Aksi Mahasiswa di halaman gedung rektorat UIN Walisongo. (Fauzi/PIJARNews.ID)

SEMARANG, PIJARNews.ID – Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang melakukan demonstrasi dalam rangka menuntut rektorat UIN Walisongo yang tidak memberikan keringanan uang kuliah tunggal (UKT) kepada mahasiswanya, Kamis (18/6/2020) pukul 15.00 WIB.

Sebelumnya mahasiswa sempat membuka paksa pintu gerbang kampus yang dijaga ketat oleh beberapa personel keamanan kampus, sebelum akhirnya berhasil merangsek masuk ke halaman depan gedung rektorat. Selain itu mahasiswa juga melakukan demonstrasi secara virtual. Yaitu dengan membuat tagar #uinwalisongomelawan di media sosial Twitter hingga pukul 23.00 WIB, dengan lebih dari 17,3 ribu tweet.

Kekesalan nampaknya dirasakan oleh pemilik akun @mbakpur_, ia menuliskan di Twitternya “Kampus rakyat rasa konglomerat. Pie nasibku sing sebatas proletariat”, cuitya.

Komentar apresiasi juga diberikan oleh akun lain, “Bukan maksud membuat keramaian ditengah pandemi. Tapi yakali diam saja ditengah ketidakjelasan pendidikan gini? Sebuah bentuk penghormatan tinggi untuk teman2ku yg mau aksi. Panjang Umur Gerakan Mahasiswa!”, kicau @SDesycaa.

Pelampiasan kekesalan juga datang dari pemilik akun @MSyukronHidaya1, “Kawan-kawanku semuanya, lihatlah dan fokuskan pandangan kalian, kampus bahkan Negara jelas tidak berpihak kepada rakyatnya, ukt yg kita bayar full tidak sebanding dengan ilmu yang kita dapat. Bicaralah dan teriaklah, lawan penindasan ini!!!”, tulisnya.

Pernyataan yang Tidak Digubris

Dalam “Siaran Pers Koalisi Indonesia Status Darurat Bencana Nasional Non-alam: UKT Harus Disesuaikan” yang dirilis pada Kamis (11/6/2020) di Jakarta, mengacu pada surat yang dikeluarkan Dirjen Dikti No. 302/E.E2/KR/2020 tertanggal 31 Maret 2020, yang salah satu isinya mengimbau perguruan tinggi menggunakan penghematan biaya operasional selama pembelajaran dari rumah untuk membantu mahasiswa.

Namun melihat perkembangan kondisi mahasiswa dari pengaduan-pengaduan yang masuk kepada Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dan BEM/DEMA/SEMA Se-Jateng termasuk di dalamnya Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Walisongo tampaknya tidak cukup, melainkan perlu sebuah kebijakan untuk mengurangi hingga membebaskan UKT sesuai dengan kondisi mahasiswa.

BACA JUGA :  MDMC Bojonegoro Siap Semprot Cairan Disinfektan di Seluruh Wilayah Kabupaten

Karenananya, Lembaga Bantuan Hukum dan BEM/DEMA/SEMA Universitas Se-Jateng menuntut dua hal:

  1. Pemerintah perlu membuat kebijakan nasional memerintahkan kampus-kampus di seluruh Indonesia untuk mengurangi hingga membebaskan UKT sesuai dengan kondisi [perekonomian] mahasiswa.
  2. Pendidikan tinggi di seluruh Indonesia hendaknya memberikan keringanan hingga membebaskan UKT sebagai kebijakan mandiri tanpa menunggu adanya kebijakan secara nasional dari pemerintah.

Namun, surat pernyataan itu nyatanya tidak digubris oleh kampus. Rektorat tidak memberikan keringanan pembayaran UKT di tengah pandemi. Hingga seminggu kemudian tepat pada hari Kamis (18/6), mahasiswa UINWS menggelar aksi menggugat rektorat untuk segera mengambil tindakan tegas sesuai dengan apa yang telah tertera pada surat pernyataan tersebut.

Dicari Mahasiswa, Rektor justru Hengkang dari Kampus

Walaupun pada akhirnya mahasiswa dipersilakan masuk ke ruang rapat untuk audiensi, akan tetapi mahasiswa harus menerima kenyataan getir bahwa Rektor UINWS Prof. Imam Taufiq hengkang dari kampus. Perihal sikap yang diambil oleh rektor, lagi-lagi pemilik akun @MSyukronHidaya1 menyayangkan sikap tersebut.

“Pak Rektor kemana nih? Mobilnya parkir di sini, mending kasih hadiah saja lah. Ucap salah satu massa aksi. Eh jebule Pak Rektor kabur lewat pintu belakang. Haish, pintar sambutan tapi gagap audiensi. Cimin”, kicaunya.

Akhirnya beberapa mahasiswa memilih untuk bermalam di gedung rektorat, berharap esok hari UINWS 1 bersedia mendengarkan seluruh aspirasi dan memenuhi keinginan segenap mahasiswanya.

Editor: Afrizky Fajar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here