Ilustrasi oleh RDS/PIJARNews.ID.

PIJARNews.ID – Kehadiran manusia di muka bumi ini mempunyai berbagai macam tujuan. Ada yang hadir untuk memberi manfaat, dan ada juga yang hanya memanfaatkan. Namun, terlepas dari itu, manusia sering lupa tujuan utama mereka kenapa diciptakan.

Allah SWT berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56). Dari firman tersebut jelaslah tujuan dari hidup setiap manusia, yaitu hanya beribadah kepada-Nya.

Adapun ibadah ini tentunya beragam caranya untuk menggapai ridho Allah. Ada ibadah yang sudah ditentukan rukun dan syaratnya, seperti sholat, zakat, puasa dan haji. Ada pula ibadah yang tidak terikat dengan rukun dan syaratnya seperti pekerjaan atau profesi yang manusia lakukan, asalkan dengan tujuan untuk menggapai ridho Allah SWT, maka itu bernilai ibadah.

Hal Baik bisa Bernilai Ibadah

Setiap orang mempunyai profesi dan tugas yang berbeda-beda sesuai kapasitas dan kemampuannya. Dengan profesi itu, bisa bernilai ibadah jika dilandasi dengan keimanan. Semisal, guru saat mengajar bisa bernilai ibadah ketika guru memberikan pelajaran, wawasan, dan juga teladan yang baik bagi muridnya. Petani yang menanami sawah ladangnya akan bernilai ibadah, ketika ia tak merusak lingkungan ataupun lahan tetangganya.

Begitupula dengan amanah yang diemban diluar profesi yang menjadi mata pencaharian. Seperti amanah menjadi panitia suatu kegiatan atau menjadi seorang pemimpin. Tentunya pimpinan di suatu organisasi atau lembaga diluar profesi atau pekerjaan.

Ketika ia mampu menjalankan amanahnya dengan ikhlas tanpa mengharap imbalan akan bernilai ibadah dan pastinya akan memanen hasilnya kelak di akhirat. Namun sebaliknya, apabila tidak ikhlas menjalankan amanah itu maka, akan sia-sia yang ia lakukan, atau bahkan akan mendapatkan dosa.

‘Hama’ Organisasi

Dalam berlembaga atau berorganisasi tentunya tidak semua yang diberi amanah, akan menjalankan amanahnya dengan baik. Ketika ada yang tidak menjalankan amanahnya dengan baik, maka manjadi kerikil ataupun benalu yang menggerogoti tubuh lembaga ataupun organisasi tersebut. Dan sudah sepantasnya jika hama atau benalu itu dibasmi.

Terkadang keberadaan hama tersebut sulit terdeteksi. Namun coba kita perhatikan pepatah berikut, “Sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh juga”. Mereka yang hanya memanfaatkan jabatan atau posisinya saja, tidak akan mampu memberi hasil yang memuaskan. Kinerjanya akan lemah dan berdampak pada perkembangan organisasi tersebut.

Ketika imannya ‘cetek’ (dangkal, rendah), dan mindsetnya hanya berorientasi pada materi (uang), potensi korupsi akan terjadi. Hal ini pun akan menjadi momok yang menakutkan dan bisa menjangkiti siapapun yang minim integritas. Sehingga yang perlu dilakukan adalah pembasmian, kalaupun tidak pada orangnya, paling tidak pada tindakannya.

Nama besar suatu organisasi yang dibangun melalui berbagai proses yang panjang dan berliku, akan sirna dan lenyap begitu saja ketika tindakan, moral dan akal pimpinan atau pengurus sudah tidak amanah. Mereka sudah memiliki ataupun melakukan korupsi, ataupun penyelewangan lainnya. Apalagi ketika sudah terlihat dan jelas salah, mereka masih mencari kambing hitam atas kesalahannya.

Ini tidak hanya kelakuannya yang rusak, bisa jadi pikiran dan hatinya juga sudah rusak parah. Maka, membasmi hama-hama ini perlu dilakukan agar lembaga atau organisasi bisa berkembang subur dan makmur, agar tidak menggerogoti khittah perjuangan.

Diperlukan ‘Pahlawan’

Ketika hal itu semua terjadi, seperti penyalahgunaan jabatan, wewenang dan pemanfaatan suatu organisasi atau lembaga, maka harus ada “Pahlawan” yang harus membasmi hama-hama tersebut. Mungkin “Si Hama” akan menyeletuk “Sok jadi pahlawan!”. Itu memang wajar dan alami, ketika ada penjahat, maka akan muncul sosok pahlawan. Kalau saja tidak ada pahlawan, maka kerusakan akan semakin melanda dan mewabah.

BACA JUGA :  Buya Syafii Maarif, Dedikasi Tiada Henti Menyemai Kebudayaan dan Kemanusiaan untuk Negeri

Di sisi lain, tidak sedikit mereka yang mempunyai jabatan atau posisi strategis dalam suatu lembaga atau organisasi, yang harusnya ia bisa jadi pahlawan, malah memilih menjadi penjahat yang menyakiti tubuh lembaga atau organisasi tersebut. Mereja mengira semua akan dapat dikelabuhi dan bisa memanipulasi pertanggungjawaban dari apa yang ia pimpin. Allah Ta’ala berfirman, “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al Qiyamah: 36).

Dari firman di atas, mungkin saja mereka “Si Hama” akan bisa menghindar dari pengadilan dunia, namun mereka tak kan bisa lari dari pengadilan dari Sang Maha Adil. Akan tetapi, seandainya mereka mempunyai keimanan yang kokoh dan tidak tergoda dengan dunia, maka mereka tidak akan melakukan kejahatan yang dapat merugikan orang banyak.

Dan dengan keimanan mereka, mereka sudah memahami jika hidup ini hanya mainan baginya, maka mereka tidak akanmempermainkan orang banyak. Allah Ta’ala berfirman, “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mu’minun: 115).

Firman di atas menceritakan jika hidup ini adalah permainan, namun dari permainan itu semua akan dimintai pertanggungjawaban. Sesuai peran dan posisi kita dalam permainan tersebut. Seperti kata istilah “Urip mung mampir ngombe” (hidup cuma mampir minum). Dalam artian tidak lama kita akan dipanggil juga oleh Sang Maha Kuasa, dan mempertanggungjawabkan atas apa yang kita lakukan di dunia. Dan ikut membasmi “hama” dalam tubuh organisasi, karena keburukkan kelakuan atau pola pikirnya, maka itu merupakan jihad dalam rangka mencegah suatu kemungkaran.

Basmillah dengan Basmallah

Jika kemungkaran terjadi disekitar kita, di organisasi, lembaga, ataupun lainnya. Maka, “basmillah dengan basmallah”. Maksudnya adalah kita mengatasi masalah tersebut sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah. Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman’.” (HR. Muslim).

Adab dan akal (ilmu) adalah cara untuk mencegah atau mengatasi kemungkaran tersebut, sehingga apa yang kita lakukan untuk menyelamatkan organisasi, lembaga, ataupun lainnya dengan dakwah bil hikmah. Allah SWT berfirman, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; Sesungguhnya merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).

Untuk itu jangan sampai kita diam atau mendiamkan ketika kemungkaran itu terjadi. Apalagi hal itu bisa merusak kehidupan suatu lembaga atau organisasi yang melibatkan orang banyak. Karena “Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan”, begitu kata Soe Hok Gie.

Maka, mari kita kita menjadi pahlawan untuk membasmi hama-hama, benalu, dan parasit yang hanya ingin menggerogoti tubuh organisasi ataupun lembaga. Basmillah dengan basmallah, “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang”, dalam artian dengan dakwah serta dengan cara yang baik.

Editor: Suhartatok

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here