ma’un tersebut.

Saat itulah (embrio) Muhammadiyah telah buta. Kemudian K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Masjid (Langgar) kidul yang sampai sekarang menjadi saksi perjuangan sekaligus sejarah pergerakan dalam mencerdaskan umat, yang kemudian pergerakan itu diberi nama “Muhammadiyah”.

Baru kemudian dibangunlah sekolah, panti asuhan, rumah sakit hingga gerakan filantropi yang diprakarsai oleh Haji Muhammad Syuja’ atau lebih dikenal kyai Syuja’, yang pada saat gunung kelud meletus pada 1919 sang kyai bersama santri-santri dengan segala daya dan upaya untuk menolong korban bencana alam tersebut, dan tercatat sebagai gerakan filantropi pertama di Indonesia.

BACA JUGA :  Literasi Digital Sebagai Penangkal Berita Hoaks Para Buzzer

Kemudian baru pada 1920 lahirlah majelis PKU (penolong kesengsaraan umum). Dan hari ini Muhammadiyah semakin buta dengan mendirikan sekolah-sekolah hingga perguruan tinggi bahkan di Papua yang mahasiswanya lebih dari 90% adalah nasrani, belum lagi rumah sakit-rumah sakitnya yang tersebar di banyak tempat, melayani seluruh umat manusia tanpa memandang sukur, ras, agama yang bahkan tidak jarang selain menolong sekaligus menanggung biayanya alias gratis.

Lalu melalui LPB Muhammadiyah menolong dari ujung timur hingga barat, dari papua, NTT, NTB hingga Aceh, bahkan bencana di luar negeri Muhammadiyah hadir (melalui EMT atau emergency medical team yang jika saja tidak terhalang pandemi Covid-19 sedang diverifikasi oleh WHO dan menjadi EMT pertama di Indonesia yang bahkan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) belum sampai pada tahap itu, Muhammadiyah sudah leading, dan sekali lagi dalam aksinya tak memandang suku, ras, dan agamanya, yang semakin membuat kebutaan Muhammadiyah semakin kronis.

Selain ‘buta’, ternyata Muhammadiyah juga ‘tuli’, apakah Muhammadiyah memang tuli? Kadang pertanyaan itu muncul tapi apapun itu biarlah karena bahkan berperan untuk menjadi tuli juga perlu intelegensia (IQ). Hinaan, cacian, dst., telah sejak lama dialami oleh Muhammadiyah bahkan sejak sekolah pertama Muhammadiyah didirikan, dianggap sebagai sekolahnya orang kafir, tapi dasar tuli, ya tetap aja bergerak.

Apakah berhenti disitu, tentu saja tidak! Dicap sebagai wahabi bahkan anti NKRI juga sering, disinilah letak hikmah sekaligus pentingnya “tuli” dalam Muhammadiyah. Karena dengan kronisitas ke-tuli-an Muhammadiyah bisa lebih fokus dalam pergerakan, energi menjadi lebih efisien untuk pergerakan, dan tidak terbuang percuma untuk berdebat dan klarifikasi.

Kemudian apakah yang disandang Muhammadiyah selain buta dan tuli? Kronisitas Muhammadiyah selanjutnya adalah “bisu”. Meskipun dalam konteks kekinian sepertinya harus belajar berbicara walaupun akan sulit, akan tetapi minimal sekedar bersuara yang dalam konteks kekinian, bersuara tidak harus secara verbal, tapi berupa tulisan dsb.

Ada sebuah cerita dalam suatu respon bencana nasional, ketika banyak organisasi/lembaga sibuk membuat laporan berisi foto-foto relawan dengan memajang banner, foto-foto dengan para penyintas, tapi teman-teman relawan Muhammadiyah hanya menampilkan foto-foto bangunan roboh, kerusakan fasilitas umum, dll., dalam lampiran laporannya. Sampai-sampai ada guyonan khas jawa timur-an “Muhammadiyahmu iku kenemenen (Muhammadiyah kamu itu keterlaluan)”, disambut tawa sesama relawan.

Kedepan, sepertinya Muhammadiyah harus belajar berbicara, sehingga cukup kronisitas Muhammadiyah hanya buta dan tuli saja tidak perlu bisu, sebab kebutaan Muhammadiyah sudah cukup sebagai jawaban dari ketulian Muhammadiyah. #fastabiqulkhairat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here